Siapapun yang mengikuti perkembangan berita pastinya cukup mahfum dengan peritiwa pembatalan kunjungan SBY ke Belanda seusai memimpin puncak peringatan HUT ke-65 TNI, 5 Oktober 2010.
Hanya beberapa saat sebelum pesawat tinggal landas tiba-tiba terjadi perubahan yang berujung pada pembatalan keberangkatan kunjungan resmi kenegaraan yang konon katanya sudah direncanakan sejak tahun 2007. Entah karena terinspirasi oleh Obama yang dua kali membatalkan kunjungannya ke Indonesia, SBY jadi latah ketularan -copycat- melakukan pembatalan juga.
Namun seusai adanya kepastian pembatalan keberangkatan, bertempat di ruang VVIP Room Bandara Halim Perdanakusuma, SBY langsung menggelar jumpa pers yang sempat diwarnai insiden “mic”. Dalam pidatonya SBY dengan jelas menyatakan bahwa alasan pembatalan terkait dengan digelarnya persidangan di Den Haag yang menerima permohonan RMS (Republik Maluku Selatan) untuk menggelar sidang pelanggaran HAM dengan tuntutan menangkap Presiden RI saat berada disana, “Ini menyangkut harga diri kita sebagai bangsa,” demikian pernyataan SBY.
Alasan tersebut kontan saja menyulut polemik di berbagai media massa seantero negeri termasuk juga media massa Belanda. Bagaimana tidak, sebuah kunjungan resmi kenegaraan yang sudah direncanakan sejak tahun 2007 tiba-tiba harus dibatalkan oleh sebuah manuver politik recehan kelas kutu kupret yang dilakukan oleh sebuah organisasi abal-abal sekelas RMS.
Berkat pembatalan tersebut, banyak media massa yang kemudian merasa perlu untuk melengkapi liputannya dengan mengungkap dan mengulas lebih jauh tentang profil RMS yang bisa membuat seorang SBY kebakaran jenggot sampai-sampai mengambil keputusan untuk membatalkan kunjungan kenegaraannya ke Belanda. Dalam hal ini RMS tentunya harus berterima kasih kepada SBY yang sudah memberikan efek gimmick luar biasa besar dan promosi gratis terhadap RMS di berbagai media massa akibat sikap reaksioner dan emosional yang diambil oleh SBY.
SBY berkontribusi besar terhadap munculnya kembali eksistensi RMS. RMS yang tadinya terlupakan jadi diingat kembali, bahkan yang tadinya tidak tahu menjadi tahu apa itu RMS. Parahnya lagi, RMS yang tadinya bukan apa-apa sekarang menjadi sesuatu yang penting. RMS yang cuma serpihan kecil dari sejarah masa lalu negeri ini sekarang menjadi sesuatu yang up to date lagi. Ini semua berkat SBY.
Lepas dari itu, pembatalan sebuah kunjungan kenegaraan bukanlah sebuah hal yang luar biasa walau juga tidak berarti itu adalah sesuatu yang lazim dilakukan dengan mempertimbangkan secara mendalam dan komprehensif berbagai aspek hubungan bilateral antar negara yang akan berpengaruh pada masa depan hubungan kedua negara. Pada konteks kebijakan politik luar negeri Indonesia baik bilateral maupun multilateral, maka harga diri bangsa seharusnya ditempatkan dalam semangat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara bangsa lain demi mewujudkan perdamaian dunia atas dasar nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Kasus RMS dalam hal ini tentulah diluar konteks tersebut diatas, sikap SBY membatalkan kunjungannya ke Belanda menjadi sesuatu yang out of context dan tidak relevan.
Paradoks dengan kasus insiden Malaysia-Indonesia yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Pernyataan yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia seharusnya dipandang sebagai sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan semangat Indonesia untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara bangsa lain demi mewujudkan perdamaian dunia atas dasar nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Namun sebaliknya dalam menyikapi kasus tersebut SBY malah bersikap lembek sama sekali tidak menunjukkan ketegasan yang mencerminkan harga diri kita sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan bermartabat.
Terkait dengan kunjungan SBY ke Belanda, banyak kalangan justru berharap ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam hubungan bilateral Indonesia-Belanda mengingat sejatinya masih ada masalah fundamental yang selama ini belum tertuntaskan. Belanda yang selama ini tidak mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 (Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia adalah 27 Desember 1949 sesuai dengan hasil Konperensi Meja Bundar), pada akhirnya bersedia memberikan pengakuan resmi terhadap kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang rencananya akan disampaikan pada saat kunjungan SBY ke Belanda.
Ini berarti sekaligus adalah pengakuan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan yang diperoleh dari hasil pemberian seperti halnya yang terjadi pada Malaysia. Tapi kemerdekaan yang direbut melalui sebuah perjuangan yang penuh dengan pengorbanan darah, keringat dan nyawa putera-puteri negeri ini. Ini tentu bukan sekedar sebuah kemenangan politik semata, namun lebih jauh daripada itu sesungguhnya adalah sebuah kemenangan moral bagi bangsa Indonesia.
Pengakuan resmi pemerintah Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sejatinya lebih layak dipertimbangkan sebagai alasan utama bagi SBY untuk tetap berangkat ke Belanda mengingat ini jauh lebih signifikan menyangkut harga diri kita sebagai sebuah bangsa. Pengakuan ini menempatkan Indonesia untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan pemerintah kerajaan Belanda dalam upaya menjalin hubungan bilateral yang lebih berwawasan mondial dan tak lagi diwarnai oleh memory kelam sejarah masa lalu.
Hal ini tentu tak sebanding dengan manuver politik RMS melalui pengadilan Den Haag yang justru menjadi pertimbangan utama SBY demi membatalkan kunjungannya ke Belanda. Disadari atau tidak, apa yang dilakukan oleh SBY sama halnya dengan memposisikan pemerintah kerajaan Belanda lebih rendah ketimbang RMS. Wajar saja jika pemerintah kerajaan Belanda merasa terhina akibat pembatalan tersebut. SBY lebih memilih untuk membawa bangsa ini bergerak mundur ke masa lalu dan bukan bergerak maju menuju masa depan.
Jika saja SBY tetap berangkat ke Belanda, ibarat sekali mendayung dua pulau terlampaui. Di satu sisi, masalah fundamental antara Indonesia–Belanda yang telah mengganjal sekian lama akhirnya terselesaikan dengan adanya pengakuan oleh pemerintah kerajaan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang juga sekaligus merupakan kemenangan moral bagi bangsa Indonesia. Di sisi lain SBY justru menunjukkan kepada dunia bahwa RMS adalah sesuatu yang absurd, tidak eksis dan tidak berarti sehingga sama sekali tidak perlu ditanggapi apalagi secara berlebihan sampai-sampai harus membatalkan sebuah kunjungan kenegaraan.
Sekali lagi ini sebuah pembuktian betapa kualitas seorang SBY ternyata tidak fit dan proper sebagai seorang pemimpin apalagi negarawan. Terlepas dari bebrbagai kecurangan yang terjadi, tak bisa dipungkiri bahwa hasil Pemilu Presiden-Wakil Presiden 2009 telah memilih seorang Presiden dan Wakilnya, namun jelas bukan memilih seorang pemimpin apalagi negarawan. Yang dibutuhkan negeri ini sekarang adalah kepemimpinan -leadership- dan kenegarawanan -statemanship-, bukan hanya sekumpulan angka-angka statistik yang penuh rekayasa dan tipu daya sekedar untuk menjustifikasi dukungan rakyat atas nama demokrasi.
Lalu, jika menurut SBY alasan pembatalan kunjungan kenegaraan ke Belanda karena, “Ini menyangkut harga diri kita sebagai bangsa”; rasanya kita semua patut bertanya-tanya, “‘harga diri kita sebagai bangsa’ yang mana yang dimaksud oleh SBY?”
Popularity: 3% [?]













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)








bangsa ini punya harga diri,
tapi pemimpinnya yg tidak punya harga diri,
maka jadilah bangsa ini berharga diri rendah…
ciwir´s last blog ..Kayana Putri Az-Zahirul Haq
berarti mending kongkon leren wae dhadhi Presiden, piye jal?
Ketoke mbah sangkil arep nyalonke dadi presiden deh?
nek kuwi tak dukung 100% jadi Presiden…
Liputan6.com, Jakarta: Berbeda dengan aksi unjuk rasa lainnya, Anton (76), pria asal Ciampea Bogor hanya sendiri mendatangi Kedubes Amerika Serikat, Jalan Merdeka Selatan, sejak pukul 8.00 WIB. Dalam aksinya, Anton meminta pemerintah Indonesia mendesak pengadilan Internasional untuk mengadili negara adikuasa itu.
Pria asal Magelang ini sengaja datang dari kaki Gunung Salak Bogor, untuk melakukan unjuk rasa di depan kedubes AS dengan membawa spanduk yang berisi pesan bahwa Presiden Obama sama halnya dengan mantan presiden sebelumnya, George Bush. Anton menilai AS adalah negara yang menyuarakan antipelanggaran HAM, tapi pada kenyataanya AS adalah negara pelanggar HAM itu sendiri.
“Makanya, saya melakukan aksi di sini. Agar rakyat Indonesia dan dunia internasional mengerti dan sadar bahwa Amerika adalah dalang pelanggaran HAM itu sendiri,” ujar kakek dari 13 cucu itu, saat unjuk rasa di depan kedubes AS, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (8/11).
Meski rambut sudah memutih, Anton tidak pernah berhenti memperjuangkan kepentingan rakyat. Bahkan ia mengungkapkan, aksi unjuk rasa sudah ia lakukan berkali-kali, selama kepemimipinan SBY. “Saya pernah dipenjarta delapan tahun pada zaman Orde Lama, berkali-kali saya dipenjara pada zaman Soeharto,” ungkapnya.
Ayah dari tujuh anak itu, tidak akan pernah berhenti berjuang, selama darah masih mengalir di nadinya.
Rasa kecewa kepada pemerintah saat ini cukup besar. Pasalnya, keadaan saat ini sangat memprihatinkan. Meski ia menyadari bahwa kedaan sekarang tidak semata-mata kesalahan pemerintah saat ini.
“Keadaan sekarang merupakan mata rantai pemerintahan masa lalu, tapi pemerintah harus bertangung jawab. Karena ini tanggung jawab pemerintah,” tegasnya.
Anton menambahkan, beberapa waktu lalu ia juga pernah melakukan unjuk rasa selama sebulan penuh, terkait kasus Alex Manuputeh.
Dijelaskan Anton, sejak jaman penjajahan Belanda, ia pernah ikut berjuang. Maka itu, menurut pria yang pernah satu sel dengan Adnan Buyung itu, tidak rela bangsa ini diinjak-injak imperialisme, Amerika Serikat.
“Banyak pelanggaran HAM yang telah dilakukan Amerika, seperti di Palestina, Irak, Afganistan, dan sebagainya,” ujarnya
Hingga pukul 10.00 wib, Anton pun mengikuti aturan ia harus mengakhiri aksinya, sesuai dengan izin pemberitahuan aksinya, yang sebelumnya diajukan kepada Polda Metro Jaya.
“Ini aksi unjuk rasa terpendek selama aksi yang pernah saya lakukan sebelumnya,” imbuh kakek yang selalu aksi damai secara tunggal itu. (MEL)
http://berita.liputan6.com/ibukota/201011/305477/Tuntut.AS.Pria.Gaek.Datangi.Kedubes.Sendirian
tapi nama lengkapnya bukan anton danar kan?
Suwi2 Pak Beye makin aneh…
marsudiyanto´s last blog ..Bidirectional Override BDO 
Beda karo mbiyen…
Embuh nek aneh kawit mbiten tapi akune sing durung dong…
janjane pancen kawit biyen pakde…
hanya karena dipoles oleh gincu pencitraan, dadi kesamar okeh sing do ra dong…
hlaaa soyo suwe asline soyo ketok, ra iso di delike meneh…
mekaten hlo pakde…
benar juga ya, harga diri yang mana? harga diri bangsa indonesia yang korup atau?
maaf, baru ngeh setelah baca dua kali hehee
ardhan´s last blog ..Jamie Morgan dan Aceh
sekali baca bisa langsung ngeh kok…, syaratnya memang nggak boleh fast reading