Konflik Selat Malaka melibatkan RI – Malaysia makin meruncing. Kali ini giliran Perdana Menteri Malaysia Seri Najib Tun Razak -aktor dibalik Altantuya Scandal- angkat bicara mengeluarkan pernyataan bernada keras terhadap aksi unjuk rasa anti-Malaysia di Indonesia.
Najib mengultimatum pemerintah RI agar segera menindak para demonstran anti-Malaysia. Dalam pernyataannya di hadapan media massa malaysia, “Pemerintah (Indonesia, Red) harus bertindak cepat atau menghadapi risiko munculnya murka warga Malaysia.”
Pernyataan Najib yang bernada ancaman tersebut tak urung makin menyulut kemarahan rakyat Indonesia yang merasa harga diri, harkat dan martabatnya semakin dinistakan oleh negeri jiran Malaysia.
Lalu bagaimana dengan sikap pemerintah RI?
Paska terjadinya insiden Selat Malaka antara petugas DKP Kepri dengan Marine Police Malaysia terkait dengan penangkapan nelayan Malaysia yang melakukan pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia, pemerintah RI telah mengirimkan surat resmi kepada pemerintah Malaysia yang meminta perundingan perbatasan maritim di antara kedua negara dipercepat.
Namun alih-alih surat resmi tersebut dijawab, Perdana Menteri Malaysia malah mengeluarkan pernyataan bernada ancaman tersebut diatas dihadapan media massa Malaysia.
Dalam konteks hubungan bilateral antar dua negara, sikap dan tindakan Perdana Menteri Malaysia mengindikasikan tidak adanya keinginan untuk menjawab surat resmi dari pemerintah RI. Namun ironisnya, pemerintah dalam hal ini SBY malah mengabaikan pernyataan Najib tersebut dan hanya sibuk menunggu surat jawaban resmi dari pemerintah Malaysia yang tak kunjung datang.
Berkat besarnya tekanan publik dalam bentuk aksi unjuk rasa terhadap Malaysia yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat di seluruh Indonesia, barulah akhirnya SBY menyampaikan pidato terkait dengan sikap pemerintah RI atas ketegangan yang terjadi antara RI dan Malaysia.
Dalam pidatonya, SBY sama sekali tidak menyampaikan hal-hal baru selain hanya copy-paste tentang apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah RI -dalam hal ini SBY- seperti apa yang telah dilansir selama ini oleh berbagai pemberitaan media massa.
Pidato yang disampaikan tepat pada pukul 21.00 tanggal 1 September 2010 secara sengaja mengambil lokasi di Mabes TNI Cilangkap seolah-olah ingin mengesankan publik bahwa TNI mendukung penuh pernyataan yang disampaikannya.
Dari apa yang disampaikan terlihat bahwa SBY tidak pernah merapatkan telinga ke bumi untuk bisa mendengar kegusaran dan murka yang dirasakan oleh rakyat dan bangsa Indonesia akibat sikap dan kelakuan Malaysia selama ini terhadap Indonesia khususnya pernyataan dari Perdana Menteri Malaysia yang telah menistakan harga diri, harkat dan martabat RI. Bagaikan pekerja seks komersial, SBY justru lebih mengutamakan pertimbangan ekonomi ketimbang harga diri, harkat dan martabat bangsa. Selain itu, pernyataan SBY tersebut juga sekaligus menunjukkan betapa SBY lebih mementingkan pencitraan politik dengan mencoba memoles, memulas dan mendandani keraguan dan ketidak tegasannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan dengan seolah-olah ingin mempamerkan sikap yang penuh kesantunan dan kearifan dalam menyikapi tindakan negeri jiran Malaysia yang jelas telah melempar ‘tinja’ ke muka bangsa Indonesia.
Jika SBY merasa bahwa pilihannya untuk bersikap so cute and so sweet as usual diharapkan dapat me-leverage (lagi-lagi) pencitraan dirinya, maka dalam situasi kondisi negara seperti sekarang ini bisa dipastikan bahwa apa yang dilakukan adalah langkah keliru dan kontraproduktif yang justru membuat pencitraan SBY berbalik jadi negatif.
Pada momentum kritis seperti ini, SBY tidak selayaknya mengambil sikap elitis sekedar untuk cari aman demi pencitraan politik dirinya. Malah sebaliknya, SBY seharusnya bisa meningkatkan pencitraan politiknya dengan mengambil sikap yang lebih pro-rakyat. Untuk itu sederhana saja yang harus dilakukan oleh SBY :
- Pemutusan hubungan diplomatik RI dengan Malaysia.
- Tutup Kedutaan Besar, Konsulat jenderal RI di malaysia dan tarik pulang Duta Besar, Konsul Jenderal dan seluruh staff-nya.
- Tutup Kedutaan Besar, Konsulat Jenderal Malaysia di Indonesia dan pulangkan (usir) Duta Besar, Konsul Jenderal seluruh staff-nya.
- Lakukan evakuasi terhadap seluruh warga negara Indonesia di Malaysia.
- Lakukan nasionalisasi terhadap seluruh investasi Malaysia di Indonesia.
- Lakukan persiapan dan kesiagaan militer, penambahan personil dan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) TNI di wilayah perbatasan dengan Malaysia.
- Membuka pelatihan militer bagi sukarelawan (milsuk).
- Menuntut pemerintah Malaysia untuk membuat pernyataan permohonan maaf melalui saluran resmi dan terbuka kepada bangsa Indonesia melalui media massa internasional atas semua tindakan dan pernyataan yang telah merugikan dan merendahkan harga diri, harkat serta martabat rakyat dan bangsa Indonesia.
- Atas dasar itu, barulah pemerintah RI berkenan untuk membuka kembali perundingan tentang batas wilayah maritim, udara dan darat antar kedua negara.
Langkah-langkah tersebut diatas sangat sederhana tapi memang berat bagi SBY karena memang diperlukan keberanian untuk melakukannya. Namun jika SBY berani, akan sungguh tak mengherankan jikalau rakyat Indonesia nantinya malah menginginkan SBY meneruskan jabatannya sebagai Presiden untuk ketiga kalinya.
Jika tidak, jangan salahkan rakyat menjadi murka dan naik pitam. SBY harus bersiap-siap turun sebelum waktunya dan dikenang sebagai Presiden Indonesia yang membiarkan harga diri, harkat dan martabat negerinya dihina, dinjak-injak dan dinistakan oleh negara sekelas Malaysia.
Bagi rakyat Indonesia, jangankan cuma Malaysia, “Amerika kita setrika!!! Inggris kita linggis!!! Ini dadaku!!! Mana dadamu???”
Hingga artikel ini diposting, aksi unjuk rasa bahkan sweeping terhadap warga negara Malaysia masih terus berlangsung di berbagai daerah oleh berbagai elemen masyarakat. Sekali lagi itu membuktikan bahwa apa yang disampaikan oleh SBY dalam pidatonya kemarin sungguh tidak mencerminkan dan merepresentasi amanat penderitaan rakyat Indonesia.
demi nusa bangsa!!!
demi tanah air!!!
demi ibu pertiwi!!!
“JADILAH LAKI-LAKI WALAU HANYA SEKALI INI SAJA!!!”
Popularity: 4% [?]













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)








Presiden adalah pilihan rakyat.. dia yang dipilih memimpin rakyat mestilah berjuang untuk rakyat..
lowongan kerja´s last blog ..Palaldium Vacancy as Marketing Manager 2010
segarusnya begitu…, tapi kenyataannya?
Jan-jané…dhèwèké ki sunat ora to?!?
Maning-maning inyong dadi mèlu ’sby’…(semakin bebal yaw)?!?
Sikap Samin´s last blog ..GMT vs MMT… Hasil akhir…SMT
sunat kiye sing disunat opone?
Sepertinya Indonesia akan sulit melakukan hal tersebut, karena sebagian besar warga Indonesia menganggap Malaysia sebagai negara penghasil uang. Bahkan rakyat Indonesia rela menjual kehormatan mereka disana untuk mendapatkan uang. Selain itu, para manusia yang diekspor ke Malaysia merupakan ladang devisa negara yang entah uang tersebut masuk kedalam pemerintah atau masuk kantong oknum yang tidak bertanggung jawab.
Minal Aidzin wal faidzin Pak Dhe. Mohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya lakukan
Estiko´s last blog ..PPL CJ dan Microworkers
begitu pulang kampung baru sampai di bandara udah dirampok sama petugas2 keimigrasian…
udeh mas, dihajar aja tuh, biar tau diri, dasar negara ABG tuh
cubadak angek´s last blog ..Watch Heroes Season 3 Episodes Online
negara alaysia…
ganyang malingsia!!!!!
gadgetboi´s last blog ..Download MangaScan dengan mudah 