Cides (Centre for Information and Development Studies) dan Ruhut Sitompul, tiba-tiba berdendang seperti sekelompok musisi jalanan yang bernyanyi bersama demi segenggam uang receh tanpa mau tahu apakah telinga yang mendengar berdarah-darah.
Direktur Eksekutif Cides Ricky Rachmadi berdendang tentang gelar Bapak Kesejahteraan untuk SBY. Tak perlu lagi dibahas apa argumentasinya karena mereka paling jago bikin argumentasi pembenaran ilmiah bahkan untuk sebuah kebodohan yang mereka lakukan sekalipun.
Lalu giliran Ruhut Sitompul ambil suara dengan teknik falseto yang melukai nurani. Lagu tentang SBY menjadi Presiden untuk tiga periode. Padahal jelas-jelas dalam Undang- Undang Negara Republik Indonesia 1945, khususnya Pasal 7 dinyatakan adanya pembatasan masa jabatan Presiden untuk dua kali berturut-turut.
Apa yang dilakukan Ruhut Sitompul dengan berperan antagonis sebagai bad guy tentu bukan sesuatu yang kebetulan, namun by design dilakukan untuk melihat dan mengukur respon maupun feed back yang muncul dari masyarakat atas pernyataan tersebut. Setidaknya, respon maupun feed back yang muncul bisa dijadikan bahan kajian oleh think-tank SBY guna merancang formula yang tepat untuk digunakan selama 3 tahun ke depan demi memuluskan ambisi SBY berkuasa kembali ketiga kalinya.
Apapun yang dinyanyikan keduanya jelas adalah cara dan trik lama yang dulu acapkali digunakan semasa rezim Orde Baru dibawah komando Soeharto oleh kroni-kroninya yang berebut cari muka demi kursi dan jabatan. Setelah 12 tahun lebih Soeharto tumbang, ternyata praktek-praktek seperti ini masih saja diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya demi syahwat kekuasaan semata.
Makin hari, SBY makin terlihat kemiripannya dengan Soeharto. Cara menyelenggarakan pemerintahan yang penuh dengan pencitraan semu serba berseolah-olah, juga bagaimana membangun kaki-kaki kekuasaannya dengan memainkan manajemen konflik yang selalu menempatkan dirinya dalam posisi aman. Tentu kita semua tidak mengalami amnesia dengan kasus Century yang akhirnya “cuma” membuat Sri Mulyani mundur sebagai menteri dan bersembunyi di World Bank.
Ricky, Ruhut terutama SBY lupa bahwa rakyat semakin cerdas. Rakyat tak lagi mudah dibohongi dan dimanipulasi seperti dulu semasa Soeharto. Berbagai muslihat yang dipraktekkan oleh orang-orang macam Ricky dan Ruhut sudah tak lagi mempan sekarang ini. Sudah saatnya SBY lebih dewasa dalam berpolitik. Negeri ini membutuhkan seorang negarawan bukan lagi politisi kelas cecunguk yang hanya mengandalkan politik pencitraan.
Gelar Bapak Pencitraan rasa-rasanya lebih tepat diberikan ketimbang gelar Bapak Kesejahteraan.
Popularity: 3% [?]













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)








gelar bapak KONTOL lah yg tepat disandangnya!
emang punya?
mending seumur hidup aje
cubadak angek´s last blog ..Watch Heroes Season 3 Episodes Online
seumur hidup tapi hidupnya cuma setahun lagi…, gitu maksudnya?
Hmmm…. makin pusing
Looking around…
While I was surfing today I noticed a great post concerning…