Saat tulisan ini dibuat proses pemilihan Ketua Umum Partai GOLKAR sedang berlangsung. Agenda yang dijadwalkan dimulai pukul 22.00 ternyata mengalami kemunduran waktu karena proses persidangan yang diwarnai kericuhan.
Protes dari beberapa pengurus daerah yang dicabut hak suaranya karena adanya masalah konflik internal di tingkat daerah yang memunculkan kepengurusan ganda yang saling berebut legitimasi untuk mendapatkan hak suara akhirnya membuat proses persidangan menjadi berlarut-larut hingga memicu suasana memanas.
Dalam proses pemilihan yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi swasta, terlihat betapa Partai Politik besar sekelas Partai GOLKAR yang sudah malang melintang dalam dunia persilatan politik dan pernah berkuasa 32 tahun di Indonesia, ternyata mempertontonkan sikap perilaku politik yang jauh dari etika kesantunan dan kearifan.
Saling berteriak, saling berebut bicara ditingkahi dengan sorakan-sorakan emosional seperti layaknya tawuran pelajar atau kesurupan massal mewarnai proses persidangan. Apakah ini memang wajah demokrasi yang ideal? Soegeng Sarjadi yang hadir sebagai pengamat politik, ironisnya memberikan ulasan bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah proses demokrasi yang baik sehingga bisa menjadi potret dari wajah demokrasi Indonesia.
Kita tentu tak habis pikir, kualitas politisi macam apa yang akan duduk di eksekutif maupun legislatif jika kita melihat sikap perilaku yang dipertontonkan tersebut. Eep Saefullah Fatah, boleh saja memberikan ulasan bahwa peristiwa tersebut adalah bumbu-bumbu dari proses politik yang terjadi. Namun pertanyaannya, apakah bumbu-bumbu tersebut menjadi boleh dan pantas dilakukan semata-mata untuk membenarkan proses demokrasi? Dengan kata lain, apakah demokrasi memang harus dibumbui oleh cara-cara tak beradab seperti yang dipertontonkan dalam Musyawarah Nasional Partai GOLKAR?
Jika benar Partai GOLKAR masih memegang teguh Pancasila sebagai ideologi partai, lantas dimana adanya prinsip-prinsip dasar demokrasi Pancasila yang diletakkan pada sila ke-empat yang jelas-jelas mengamanatkan adanya proses musyawarah yang penuh dengan hikmah kebijaksanaan?
Wajar saja bangsa ini ditimpa bencana alam beruntun jika mereka-mereka yang nantinya akan duduk menentukan kebijakan negara ternyata adalah sekumpulan manusia yang ternyata tak memiliki hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan sehingga menghalalkan segala cara demi memperoleh kekuasaan.
Popularity: 6% [?]












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)







Thats why they call it politic, all about the money saya pikir. Monarchy juga kali ya… entahlah!
pakde´s last blog ..Bersyukurlah pakDE!
Thats why they call it politic, all about the money saya pikir. Monarchy juga kali ya… entahlah!
PS. Comment disini koq susah ya??? kenapa sih mas?
pakde´s last blog ..Bersyukurlah pakDE!
mantap
barajakom´s last blog ..Cara Membuat Label di Blogspot
demokrasi vs democrazy
barajakom´s last blog ..How To Make Your Blog Load Faster
Met tahun baru mas, semoga ditahun yang baru kita punya semangat baru untuk terus belajar ngeblog dan tetap menjaga hubungan silaturrahmi
barajakom´s last blog ..Mbah Gendeng