Konperensi Tingkat Tinggi tentang perubahan iklim baru saja selesai digelar di Kopenhagen, 7 Desember hingga 18 Desember 2009 dengan hasil yang mengecewakan.
Silang sengketa kepentingan antar negara diwarnai oleh polarisasi kutub kepentingan antara negara maju dan negara berkembang. Dalam konperensi tersebut, dari sebuah bocoran dokumen yang kemudian dikenal sebagai “The Danish Text” memicu terjadi silang pendapat antara negara maju dan negara berkembang.
Dokumen yang ditengarai ber-subjudul “The Copenhagen Agreement”, menawarkan langkah-langkah untuk tetap menjaga rata-rata kenaikan suhu global dua derajat celsius diatas tingkat pre-industrial. Atas dokumen tersebut, negara-negara berkembang mengeluarkan pernyataan keras bahwa negara-negara maju telah melakukan pembahasan setengah kamar dan membuat kesepekatan sepihak hanya berdasar pada kepentingan mereka tanpa melibatkan negara-negara berkembang.
Lumumba Stanislaus Di-Aping, Juru bicara negara-negara berkembang (G-77), menyoroti dokumen tersebut, “sebagai sebuah teks yang sangat tidak berimbang dan secara sengaja diniatkan untuk sungguh-sungguh mengabaikan bahkan melanggar negosiasi yang telah dilakukan selama dua tahun. Dokumen tersebut sama sekali tidak memasukan usulan-usulan dan suara negara-negara berkembang”.
Menurut The Guardian, harian terbitan Inggris, dari hasil analisa yang dilakukan terhadap dokumen tersebut oleh negara-negara berkembang tercatat ada beberapa isu penting diantaranya :
- Memaksakan terhadap negara-negara berkembang untuk menyetujui pengurangan emisi secara spesifik juga langkah-langkah yang bukan merupakan bagian dari perjanjian PBB yang asli.
- Membagi negara-negara miskin dengan menciptakan sebuah kategori baru dari negara-negara berkembang yang disebut sebagai “the most vulnerable”.
- Melemahkan peran PBB dalam menangani “climate finance”.
- Tidak membolehkan negara-negara miskin untuk menghasilkan lebih dari 1,44 ton karbon per orang hingga tahun 2050, sementara di sisi lain membolehkan negara-negara kaya untuk menghasilkan 2,67 ton karbon per orang.
Dari gambaran tersebut diatas semakin terbukti bahwa kekuatan Posmo Kolonialisme-Imperialisme tidak pernah berhenti untuk selalu berupaya memperbesar dominasi dan hegemoninya dalam kerangka terciptanya Tata Dunia Baru – The New World Order, NOVUS ORDO SECLORUM.
Lantas apa peran dan kontribusi delegasi Indonesia yang dipimpin langsung oleh SBY pada konperensi tersebut khususnya dalam kerangka mengemban amanat pembukaan UUD’45 untuk menjalankan politik luar negeri bebas aktif demi terwujudnya ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial ???
Popularity: 6% [?]
- copenhagen climate change (19)
- politik luar negeri bebas aktif (8)
- 15th United Nations climate change conference (3)
- pembahasan copenhagen 2010 climate change (1)
- indonesia di un climate change conference copenhagen (1)
- hasil kesepakatan climate change copenhagen (1)
- hasil copenhagen international climate change (1)
- hasil copenhagen climate (1)
- hasil climate change in copenhagen (1)
- sby copenhagen climete conference (1)













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)







Yang jelas kelompok negara maju tidak mau kepentingan-kepentingannya direcokin oleh negara miskin dan negara berkembang… mereka punya agenda sendiri…
xitalho´s last blog ..Anxiety
@xitalho,
hlaaa terus SBY ngapain aja disana?
@itempoeti, lohhh… bukannya sby pidato di sana? soal pidatonya nggak didengerin orang, kita mah nggak tahu menahu.
tapi kita nggak usah takut. kita ini kan negara maju (korupsinya) jadi boleh menghasilkan 2,67 ton karbon per orang.
Kombor´s last blog ..Laporan Kopdar Akhir Tahun KBBC
@Kombor,
bwahahahahaha…
iya yaaaa… pidato…
jangan2 yg dengerin pada tidur…
@itempoeti,
Bukan pada ngantuk tapi padha gak ndengerin pidatonya presiden negara berkembang… hihihi
xitalho´s last blog ..Anxiety
@itempoeti, cuma menghadiri undangan aja kali bro?
haha…..
HumorBendol´s last blog ..Bendol yang Apes
@HumorBendol,
melu kumpul2 karo melu photo2 thok…
biar kelihatan sibuk…
masalah ini tidak akan pernah selesai…
alam kembali menangis…
salam kenal…
salam dalam persahabatan..
@Alfaro Lamablawa,
nampaknya begitu…
alam kembali akan murka…
salam kenal dan persahabatan…
@Bung Itempoeti
Bukannya tidak peduli terhadap lingkungan, namun sayah kok merasa sangat aneh sekali :(
Secara aqal sehat kontributor terbesar perusak lingkungan nota bene negara-negara industri… lucunya mereka lempar batu sembunyi tangan mengenai kerusakan tsb pada negara-negara berkembang.
Yang kedua adalah propaganda busuk negara-negara maju agar pucuk pimpinan negara berkembang takut atau paranoid terhadap efek industrial.
haniifa´s last blog ..Darah orang-orang Syi’ah halal 2
@haniifa,
itulah yang terjadi di Climate Conference Copenhagen 2009…
Lha iku kox kesane mekso banget nang negoro cilik yo kang… hmm piye jal.. *Koyok ngerti-ngertio* ^^
@Frenavit Putra,
dupeh kuat terus sak karepe dewe…
*melu2 macak ngerti…*
Saya denger Obama meragukan Konfrensi Perubahan iklim COP 15 manghasilkan hasil yang sempurna. . . semoga aja tidak ada lagi pembahasan mengenai jual beli karbon yang menguntungkan negara maju, dan negara yang punya hutan luas seperti terjadi di konferensi perubahan iklim di bali.
@Fatih,
tetap kepentingan Amerika diatas segalanya…
@itempoeti,
semoga sekali-kali konferensi itu buat kepentingan indonesia semata.
ehm….tapi aku salut dengan SBY yang berperan besar di sini dan menjadi jembatan buat negara maju dengan negara berkembang
@Fatih,
kata siapa SBY berperan besar? pengakuan negara lain? atau ngaku2 sendiri?
@Fatih, Mungkin yang dimaksud beliau adalah, SBY badannya besar :mrgreen:
haniifa´s last blog ..Ruang Hati
@haniifa,
oooohhh… gitu toch…
wakakakakakak…