Ketika anda membaca judul di atas, jangan lantas terburu-buru mengkaitkan tulisan ini dengan Boedhiono –cawapresnya SBY- yang saat ini lagi panik dikepung oleh tuduhan sebagai agen Neolib atau Neoliberalisme.
Adalah Suryaden dalam postingannya yang berjudul Persetan Neoliberalisme mencoba mempersetankan Neoliberalisme sebagai sebuah reaksi atas cara-cara black campaign yang digunakan dengan issue-issue -yang serba katanya- demi melakukan pembunuhan karakter –character assassination- atas diri seseorang.
Ada dua hal yang cukup mengganggu di dalam persoalan ini. Pertama, soal cara yang digunakan, yaitu pembunuhan karakter. Yang kedua adalah Neoliberalisme itu sendiri sebagai issue sentral yang digunakan. Dalam dunia politik yang sangat Machiavellis, pembunuhan karakter merupakan sesuatu yang dianggap wajar untuk dilakukan. Hal seperti ini tidak hanya terjadi baru-baru ini namun sudah terjadi sejak dulu di berbagai belahan dunia. Nampaknya cara-cara seperti itu sama tuanya dengan kejahatan prostitusi sejak awal adanya manusia di dunia ini.
Apa yang terjadi dengan Gajah Mada dengan perang Bubat adalah bentuk pembunuhan karakter yang dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya yang tidak suka dengan keberhasilan Gajah Mada untuk mempersatukan Nuswantara. Dan penyatuan Majapahit dengan Pajajaran melalui pernikahan antara Dyah Pitaloka dengan Prabu Hayam Wuruk adalah proyek politik pamungkas Gajah Mada untuk menyatukan Nuswantara demi memenuhi Sumpah Hamukti Palapa-nya. Oleh sebab itu, banyak pihak yang berkepentingan untuk menggagalkan upaya ‘koalisi’ Majapahit dan Pajaran yang ingin dilakukan oleh Gajah Mada. Keberhasilan Gajah Mada adalah ancaman politik bagi yang lain.
Demikian pula dengan apa yang terjadi terhadap Syekh Siti Jenar atau yang juga dikenal sebagai Syekh Lemah Abang, Jenar juga menjadi korban pembunuhan karakter yang dilakukan oleh para elit politik Demak dengan menstigma bahwa ajaran Syekh Siti Jenar adalah bid’ah hanya karena Jenar ingin memisahkan antara persoalan berTuhan dengan bernegara. Bagi kalangan yang masih bersetia dengan Majapahit dan kontra Demak, ajaran keislaman Jenar justru bisa diterima karena menjadi seorang muslim tidak berarti harus membuat mereka tunduk secara politik kepada Demak.
Sementara bagi elit politik Demak, ‘koalisi’ yang dibangun oleh Jenar dan Ki Ageng Pengging dianggap sebagai sebuah gerakan insubordinasi terhadap kekuasaan politik Demak. Demak berasumsi bahwa perluasan wilayah kekuasaan itu diukur dari seberapa banyak manusia jawa yang bisa di-islamkan. Semakin banyak yang masuk islam dan semakin luas sebarannya, semakin banyak pula wilayah yang masuk menjadi wilayah Demak.
Di Eropa pembunuhan karakter juga dilakukan. Apa yang terjadi dengan Joan of Arc, Galileo Galilei dan Markus Antonius memperlihatkan betapa pembunuhan karakter selalu mewarnai pertikaian antar elit kekuasaan diberbagai belahan dunia. Bahkan cerita seputar apa yang dilakukan oleh permaisuri raja Mesir yang mengaku telah mengalami pelecehan seksual oleh Nabi Yusuf juga kental dengan aroma pembunuhan karakter. Proses hijrahnya Muhammad SAW dari Mekkah ke Madina pun juga disebabkan oleh adanya pembunuhan karakter yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah terhadap Rasulullah.
Yang membedakan dengan apa yang terjadi saat ini adalah demikian pesatnya kemajuan teknologi hingga membuat issue yang digunakan mampu dikemas lebih indah dengan teknologi pemberitaan dan teknik pencitraan dalam rupa kemasan propaganda yang dilakukan oleh media massa baik cetak maupun elektronik. Dahulu kala, pembunuhan karakter hanya berada di wilayah pertarungan tertutup elit kekuasaan. Kini, dimana kedaulatan ada di tangan rakyat melalui demokrasi, kekuatan media massa menjadi alat yang paling efektif untuk berebut hegemoni atas ruang kesadaran rakyat melalui perang informasi yang sarat dengan konflik kepentingan para elit kekuasaan.
Selain itu di masa lalu dimana Hak Asasi Manusia belum menjadi issue sentral, pembunuhan karakter selalu diakhiri dengan pembunuhan manusianya untuk memastikan agar benih-benih ‘perlawanan’ tidak lagi muncul dan berkembang terbasmi sampai ke akar-akarnya.
Di sisi lain, pilihan issue Neoliberalisme yang dihadirkan sebagai stigma adalah alat pembunuh yang potensial digunakan untuk membangun suatu pencitraan buruk dan negatif terhadap obyek sasaran yang akan dieliminasi. Hal ini tak ubahnya persis dengan stigmatisasi yang dilakukan terhadap komunisme seperti yang dilakukan oleh rezim Orde Baru untuk membunuh lawan-lawan politiknya, juga kongruen dengan apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan stigmatisasi terorisme terhadap kelompok islam yang tak mau tunduk terhadap kepentingan negaranya.
Memunculkan issue Neoliberalisme sebagai momok yang menakutkan dan harus dibenci serta ramai-ramai dimusuhi, tanpa menjelaskan apa itu sesungguhnya Neoliberalisme, bagaikan membangun cerita tentang hantu di siang bolong untuk menakut-nakuti anak kecil agar mau tidur siang walaupun mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka takutkan. Bukankah ini merupakan sebuah proses pembodohan terhadap publik bahkan kejahatan terhadap publik, ketika publik didorong dan diarahkan dalam kesesatan pikir untuk suka atau tidak suka akan sesuatu tanpa mereka tahu tentang apa sesungguhnya sesuatu yang mereka suka atau tidak suka tersebut.
Kalau memang demikian, lalu apa itu Neoliberalisme?
Ada berbagai sudut pandang yang berkembang tentang pemahaman Neoliberalisme. Apapun perbedaan tersebut, nampaknya semua bersepakat bahwa Neoliberalisme tetap merujuk pada konsepsi dasar tentang liberalisme yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip utama pasar bebas dan perdagangan bebas –free markets and free trade-. Proses globalisasi mendorong terjadinya proses metamorphosis dari Liberalisme menjadi Neoliberalisme yang berambisi untuk merobohkan semua batasan yang menghambat keniscayaan terjadinya perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatkan standar hidup dengan meningkatkan arus perdagangan dan investasi.
Indah dan mulia sekali nampaknya, namun masalahnya kemudian, konsepsi ini diletakkan di atas tata bangunan sosial dunia yang penuh dengan kompetisi yang tidak setara, tidak seimbang dan diliputi ketidakadilan. Jurang sosial dan perbedaan tingkat ekonomi yang terjadi antara negara-negara belahan utara yang berteknologi tinggi dan berkesejahteraan maju dengan negara-negara belahan selatan yang miskin dan berteknologi rendah, hanya melahirkan terjadinya eksploitasi antar manusia dan eksploitasi antar bangsa -exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation- yang dilakukan oleh the ‘New’ Third Reich yang kemudian disebut oleh Bung Karno sebagai Nekolim -Neo Kolonialisme Imperialisme-.
Dengan semangat mengulang Imperialisme Romawi yang pernah jaya di masa lalu dengan melakukan aneksasi dan invasi keseluruh dataran Eropa, Afrika dan sebagian Asia, kini direpetisi dan dimodulir dalam skenario berbeda dengan berbaju konstitusi dan aturan hukum yang penuh dengan simbol-simbol hak asasi manusia dan issue-issue humanitarian. Koloni-koloni jajahan, dipetakan secara ekonomi berdasarkan potensi kekayaan alam dan jumlah penduduk sebagai potensi pasar yang prospektif bagi kepentingan para pemilik kapital dan teknologi.
Yang seharusnya diwaspadai dari neoliberalisme sejatinya bukanlah pada sosok neoliberalisme itu sendiri, tapi justru ketika Neoliberalisme ber-tiwikrama menjadi Neo Kolonialisme dan Imperialisme. Akan banyak Multinational Corporation (MNC) dan Trans National Corporation (TNC) yang akan menggantikan peran Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di masa lalu, tentu saja yang pada masa sekarang ini dikemas dengan bungkus yang jauh lebih rupawan dan menarik hati, namun sesungguhnya jauh lebih kejam dan biadab.
Pembunuhan karakter dan issue Neolib –Neoliberalisme- adalah dua hal yang saat ini menjadi realita politik yang ikut mewarnai Pilpres Pemilu 2009. Menuduh seseorang Neolib tanpa tahu apa itu Neolib, sama naifnya dengan seorang buta yang mengaku melihat badak di kolong tempat tidurnya. Apapun yang dilakukan elit politik saat ini, rakyat seharusnya belajar dari proses politik yang terjadi agar di kemudian hari menjadi semakin cerdas dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terima kasih kepada Suryaden yang sudah membantu meringankan saya dari sembelit politik.
Popularity: 4% [?]
- neolib (3)
- media massa dan neoliberalisme (2)
- mengenai neoliberalisme (2)
- neolib kenapa ditentang penduduk muslim (2)
- cache:LQmK2CfhTlgJ:itempoeti wordpress com/2009/06/01/neoliberalisme-2/ apa itu neolib (1)
- koment cut tary (1)
- neoliberalisme (1)
- perbedaan neolib dan liberal (1)
- pertarungan gajah dengan badak (1)












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
Like





[...] Saat ini, luas areal persawahan di Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo semakin menyempit karena ekspansi kawasan pemukiman di Solo dan sekitarnya yang mau tidak mau mengorbankan areal persawahan. Mungkin karena benar apa yang disebutkan dalam pepatah Jawa “angkuh kalah karo butuh“, ketika kebutuhan akan perumahan semakin meningkat, dan tidak ada kawasan lain yang bisa digunakan kecuali areal persawahan, runtuhlah keangkuhan untuk mempertahankan persawahan. Dalam hati saya juga menduga, jangan-jangan runtuhnya keangkuhan itu bukan semata-mata karena kebutuhan melainkan karena keangkuhan (atau kekuatan) kapitalisme. [...]
[...] dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan utama untuk bisa membuat [...]
gmana cra nanggepin orang2 yg slalu blang lw psngan cpres sby-boediono tuh neoloib,, sbnarnya sy jg g trlalu ngrti sh, tpi sy gk snang aj dngan cra pkir orng2 yg melht hx dr stu si2 sj…
ksiann kn pk SBY
ya ampun…
poto kopi opo iseng-iseng to iki
[...] dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan utama untuk bisa membuat [...]
Oh pasar bebas, ibarat petinju kelas bulu Vs Kelas berat, kasihan yah pengusaha lokal harus bersaing dengan negara Cina
memang kasihan… bukan hanya karena harus bersaing dengan produk China…
tapi kasihan punya pemerintah yang tak berpihak pada mereka…