Setelah Sri Mulyani, Boediono?

bangkit berjuang demi masa depan!!! atau diam.., mati tergilas roda sejarah!!!
Sabtu 4 September 2010
bebas untuk di-copas asal mencantumkan sumber aslinya

    Translate to:

Edition

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

My BlogCatalog BlogRank
Add to favourite links

Indonesia TOP
blogarama - the blog directory
My Zimbio
Politics Blogs
Politics blogs
Politics
The Ubuntu Counter Project - user number # 28134
Add to Google Reader or Homepage

Valid CSS!
[Valid RSS]

Setelah Sri Mulyani, Boediono?

IcalPion-pion catur mulai bergelimpangan di kanan-kiri papan pertarungan catur politik kekuasaan negeri ini. Personal vendetta yang dipenuhi bau aroma kekuasaan merebak sangit menyebarkan ancaman terhadap lawan-lawan politik.

Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa semasa Kabinet Indonesia Bersatu I terjadi konflik yang cukup tajam antara Aburizal ‘Ical’ Bakrie -Menko Kesra hasil reshuffle kabinet yang sebelumnya duduk sebagai Menko Perekonomian- versus Sri Mulyani yang masuk kabinet Indonesia Bersatu I menggantikan Jusuf Anwar pada 7 Desember 2005.

Conflict of Interest terjadi antar keduanya selain soal pengemplangan pajak juga terkait penyelesaian kasus LAPINDO milik Ical yang ditengarai sebagai pemicunya. Walaupun konflik ini tak tercium oleh kalangan Pers, namun bisik-bisik di kalangan istana terdengar hingga ke pelosok negeri.

Yang lebih tak elok, terdengar pula rumor yang merebak di seputar istana, api dalam sekam tersebut berubah menjadi api yang berkobar ketika terjadi rapat terbatas kabinet terkait dengan penanganan kedaruratan akibat gempa bumi di Padang yang berkekuatan 8,4 SR pada tanggal 12 September 2007. Pada kesempatan tersebut Sri Mulyani yang Menteri Keuangan sempat memberi teguran keras terhadap Ical yang Menko Kesra karena dianggap masuk terlalu jauh ke dalam wilayah pembahasan ekonomi yang menjadi domain menteri Keuangan.

Walaupun tak berlanjut pada konflik fisik namun nampaknya hal ini cukup meninggalkan bekas luka hinaan di hati Ical yang paling dalam. Dalam kaitan dengan kasus Century, menjadi wajar jika Partai GOLKAR nampak begitu bernafsu untuk membidik Sri Mulyani sebagai pihak yang harus dipersalahkan.

Apalagi jika hal ini dikaitkan dengan duduknya Ical sebagai Ketua Harian Sekretariat Bersama Partai Koalisi tepat dua hari setelah mundurnya Sri Mulyani. Menjadi benar bahwa pengungkapan kasus Century bagi Partai GOLKAR khususnya Ical adalah dalam rangka mengamankan posisi SBY dari ancaman impeachment sekaligus menjadikan Sri Mulyani sebagai escape goat yang dikorbankan.

Berlaku pepatah, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.”

Jikalau pengamanan posisi SBY terhadap ancaman impeachment adalah pulau pertama dan mundurnya Sri Mulyani dari Menteri Keuangan adalah pulau kedua yang terlampaui, maka muncul pertanyaan, “Lalu bagaimana dengan pulau ketiga?”

Sejak awal dipilihnya Boediono oleh SBY sebagai Wakil Presiden yang bukan dari kalangan partai politik telah menimbulkan reaksi penolakan keras dari banyak kalangan terutama dari kalangan partai politik pendukung koalisi. Dari mulai issue Neolib hingga issue agama ramai menghiasi media massa sebagai upaya character assasination, walaupun ujung-ujungnya dibalik itu semua sesungguhnya yang diincar adalah kursi Wakil Presiden.

Bagi kalangan partai politik, semua meneteskan air liur untuk bisa merebut kursi Wakil Presiden dengan menempatkan orang partainya untuk duduk sebagai RI II. Oleh sebab itu, jika Boediono juga melakukan langkah yang sama seperti yang dilakukan oleh Sri Mulyani, maka hanya dengan sekali mendayung, pulau ketiga akan terlampaui pula. Itu artinya harapan dan keinginan para partai politik pendukung koalisi menjadi terbuka kembali untuk bisa menempatkan orangnya sebagai RI II.

Jadi, janganlah heran jika setelah Sri Mulyani mundur, Boediono juga mundur, lalu Ical naik menggantikan Boediono menjadi Wakil Presiden. Sayangnya, kata pepatah hanya “dua tiga pulau terlampaui”, bukan “tiga empat pulau terlampaui”

Yang kita lupa, Ical ternyata menggunakan speed boat, sepuluh pulau pun bisa terlampaui tanpa harus mendayung……

2 people like this post.

Popularity: 6% [?]

Reader Feedback

56 Responses to “Setelah Sri Mulyani, Boediono?”

  1. elmoudy says:
    Browser Firefox 3.5.9 Firefox 3.5.9 OS Windows XP Windows XP

    wah gambarnya lucu banget…
    kok bisa2 nya nemu gambar kayak gitu..
    keren bro
    elmoudy´s last blog ..Ainun Habibie My ComLuv Profile

  2. andi says:
    Browser Firefox 3.6.3 Firefox 3.6.3 OS Linux Mint 9 Linux Mint 9

    keren gambarnya :)
    andi´s last blog ..Biscuit Opensource My ComLuv Profile

  3. Browser Firefox 3.6 Firefox 3.6 OS Windows XP Windows XP

    lama tak mampir
    p cabar
    salam hangat dari blue
    dobleh yang malang´s last blog ..perselingkuhan Doa! My ComLuv Profile

  4. barajakom says:
    Browser Firefox 3.5.9 Firefox 3.5.9 OS Windows XP Windows XP

    ical mo memimpin negara ini? takut ah, tar di negara ini digenagi lumpur lagi
    barajakom´s last blog ..Cara Membuat Daftar Isi Blog My ComLuv Profile

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

Spam protection by WP Captcha-Free



Search Engine Submission - AddMe
UA-11099112-1