Tepat satu hari yang lalu 9 Desember 2009 seluruh dunia memperingati Hari Anti Korupsi. Sebuah kesadaran mendunia untuk bersama-sama menabuh genderang perang terhadap maraknya praktek korupsi yang merusak sendi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Sayangnya, alih-alih bicara anti korupsi, justru yang terjadi adalah korupsi pemaknaan terhadap makna korupsi itu sendiri. Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio dari kata kerja corrumpere gabungan dari kata com yang berarti penghancuran dan rumpere yang berarti rusak, ‘penghancuran yang merusak’.
Dalam perkembangannya corruptio yang dalam bahasa inggris disebut corruption, seringkali hanya dikaitkan pada political corruption yang menekankan pada suatu keadaan dimana terjadi disfungsi terhadap sistem politik atau kelembagaan yang melibatkan pejabat pemerintah dan para politisi. Pejabat, pegawai dan politisi mencari keuntungan pribadi secara ilegal melalui tindakan-tindakan seperti penyuapan, pemerasan, kroniisme, nepotisme, patronase, graft (pemberian tanda terima kasih), dan penggelapan.
Tatkala political corruption yang terjadi berkembang tanpa terkendali maka inilah yang disebut sebaga kleptokrasi -kleptocracy-. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan keadaan pemerintahan sebuah negara yang diatur oleh kaum kleptokrat yang terdiri dari para bandit maling pencuri yang berkuasa secara politik.
Keadaan Indonesia saat ini sudah masuk pada stadium kleptokrasi dimana political corruption sudah diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya secara kolektif kolegial berjama’ah. Ini mengindikasikan bahwa apa yang terjadi sesungguhnya adalah fenomena puncak gunung es dari gunung es besar masalah yang jauh lebih akut dan mematikan.
Seperti halnya penyakit kanker yang baru terlihat gejalanya justru ketika telah memasuki stadium akhir dimana harapan hidup sudah sangat tipis dan hanya tinggal menghitung hari. Political corruption yang terjadi sudah berubah menjadi cultural corruption yang tidak hanya menjangkiti sistem politik namun lebih daripada itu sudah menjadi sistem nilai -value system- dan sistem keyakinan -belief system- yang manjing dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemaknaan korupsi pada konteks Indonesia seharusnya tak lagi hanya sebatas political corruption, namun pada makna korupsi yang sesungguhnya yaitu ‘penghancuran yang merusak’.
Sendi-sendi dasar tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah hancur dan rusak ditimbulkan oleh korupsi kemanusiaan. Manusia Indonesia telah kehilangan jati diri kemanusiaannya. Nilai-nilai imanen-spiritual-transendental Ketauhidan Yang Maha Esa berganti menjadi nilai-nilai material-hedonik-rasional yang bernisbat pada penghambaan kemegahan dan kegemilangan duniawi. Tidak hanya sistem dan struktur pemerintahan dan ketatanegaraan yang korup, bahkan manusia Indonesia telah hancur dan rusak akibat terkorupsi kemanusiaannya.
Saat ini, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa bangsa dan negeri ini hanya dengan kembali pada jiwa dan karakter kemanusiaan yang imanen-spiritual-transendental dengan totalitas ketauhidan tanpa tersekat-sekat sektarianisme sempit akibat dikorupsi oleh bungkus kemasan ritual yang penuh hipokrisi dan politisasi agama.
Jika tidak…, maka menjadi benar apa yang dikatakan Plato bahwa manusia sesungguhnya adalah hewan berakal. Animale Rationale…..
Popularity: 11% [?]
- kleptokrasi (8)
- korupsi kemanusiaan (4)
- indra mulia syafutra (3)
- makna korupsi (3)
- dampak korupsi nilai- nilai kehidupan (3)
- hukuman mati koruptor di indonesia cuma retorika (2)
- makna kleptokrasi (2)
- dampak budaya korupsi dan kleptokrasi (2)
- political corruption inggris (1)
- retorika politik hukuman mati koruptor (1)












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)







sekian tahun perjalanan dunia pengadilan di Indonesia tersangka yang paling terhormat adalah koruptor
bisa dibandingkan dengan pencuri ayam
jika ingin jadi penjahat dan selamat
jadilah koruptor
yUK KITA KORUPSI…!
hlooo kan berjamaah…
p cabar
salam hangat dari blue
boleh kopi paste artikel nya mas hahahahahaha
genthokelir´s last blog ..Money Politik Pilkada Purworejo
monggo dipun sekecoaken…
Maaf, saya bingung dengan kalimat berikut: “Jika tidak…, maka menjadi benar apa yang dikatakan Plato bahwa manusia sesungguhnya adalah hewan berakal. Animale Rationale…..”. Mohon kawulo diberi penjelasan, Bung lantaran kawulo bingung nian membaca bagian sebelumnya “Saat ini, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa bangsa dan negeri ini hanya dengan kembali pada jiwa dan karakter kemanusiaan yang imanen-spiritual-transendental dengan totalitas ketauhidan tanpa tersekat-sekat sektarianisme sempit akibat dikorupsi oleh bungkus kemasan ritual yang penuh hipokrisi dan politisasi agama.”
Filsafat Konseling´s last blog ..Filsafat Ngeblog 1
“Saat ini, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa bangsa dan negeri ini hanya dengan kembali pada jiwa dan karakter kemanusiaan yang imanen-spiritual-transendental dengan totalitas ketauhidan tanpa tersekat-sekat sektarianisme sempit akibat dikorupsi oleh bungkus kemasan ritual yang penuh hipokrisi dan politisasi agama.”
intinya adalah kembali kepada ketauhidan, Ketuhanan Yang Maha Esa. bukan sekedar beragama, atau bahkan mempertuhankan agama itu sendiri.
jika itu tidak dilakukan maka, “…menjadi benar apa yang dikatakan Plato bahwa manusia sesungguhnya adalah hewan berakal. Animale Rationale…..”
hewan karena hidup dengan hanya menggunakan naluri dan instink primitif hewani, namun memiliki akal. sungguh tak terbayang jika seandainya seekor tikus memiliki akal seperti manusia. apa jadinya?