MUNAS ke II PKS yang berakhir pada 20 Juni 2010 ternyata masih menyisakan silang pendapat pro dan kontra tentang perubahan strategi yang dilakukan oleh PKS. Salah satu keputusan hasil Munas yang menimbulkan kontoversi adalah dengan berubahnya PKS dari partai islam menjadi partai terbuka yang mengedepankan pluralisme dan nasionalisme.
Tentu saja langkah politik tersebut menimbulkan polemik di berbagai kalangan baik di eksternal maupun di internal tubuh PKS sendiri. Namun sebelum membahas lebih jauh tentang perubahan yang terjadi di PKS, maka terlebih dulu perlu dilakukan pengenalan yang lebih mendalam tentang apa dan bagaimana sesungguhnya Partai Keadilan Sejahtera -PKS- yang sejak awal dikenal sebagai partai politik kegamaan berbasis islam yang berupaya dengan sungguh-sungguh menjadikan partai politik sebagai media dakwah dan syiar islam.
Skema berikut ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang apa dan bagaimana PKS di awal sejarah kelahirannya.
Dalam Pemilu 1999, akibat pemberlakuan UU Pemilu Nomor 3 Tahun 1999 tentang syarat berlakunya electoral threshold -batas minimum keikut sertaan parpol pada pemilu selanjutnya sebesar dua persen-, maka PK harus merubah namanya untuk dapat ikut kembali di Pemilu berikutnya. Hal ini menyebabkan Partai Keadilan harus melakukan pendaftaran ulang dan seluruh proses verifikasi yang dilakukan oleh Departemen Kehakiman dan HAM dengan merubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera.
Sebagai bagian dari kelanjutan Partai Keadilan, PKS juga menlanjutkan grand strategi yang telah disusun sejak awal oleh Partai Keadilan. Skema berikut ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang Grand Strategi PKS.
Desain Grand Strategi yang dicanangkan oleh PKS tersebut diatas didasarkan pada Teori Futuh, yaitu teori tentang tahap-tahap perjuangan Islam yang didasarkan pada tahap-tahap perjuangan nabi. Secara keseluruhan meliputi kurun waktu 23 tahun. Teori ini dijadikan semacam blue print oleh kelompok-kelompok radikal Islam.
Skema berikut di bawah ini akan memperlihatkan bagaimana Teori Futuh merupakan platform dari Grand Strategi PKS.
Dari berbagai gambaran tersebut diatas dapat terlihat bahwa targetan-targetan yang sudah direncanakan oleh PKS ternyata harus berhadapan dengan kondisi obyektif dari realita politik yang terjadi, sehingga Grand Strategy yang telah dipersiapkan sejak lama, secara obyektif tak lagi bisa direalisasikan secara absolut.
Di sisi lain, taktik politik dengan melakukan kompromi politik yang dilakukan oleh PKS dalam dua kali Pemilu terakhir melalui proses koalisi dengan partai politik sekuler berbasis nasionalis pemenang Pemilu demi memasukkan agenda-agenda politiknya untuk masuk dalam kekuasaan, suka tidak suka dan mau tidak mau, pada akhirnya memposisikan PKS untuk menerima realita politik bahwa pola gerakan yang diyakini selama ini ternyata tak mampu me-leverage posisi politik PKS untuk mampu memenangkan pertarungan kekuasaan.
Sebagai ilustrasi, PKS yang lebih dulu berdiri dan secara organisatoris lebih masif ketimbang Partai Demokrat, harus menerima kenyataan untuk menjadi subordinasi politik dengan mengikatkan diri pada koalisi politik yang dibangun oleh Partai GOLKAR dan Partai Demokrat dalam Pemilihan Presiden 2004, begitupun yang terjadi pada Pemilihan Presiden 2009 yang baru lalu.
Hal inilah yang mendorong terjadinya perubahan strategi guna meniscayakan target dan agenda politik yang sudah ditetapkan sejak awal. Munas ke II PKS yang baru saja terselenggara adalah sebuah koreksi sekaligus revisi dari kegagalan Grand Strategy yang sejak lama telah dipersiapkan. Bagi PKS, perubahan dari sebuah partai politik yang eksklusif berbasis islam menjadi partai politik yang inklusif berbasis pada pluralisme dan nasionalisme adalah sebuah kemestian yang harus dilakukan guna meraih kemenangan mutlak pada Pemilu 2014 yang akan datang.
Menjadi jelas bahwa perubahan yang dilakukan oleh PKS bukanlah -seperti yang banyak dilansir oleh berbagai kalangan- sebuah proses metamorphosa seperti halnya yang terjadi pada berudu yang berubah menjadi katak ataupun kepompong menjadi kupu-kupu, namun lebih mirip bunglon yang ber-mimikri dengan selalu berganti warna sesuai dengan tempat dimana dia berada.
Pada akhirnya, sehebat apapun “warna” yang diperlihatkan, bunglon tetaplah bunglon…
Popularity: 11% [?]












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)












wah mantEB tenan analisis-e ker
hmcahyo´s last blog ..Thank You Allah – Maher Zain 
temenan-a???
Pluraslime Agama jelas ditolak oleh seluruh agama yang ada, karena itu hanya upaya untuk membuat agama baru yakni “teologi global”, yang tepat seharusnya sebagaimana Islam mengakui akan hal itu yakni, pluralitas agama, di mana, Islam mengakui bahwa di dunia ini tidak hanya ada Islam, tapi ada kristen dan lainnya, malah nasrani dan yahudi di Al-Qur’an banyak disebut-sebut, hanya saja Islam adalah yang paling benar dan sempurna. Tapi bukan berarti yang lain harus dienyahkan, malah non muslim di lindungi ketika mereka tidak menyerang kita.
saya jadi ingat
Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian-kesatuan dengan Konstitusi tersebut, Maka atas dasar-dasar tersebut di atas,Kami Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang.
Menetapkan pembubaran Konstituante; Menetapkan Undang-undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan Dekrit ini, dan tidak berlakunya lagi Undang-undang Dasar Sementara.
Dalam buku “Menghilangkan Prasangka terhadap Piagam Jakarta” KH Syaifudi Zuhri (tokoh NU) menyatakan bahwa tuju kata yang sekarang tidak ada itu sebenarnya bersifat konstitusional, karena memang dalam pembahasan yang panjang dan sudah disepakati dalam sidang,kata tersebut tidak seolah-olah menganak emaskan Umat Islam,karena kebebasan beragama sendiri sudah diatur pada pasal 29 UUD (1945),dan sebenarnya Umat selain islam tidak perlu khawatir
Dengan demikian, sikap yang seharusnya di ambil oleh PKS yakni pengakuan dan kesadaran akan adanya pluralitas di negeri ini, dan berdasarkan piagam jakarta dan landasan negara yang berlaku sekarang, apa yang dupayakan pekas harus tetap pada langkah awal, yakni merealisasikan apirasi umat Islam yakni dengan menegakkan hukum Allah, dan dengan fakta adanya pluratitas, maka wajib kita mengajak non muslim duduk bersama, dan memberikan penejalasan ilmiah kepada mereka, serta memberikan jaminan, jika kita menegakkan hukum Allah mereka tidak akan dipaksa pindah agama. Allah mengatur hubungan dengan non muslim. begitulah seharusnya. Kita harus menggandeng minoritas, karena di negeri ini tidak hanya Islam….itu fakta. dan tidak perlu ada perubahan mendasar dari pancasila, soalnya menjiwai, hanya saja perundangan-perundangan seterusnya harus disesuaikan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya…
Wa Allahu A’lam
persoalannya, ada 4 mazhab besar Syafe’i, Hanafi, Hambali, Maliki. ada Syi’ah dan Sunni. Ada Muhammadiyah, NU, Persis, Masyumi, Hisbut Tahrir, LDII, Ikhwanul Muslimin, Salafi, dll.
lalu, syariat mana yang mau dijalankan?
Mas Mahendra katakan,
“persoalannya, ada 4 mazhab besar Syafe’i, Hanafi, Hambali, Maliki. ada Syi’ah dan Sunni. Ada Muhammadiyah, NU, Persis, Masyumi, Hisbut Tahrir, LDII, Ikhwanul Muslimin, Salafi, dll.
lalu, syariat mana yang mau dijalankan?”
Saya kira itu bukan masalah, memang benar ada empat mazhab besar, malah kalau mau jujur lebih dari empat mazhab sebenarnya, hanya saja yang empat itulah yang termasyur dikalangan kaum muslimin.
Jelas, Syi’ah adalah firqah sesat, dan bukan itu yang harus dijalankan!
Muhammadiyah, NU, Persis, dan lainnya itukan hanyalah wadah dakwah saja, bukan mazhab, dan kita ini jangan mengikuti nama…kalau ngikuti nama mah, islam banyak bener, ada Islam NU, Islam Muhammadiyah dan lainnya. Nama dan bendera itu bukan patokan kebenaran, begitu juga mazhab, yang harus kita jalankan adalah SYARIAT ALLAH dan MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam…Muhammadiyah juga kalau bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya sesat, nah, jadi bukan harakah yang kita jadikan acuan, tapi sumber mereka benar atau salah…
Al-Qur’an dan Hadits Shahih-lah yang harus dijalankan!
Maka seorang Muslim yang mendengarkan hadits Shahih tidak diperbolehkan untuk menolaknya, karena hal ini bertentangan dengan mazhab tertentu yang dianutnya. Para Imam mazhab telah melakukan ijma’ untuk mengambil hadits Shahih dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits shahih tersebut.
Berikut ini akan kita paparkan uraian penukilan yang disebutkan Syaikh Jamil Zainu tentang beberapa pendapat imam mazhab yang dapat menjelaskan kebenaran kepada kaum muslimin terutama kepada pengikut mereka :
1. Pesan Imam ABU HANIFAH
Imam Abu Hanifah, ajaran-ajaran fiqihnya menjadi pijakan kebanyakan orang, berkata (Abu Hanifah):
Tidak diperbolehkan seseorang mengambil pendapat kami sebelum mengetahui dari mana kami mengambilnya.
Haram bagi yang tidak mengetahui dalil saya, kemudian memberi fatwa dengan kata-kata saya, karena saya adalah manusia biasa yang sekarang bicara sesuatu dan esok tidak bicara itu lagi.
Jika saya mengucapkan pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an serta hadist Nabi Shallahu alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataan saya.
2. Pesan Imam IMAM MALIK
Imam Malik, imam penduduk Madinah, berkata :
Sesungguhnya saya adalah manusia biasa, yang dapat salah dan dapat juga benar. maka perhatikan secara kritis pendapatku. Jika sesuai dengan kitab dan Sunnah ambillah, dan setiap pendapat yang tidak sesuai dengan kitab dan Sunnah tinggalkanlah.
Setiap orang sesudah Nabi dapat diambil ucapannya dan dapat pula ditinggalkan, kecuali, Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam.
3. Pesan Imam SYAFI’I
Imam Syafi’I dari keluarga Ahli Bait, berkata :
Setiap orang ada yang pendapatnya sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dan juga ada yang tidak sesuai. Jika saya berkata dengan suatu pendapat dari Rasullah tapi kenyataannya bertentangan dengan ucapa Rasullah Shallahu alaihi wa sallam , maka pendapat yang benar adalah ucapan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dan itulah pendapat saya.
Orang-orang Islam telah melakukan ijma’ bahwa siapa saja yang jelas mempunyai dalil berupa Sunnah Rasulullah maka tidak dihalalkan bagi seorang meninggalkan karena ucapan orang lain.
Jika kamu mendapatkan hal-hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dalam buku saya, maka ikutilah ucapan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dan itulah pendapat saya juga.
Jika suatu hadist itu Shahih maka itulah mazhab saya.
Beliau berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, ” anda lebih pandai dari saya tentang dan keadaan para periwayat hadits, jika anda tahu bahwa sesuatu hadist itu Shahih maka beritahukanlah kepada saya sehingga saya akan berpendapat dengan hadits itu “.
Setiap masalah , yang mempunyai dasar hadits Shahih menurut para ahli hadist dan bertentangan dengan pendapat saya, maka saya akan kembali pada hadits tersebut selama hidup atau sesudah mati.
4. Pesan Imam AHMAD BIN HAMBAL.
Imam Ahmad bin Hambal, Imam para pengikut ahli Sunnah, berkata :
Jangan engkau bertaklid kepadaku atau Imam Syafi’I, Imam Auza’I atau Imam Ats-Tsaury tapi ambillah dari mana asal mereka mengambil.
Siapa saja menolak hadist Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam maka ia berada di tepi kehancuran. “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)” Qs. Al-A’raf : 3.
Apabila Telah Shahih Suatu Hadits, Maka Itulah Madzhab (kita)
hentikan dikotomi, semuanya benar jika berada dijalan dan sumber yang benar, apapun namanya…
yang perlu di perhatikan ialah perlunya setiap harakah apapun namanya melakukan croscek apakah pemahaman mereka melenceng dari Rasulullah dan Sahabatnya atau tidak…
Jika harus jujur, semua harakah di Indonesia, termasuk saya masih dangkal akan ketauhidan yang mana itulah yang harus ditegakkan, seiring berjalan, belajar dan praktikkan…
Wa Allahu A’lam
“Muhammadiyah, NU, Persis, dan lainnya itukan hanyalah wadah dakwah saja, bukan mazhab,”
sorry boss…
tolong dibaca lagi comment reply saya. saya katakan ada 4 mazhab, “Syafe’i, Hanafi, Hambali, Maliki”
saya gak pernah bilang Muhammadiyah, NU, Persis dan lainnya itu mazhab. tolong baca yg cermat sebelum komentar…
kalau memang betul sama-sama wadah dakwah islam kenapa harus saling berebut pengaruh, berebut umat dan berebut masjid???
“Jelas, Syi’ah adalah firqah sesat, dan bukan itu yang harus dijalankan!”
sesat menurut Sunni. kalau menurut Syi’ah, Sunni yg sesat.
“…dan kita ini jangan mengikuti nama…kalau ngikuti nama mah, islam banyak bener, ada Islam NU, Islam Muhammadiyah dan lainnya. Nama dan bendera itu bukan patokan kebenaran, begitu juga mazhab, yang harus kita jalankan adalah SYARIAT ALLAH dan MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam…Muhammadiyah juga kalau bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya sesat, nah, jadi bukan harakah yang kita jadikan acuan, tapi sumber mereka benar atau salah…”
pasti tidak! paling anda tahu karena KATANYA ustad, habib, kyai yang entah mungkin dari Muhammadiyah, NU, Persis, Masyumi, Hisbut Tahrir, LDII, ataupun Ikhwanul Muslimin.
pasti juga tidak! lagi-lagi karena KATANYA ustad, habib, kyai yang pasti juga tahu karena KATANYA lagi.
sekali lagi pasti tidak!!!
jadi…, jangan bertauhid karena KATANYA !!!
jangan bertuhan karena KATANYA !!!
jangan beragama karena KATANYA !!!
jangan hanya puas bersyari’at tanpa memahami hakikatnya!!!
carilah guru MURSYID
kenalilah dulu diri…, maka engkau akan mengenali Tuhanmu…
karena tak ada guna menghafal beribu ayat dan sejuta dalil ketika belum mampu berTAJALI
jadi teringat kisah 3 orang buta yang berdebat adu mulut tentang bagaimana bentuk seekor gajah. karena buta ketiganya hanya bisa memegang bagian tubuh dari gajah, sayangnya bagian tubuh gajah yg dipegang berbeda satu dengan yg lain. walhasil, ketiganya mendeskripsikan secara berbeda bagaimana bentuk gajah.
katanya KATAKATAKU
#terdampar kesini (lagi) karena gugel
addiehf´s last blog ..Teuing Lah Meunit 
berjuang atas nama rakyat…
atas nama kan???
bukan untuk rakyat…
wis gak usah partai-partaian kalau gitu, saya dulu simpati dengan pekaes, sekarang kok hilang
wis bener…
gak usah partai2an…
(1) meski pun belum penuh, air, yang di dalam embermu itu, milikmu. jangan segera buang karena berharap akan segera turun hujan mengingat langit sudah mulai mendung.
(2) dari Ritz Carlton pesan kuat mencuat: enak menjadi anggota Obama ketimbang sahabat Osama. bersenang-senanglah, karena perasaan cepat puas itu amat manusiawi kok.
(3) meski semua pintu mungkin sudah tertutup, namun masih banyak jendela yg bisa dibuka jika kelak menyesal dan ingin kembali.short memory deseas masih akan ada 15, 20, 25 tahun ke depan di sini, di Indonesia.
‘nBASIS´s last blog ..JS MANROE- TINJAUAN KEKINIAN TENTANG PERISTIWA ISRAK DAN MI’RAJ
itu mah biasa kalau barang dagangan gak laku ya jualan barang lain
endar´s last blog ..sudo nautilus
g mencengang kan,… rahasia pembentukan g ditunjukan, lalu tokoh hidayat nur wachid jg g ad?kmn y??
mau adu domba y??
sebuah analisis politik yang tajam dan mencerahkan….
munawar am´s last blog ..Buka Bersama
matur nuwun Kang…
bunglon oh chameleon…
Hahaha… mantep mas analisisnya
Kojack´s last blog ..Kojack Menyiapkan Bahasa Inggris 4
siiiipppp…