Neoliberalisme -Neolib-

BANGKIT BERJUANG DEMI MASA DEPAN!!! ATAU DIAM.., MATI TERGILAS RODA SEJARAH!!!
Thursday March 18th 2010
Bookmark and Share

    Translate to:

Edition

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Archives

Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

My BlogCatalog BlogRank
Add to favourite links

blogarama - the blog directory
Subscribe in NewsGator Online
My Zimbio
Politics Blogs
Politics blogs
Politics
The Ubuntu Counter Project - user number # 28134

Add to Google Reader or Homepage

Valid CSS!
[Valid RSS]

Neoliberalisme -Neolib-

BlackWhiteNeoLibKills-02bwKetika anda membaca judul di atas, jangan lantas terburu-buru mengkaitkan tulisan ini dengan Boedhiono –cawapresnya SBY- yang saat ini lagi panik dikepung oleh tuduhan sebagai agen Neolib atau Neoliberalisme.

Adalah Suryaden dalam postingannya yang berjudul Persetan Neoliberalisme mencoba mempersetankan Neoliberalisme sebagai sebuah reaksi atas cara-cara black campaign yang digunakan dengan issue-issue -yang serba katanya- demi melakukan pembunuhan karakter –character assassination- atas diri seseorang.

Ada dua hal yang cukup mengganggu di dalam persoalan ini. Pertama, soal cara yang digunakan, yaitu pembunuhan karakter. Yang kedua adalah Neoliberalisme itu sendiri sebagai issue sentral yang digunakan. Dalam dunia politik yang sangat Machiavellis, pembunuhan karakter merupakan sesuatu yang dianggap wajar untuk dilakukan. Hal seperti ini tidak hanya terjadi baru-baru ini namun sudah terjadi sejak dulu di berbagai belahan dunia. Nampaknya cara-cara seperti itu sama tuanya dengan kejahatan prostitusi sejak awal adanya manusia di dunia ini.

Apa yang terjadi dengan Gajah Mada dengan perang Bubat adalah bentuk pembunuhan karakter yang dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya yang tidak suka dengan keberhasilan Gajah Mada untuk mempersatukan Nuswantara. Dan penyatuan Majapahit dengan Pajajaran melalui pernikahan antara Dyah Pitaloka dengan Prabu Hayam Wuruk adalah proyek politik pamungkas Gajah Mada untuk menyatukan Nuswantara demi memenuhi Sumpah Hamukti Palapa-nya. Oleh sebab itu, banyak pihak yang berkepentingan untuk menggagalkan upaya ‘koalisi’ Majapahit dan Pajaran yang ingin dilakukan oleh Gajah Mada. Keberhasilan Gajah Mada adalah ancaman politik bagi yang lain.

Demikian pula dengan apa yang terjadi terhadap Syekh Siti Jenar atau yang juga dikenal sebagai Syekh Lemah Abang, Jenar juga menjadi korban pembunuhan karakter yang dilakukan oleh para elit politik Demak dengan menstigma bahwa ajaran Syekh Siti Jenar adalah bid’ah hanya karena Jenar ingin memisahkan antara persoalan berTuhan dengan bernegara. Bagi kalangan yang masih bersetia dengan Majapahit dan kontra Demak, ajaran keislaman Jenar justru bisa diterima karena menjadi seorang muslim tidak berarti harus membuat mereka tunduk secara politik kepada Demak.

Sementara bagi elit politik Demak, ‘koalisi’ yang dibangun oleh Jenar dan Ki Ageng Pengging dianggap sebagai sebuah gerakan insubordinasi terhadap kekuasaan politik Demak. Demak berasumsi bahwa perluasan wilayah kekuasaan itu diukur dari seberapa banyak manusia jawa yang bisa di-islamkan. Semakin banyak yang masuk islam dan semakin luas sebarannya, semakin banyak pula wilayah yang masuk menjadi wilayah Demak.

Di Eropa pembunuhan karakter juga dilakukan. Apa yang terjadi dengan Joan of Arc, Galileo Galilei dan Markus Antonius memperlihatkan betapa pembunuhan karakter selalu mewarnai pertikaian antar elit kekuasaan diberbagai belahan dunia. Bahkan cerita seputar apa yang dilakukan oleh permaisuri raja Mesir yang mengaku telah mengalami pelecehan seksual oleh Nabi Yusuf juga kental dengan aroma pembunuhan karakter. Proses hijrahnya Muhammad SAW dari Mekkah ke Madina pun juga disebabkan oleh adanya pembunuhan karakter yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah terhadap Rasulullah.

Yang membedakan dengan apa yang terjadi saat ini adalah demikian pesatnya kemajuan teknologi hingga membuat issue yang digunakan mampu dikemas lebih indah dengan teknologi pemberitaan dan teknik pencitraan dalam rupa kemasan propaganda yang dilakukan oleh media massa baik cetak maupun elektronik. Dahulu kala, pembunuhan karakter hanya berada di wilayah pertarungan tertutup elit kekuasaan. Kini, dimana kedaulatan ada di tangan rakyat melalui demokrasi, kekuatan media massa menjadi alat yang paling efektif untuk berebut hegemoni atas ruang kesadaran rakyat melalui perang informasi yang sarat dengan konflik kepentingan para elit kekuasaan.

Selain itu di masa lalu dimana Hak Asasi Manusia belum menjadi issue sentral, pembunuhan karakter selalu diakhiri dengan pembunuhan manusianya untuk memastikan agar benih-benih ‘perlawanan’ tidak lagi muncul dan berkembang terbasmi sampai ke akar-akarnya.

Di sisi lain, pilihan issue Neoliberalisme yang dihadirkan sebagai stigma adalah alat pembunuh yang potensial digunakan untuk membangun suatu pencitraan buruk dan negatif terhadap obyek sasaran yang akan dieliminasi. Hal ini tak ubahnya persis dengan stigmatisasi yang dilakukan terhadap komunisme seperti yang dilakukan oleh rezim Orde Baru untuk membunuh lawan-lawan politiknya, juga kongruen dengan apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan stigmatisasi terorisme terhadap kelompok islam yang tak mau tunduk terhadap kepentingan negaranya.

Memunculkan issue Neoliberalisme sebagai momok yang menakutkan dan harus dibenci serta ramai-ramai dimusuhi, tanpa menjelaskan apa itu sesungguhnya Neoliberalisme, bagaikan membangun cerita tentang hantu di siang bolong untuk menakut-nakuti anak kecil agar mau tidur siang walaupun mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka takutkan. Bukankah ini merupakan sebuah proses pembodohan terhadap publik bahkan kejahatan terhadap publik, ketika publik didorong dan diarahkan dalam kesesatan pikir untuk suka atau tidak suka akan sesuatu tanpa mereka tahu tentang apa sesungguhnya sesuatu yang mereka suka atau tidak suka tersebut.

Kalau memang demikian, lalu apa itu Neoliberalisme?

Ada berbagai sudut pandang yang berkembang tentang pemahaman Neoliberalisme. Apapun perbedaan tersebut, nampaknya semua bersepakat bahwa Neoliberalisme tetap merujuk pada konsepsi dasar tentang liberalisme yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip utama pasar bebas dan perdagangan bebas –free markets and free trade-. Proses globalisasi mendorong terjadinya proses metamorphosis dari Liberalisme menjadi Neoliberalisme yang berambisi untuk merobohkan semua batasan yang menghambat keniscayaan terjadinya perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatkan standar hidup dengan meningkatkan arus perdagangan dan investasi.

Indah dan mulia sekali nampaknya, namun masalahnya kemudian, konsepsi ini diletakkan di atas tata bangunan sosial dunia yang penuh dengan kompetisi yang tidak setara, tidak seimbang dan diliputi ketidakadilan. Jurang sosial dan perbedaan tingkat ekonomi yang terjadi antara negara-negara belahan utara yang berteknologi tinggi dan berkesejahteraan maju dengan negara-negara belahan selatan yang miskin dan berteknologi rendah, hanya melahirkan terjadinya eksploitasi antar manusia dan eksploitasi antar bangsa -exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation- yang dilakukan oleh the ‘New’ Third Reich yang kemudian disebut oleh Bung Karno sebagai Nekolim -Neo Kolonialisme Imperialisme-.

Dengan semangat mengulang Imperialisme Romawi yang pernah jaya di masa lalu dengan melakukan aneksasi dan invasi keseluruh dataran Eropa, Afrika dan sebagian Asia, kini direpetisi dan dimodulir dalam skenario berbeda dengan berbaju konstitusi dan aturan hukum yang penuh dengan simbol-simbol hak asasi manusia dan issue-issue humanitarian. Koloni-koloni jajahan, dipetakan secara ekonomi berdasarkan potensi kekayaan alam dan jumlah penduduk sebagai potensi pasar yang prospektif bagi kepentingan para pemilik kapital dan teknologi.

Yang seharusnya diwaspadai dari neoliberalisme sejatinya bukanlah pada sosok neoliberalisme itu sendiri, tapi justru ketika Neoliberalisme ber-tiwikrama menjadi Neo Kolonialisme dan Imperialisme. Akan banyak Multinational Corporation (MNC) dan Trans National Corporation (TNC) yang akan menggantikan peran Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di masa lalu, tentu saja yang pada masa sekarang ini dikemas dengan bungkus yang jauh lebih rupawan dan menarik hati, namun sesungguhnya jauh lebih kejam dan biadab.

Pembunuhan karakter dan issue Neolib –Neoliberalisme- adalah dua hal yang saat ini menjadi realita politik yang ikut mewarnai Pilpres Pemilu 2009. Menuduh seseorang Neolib tanpa tahu apa itu Neolib, sama naifnya dengan seorang buta yang mengaku melihat badak di kolong tempat tidurnya. Apapun yang dilakukan elit politik saat ini, rakyat seharusnya belajar dari proses politik yang terjadi agar di kemudian hari menjadi semakin cerdas dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terima kasih kepada Suryaden yang sudah membantu meringankan saya dari sembelit politik.

Popularity: 3% [?]

Reader Feedback

75 Responses to “Neoliberalisme -Neolib-”

  1. nirwan says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    liberalisme dan libido emang gak beda-beda jauh. yg satu pake dasi, yg satu bugil … :D
    —————

    kalau yang pakai topi apa tuch namanya??? :D

    [Reply]

  2. sendit says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Arep neo-lib..neo-kolonialisme…sing penting urip damai2 wae….:)

    http;//sendit.wordpress.com
    ————–

    iso??? piye carane??? wakakakakak… :D

    [Reply]

  3. Neng Aia says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    untung aku ga ikutan maen tuduh²an.. soalnya ga tau apa itu neoliberalisme. taunya cuman :

    ne-liberalis-me

    selainnya? ntaaaaah…

    *ra melu-melu aku* hihihihii…
    ————–

    (doh) terkontaminasi Senoaji…
    bad influence… (lmao)

    untungnya gak terkontaminasi main tuduh2an… :D

    [Reply]

  4. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Jika mas (duuch saya dikemplang gak ya sama mbak wewarna manggil suami orang mas )
    ya sudah dipanggil bapak saja…

    Kalo bapak berterima kasih kepada suryaden, maka saya berterima kasih kepada bapak.
    karena melalui postingan ini saya mendapat gambaran jelas mengenai apa itu Neoliberalisme plus contoh2 pembununuhan karakter dalam sejarah bangsa ini.

    Pembunuhan karakter yang dilontarkan… sepertinya ada giginya.. karena polling terakhir no urut 3 malah unggul jauh…
    Saya ndak membela pasangan manapun… baik jurus2 yang dilontarkan untuk menang bagaimana, namun seyogyanya tetap dilakukan dalam kebersihan (mimpi)
    ————–

    jadi berasa tua dipanggil bapak. masak manggil istri saya mbak, manggil saya bapak… wakakakakak… :D

    jangan percaya sama polling. hasil polling bisa dipesen kok…

    yang penting saling berterimakasih. terima kasih juga buat kunjungan dan komentarnya. :)

    [Reply]

  5. coky says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    tuh kan jadi jelas. kalo neo itu baru lib itu liberal, sedangkan liberalisme adalah faham…
    faham!!!!
    sebenarnya udah jelas semua to..!!! yo kalo udah jelas
    ya wis.. kulo iso mulih lantas turu.
    cuma yg masih difikir and sulit turu..koq masih menjamur banyak pedagang k5 yang liar dikejar, dihajar.
    emang solusinya gitu to..tapi mega supermarket makin subur, mart kecil ada di gang2. jadi….gimana to ?
    ————–

    REVOLUSI !!!

    [Reply]

  6. Uchan says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Semua presiden RI harus jadi anteknya amrik kalo menurut saya lho. Pak Harto ketika sudah merasa hebat dan mengeluarkan statement. “Amerika Go to Hell!!”, langsung dibombardir sama Soros. Rupiah langsung dibikin jadi 15rb.

    Kalo emang berani, negara dan rakyat musti bersatu, model2 Ahmadinnejad di Iran. Hidup miskin bareng2. Resikonya dibilang teroris, diembargo abis2an (palestina), dsb.
    —————

    gak mungkinlah… rakyat kita yang hobby dugem dan ke mall pasti protes… anak2 remaja penggemar MTV juga protes… sarjana dan akademisi lulusan amerika juga protes… mall dan plasa yang menjual produk amerika juga protes… gang motor harley davidson di indonesia juga protes… penggemar american idol juga protes… pengemar facebook pasti demo…

    jadi gak ada ceritanya rakyat indonesia bisa bersatu seperti di Iran…

    anak bangsa ini sudah terlalu banyak yang jadi pelacurnya amerika… mental pecundang tapi mau dibilang hebat seperti tuannya…

    [Reply]

  7. S™J says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    weh “abang” saya juga disebut2… :cool:
    —————

    adiknya yang belum kesebut… hehehehe… :D

    [Reply]

  8. Lambang says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Udah baca tiga kali balik masih belum mudeng juga.

    Rangkuman:

    Boediono dituduh neolib dalam rangka pembunuhan karakter. Neolib adalah free markets and free trade, dan ini harus ditentang karena bisa menimbulkan exploitasi negara kaya terhadap negara miskin.

    Bukankah sejak jaman Soeharto sampai sekarang ini ideologi neolib ini sudah dilakukan walaupun tersamar? Contohnya Freeport, ladang minyak dan gas bumi (Tangguh, Cepu, Gresik), perkebunan di Kalimantan dan Sumatera, diversifikasi saham Indosat, Telkom, Astra, BCA, dan pompa bensin Shell + Petronas (http://www.kapanlagi.com/h/0000074923.html).

    Yang belum mudeng, kenapa ya baru sekarang neolib dianggap setan belang, setelah kekayaan alam Indonesia dikeruk habis-habisan oleh bangsa asing?

    Salam.
    ————–

    Yaaa…, karena wacana Neolib seperti juga facebook lagi ngetrend2nya sekarang ini…

    Akhirnya semua ikut2an latah ngebahas supaya dibilang ngetrend walaupun sebenarnya gak ngerti apa yang dimaksud dengan Neolib.

    Walaupun ujung2nya sama, di jaman soeharto cara2 yang digunakan masih menggunakan cara menempel pada rezim kekuasaan yang menindas seperti yang dilakukan juga dengan Marcos di Philipine.

    Tapi cara Neolib yang sekarang menggunakan simbol demokrasi dan HAM yang dikemas dengan aturan hukum dengan mempengaruhi perundang-undangan. Lihat aja Undang-Undang tentang Air, Pertambangan juga tentang privatisasi BUMN. Dan masih banyak lagi yang lain.

    [Reply]

  9. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    neolib(erasime) itu sekedar utopia, praktek jadi lain cerita. Indah jika sebagian besar pemain dunia sedang di atas angin, tapi begitu dihantam krisis, pada terbirit-birit ganti haluan semua.

    P.S.: Bro, kalo posting topik-topik model gini, bagi referensinya dong… jangan bikin aku mati penasaran, mau baca dan buktikan sendiri. :mrgeen:
    —————

    Neoliberalisme bukan utopia…
    Karena memang ada hidden agenda dibalik itu semua…

    Krisis Wall Street cuma shock therapy kecil supaya mereka tahu bahwa di atas langit masih ada langit…

    ps.
    Jangan bilang2 yaaa… Referensinya minta sama mbah gugel… supaya gak penasaran enakan kita diskusi sambil ngopi… gimana? hahahahahaha… :D

    [Reply]

  10. nur ichsan says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    wah… jadi bingung nich baca…
    —————

    saya aja yang nulis bingung… wakakakakak… :D

    [Reply]

  11. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    hmmm… aku ga nolak lho kalo diajak ngopi :mrgreen:
    ————–

    tinggal kita atur waktu dan tempatnya… hehehehe… asyik nich kayaknya… :D

    [Reply]

  12. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    “Yang seharusnya diwaspadai dari neoliberalisme sejatinya bukanlah pada sosok neoliberalisme itu sendiri, tapi justru ketika Neoliberalisme ber-tiwikrama menjadi Neo Kolonialisme dan Imperialisme”

    Dan akan banyak pemandangan dengan tulang/tengkorak berserakan seperti ilustrasi di atas… ya kan?

    btw, tetep konsisten neh itempoeti :)
    —————

    Semoga tetap bisa konsisten.., agar tak lagi ada tulang/tengkorak yang berserakan… :)

    [Reply]

  13. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Assalamualaikum ya ayyuhal ikhwah

    Simak Terus Update Diskusi antara Mantan HT vs Aktifis HT di :
    http://mantanht.wordpress.com
    dan simak terus Tulisan tulisan terbarunya hanya di :
    http://mantanht.wordpress.com
    Semoga bermanfaat

    Barokallohufikum

    [Reply]

  14. KangBoed says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    *lirik atas mpe dengak*… jadi mau kapan yaaa kumpul kumpul di warung kopi… *biar gak di sebut neolib*… padahal minum coffee di caffeee… hihihi… :mrgreen:

    Salam Sayang
    Salam Rindu untukmu… :lol:
    —————

    segera Kang… segera… lagi atur waktu… Kircon-Pasir Kaliki kan gak jauh… Bisa ketemuan di Garut… hloooohhhh… wakakakakak… :D

    [Reply]

  15. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Nyerah Kang…. ngga bisa koment banyak2
    ————–

    jangan suka merendah… justru yang gak komen banyak biasanya yg dahsyat… :D

    [Reply]

  16. itmam says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    (menyapa sahabatku dulu)
    gmn kabar kawan?
    ————–

    alhamdulillah sobat… masih banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Nya… senang rasanya dikunjungi anda… :D

    [Reply]

  17. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Saya juga punya artikel yang serupa tentang neolib di Neolib Bisa Bikin Kenyang ?
    —————

    Nanti saya nengokin kesana… :)

    [Reply]

  18. Unknown Unknown

    [...] 14, 2009 itempoetiKhoe Seng Seng dan Prita Mulyasari; Gagalnya Sebuah Negara Juni 8, 2009 itempoetiNeolib -Neoliberalisme- Mei 31, 2009 itempoetiSembelit Politik Mei 26, 2009 itempoetiKekuatan Sebuah Komentar Mei 21, 2009 [...]

  19. Andy MSE says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    liberalisme ono hubungane karo kapitalisme pora kang???

    [Reply]

  20. Unknown Unknown

    [...] Saat ini,  luas areal persawahan di Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo semakin menyempit karena ekspansi kawasan pemukiman di Solo dan sekitarnya yang mau tidak mau mengorbankan areal persawahan. Mungkin karena benar apa yang disebutkan dalam pepatah Jawa “angkuh kalah karo butuh“, ketika kebutuhan akan perumahan semakin meningkat, dan tidak ada kawasan lain yang bisa digunakan kecuali areal persawahan, runtuhlah keangkuhan untuk mempertahankan persawahan. Dalam hati saya juga menduga, jangan-jangan runtuhnya keangkuhan itu bukan semata-mata karena kebutuhan melainkan karena keangkuhan (atau kekuatan) kapitalisme. [...]

  21. Unknown Unknown

    [...] dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan utama untuk bisa membuat [...]

  22. agustin says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    gmana cra nanggepin orang2 yg slalu blang lw psngan cpres sby-boediono tuh neoloib,, sbnarnya sy jg g trlalu ngrti sh, tpi sy gk snang aj dngan cra pkir orng2 yg melht hx dr stu si2 sj…
    ksiann kn pk SBY

    [Reply]

  23. suryaden says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    ya ampun…

    poto kopi opo iseng-iseng to iki :D

    [Reply]

  24. WordPress 2.8.4 WordPress 2.8.4

    [...] dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan utama untuk bisa membuat [...]

Leave a Reply

CommentLuv Enabled



UA-11099112-1