Tentu banyak dari anda yang sudah pernah membaca novel karangan Eiji Yoshikawa berjudul Musashi. Novel yang ditulis berdasarkan perjalanan hidup seorang Samurai yang bernama Miyamoto Musashi yang hidup di tahun 1584-1645. Sebuah kisah yang menceritakan bagaimana perjalanan seorang Musashi hingga menjadi seorang samurai yang disegani sampai pada akhirnya berkesudahan tragis sebagai seorang ronin.
Istilah Ronin mulai dikenal sejak periode kekuasaan Nara (710-794) dan Herian (794-1185) dalam kronik sejarah Jepang klasik. Awalnya istilah ini digunakan sebagai penyebutan kepada budak yang ‘desertir’ atau melarikan diri dari tuan tanah. Namun kemudian istilah tersebut akhirnya digunakan untuk menyebut para samurai yang telah kehilangan tuannya.
Para Samurai adalah orang-orang yang dilatih berbagai kemampuan ilmu bela diri sehingga memiliki kemampuan tempur tinggi dan sangat diandalkan oleh para daimyo (bangsawan) dan para shogun (panglima perang). Mereka memiliki kode etik keprajuritan yang dikenal dengan nama Bushido Shoshinshu atau semangat Bushido. Semangat pantang menyerah sampai titik darah penghabisan dalam membela tuannya sekalipun harus harakiri mati bersama-sama musuh. Bahkan ketika mereka gagal membela tuannya, mereka juga melakukan oibara seppuku,
sebuah upacara ritual bunuh diri.
Para Ronin adalah para Samurai yang telah kehilangan tuannya tapi tidak melakukan baik harakiri maupun seppuku. Mereka memilih untuk terus hidup dengan mengambil resiko melanggar kode etik Bushido Shoshinshu dan rela kehilangan kehormatannya sebagai Samurai dan direndahkan oleh masyarakat.
Dengan hanya berbekal pengetahuan bela diri yang tinggi akhirnya mereka menjalani sisa hidupnya dengan cara-cara berdasarkan keahlian yang mereka pelajari selama hidupnya, yaitu bertempur dan membunuh.
Ronin adalah sebuah instrumen yang gagal dari sebuah sistem kekuasaan ketika itu. Dan kini, sejak berakhirnya Restorasi Meiji pada tahun 1912, Ronin dan para Samurai hanya tersisa menjadi penggalan sejarah masa lalu yang melegenda. Namun semangat para Ronin ternyata masih terus diimani hingga kini.
Ronin dalam bentuk, versi dan kemasan baru bermunculan sesuai dengan perkembangan politik kekuasaan. Bentuk, nama mungkin berbeda, namun zat, sifat dan af’al-nya masih sama. Ronin-ronin kini mengejawantah dalam instrumen kekuasaan yang menjadi bagian dari korporatisme Negara.
Korporatisme Negara tentu berbeda pemaknaan dengan korporasi dalam konteks mikro ekonomi. Korporatisme Negara adalah sebuah disain politik yang memperkuat kontrol negara secara hirarkis, seragam dan tunggal terhadap ranah publik dan kelompok-kelompok kepentingan di masyarakat dalam unit-unit fungsi yang diciptakan dan dipakai sebagai organ pembantu untuk melayani kepentingan Negara.
Soeharto dengan Orde barunya berhasil menciptakan Korporatisme Negara. Penetapan Pancasila sebagai asas tunggal dalam pemaknaan subyektif kekuasaan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, juga pembentukan unit-unit fungsi yang terdiri dari kelompok kelompok kepentingan masyarakat merupakan karya besar Soeharto dalam membangun kekuasaannya.
Beberapa unit fungsi seperti antara lain : Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang didirikan pada 26 Juli 1975 di Jakarta, Komite Nasional Pemuda Indonesia yang dideklarasikan pada 23 Juli 1973 di Jakarta, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang berdiri pada tanggal 20 Februari 1973, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) –yang sekarang diketuai oleh Prabowo salah satu cawapres mantan menantu Soeharto- didirikan pada 27 April 1973 di Jakarta, dan masih banyak lagi organisasi serupa (silakan cari di Google) bentukan Soeharto di masa Orde Baru yang secara hirarkis, seragam dan tunggal memang diciptakan dan dipakai untuk melayani kekuasaannya selama 32 tahun.
Kini, setelah 11 tahun majikan besarnya lengser dari singgasana kekuasaannya bahkan meninggal dunia pada tanggal 27 Januari 2008 lalu, organisasi-organisasi tersebut yang dulu malang melintang sebagai Samurai-samurai dari Soeharto dengan rezim Orde Barunya masih eksis berdiri mengejawantah menjadi Ronin-ronin baru.
Maka jangan heran dan bingung jika melihat fenomena KNPI terpecah menjadi dua kepengurusan, MUI mengeluarkan fatwa yang aneh-aneh, juga demo buruh besar-besaran, ataupun malah ada yang mencari majikan-majikan baru untuk dilayani.
Itulah ronin-ronin versi baru dalam peta politik kekuasaan demokrasi liberal Indonesia saat ini.
Popularity: 4% [?]











![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
Like








begitulah jadinya dari pendidikan setengah matang, sayang memang pendidikan paling patriotis di negeri inipun berasal dari sebuah kata matang enggak mentah enggak … magel,… memang Tuhan dengan kuasa takdirmya berperan pula. Bukan itu pula pendidikan setengah niat dari orba juga menghasilkan para samurai setengah matang yang selalu mencari tuan, entah kepada siapa mengabdi meskipun harus berhutang ke negeri dajal…
————–
setuju… sampai-sampai sistem pendidikan kita sampai hari inipun hanya bisa menghasilkan ronin-ronin baru…
[Reply]
ketika penguasa membuat ronin-ronin guna melanggengkan kekuasaannya…,
ketika penguasa telah tiada, para ronin-ronin ini berebut kue kekuasaan…,
yang menang mbikin ronin lagi…
rebutan lagi…
bikin lagi…
itulah siklus alamiah kekuasaan dimanapun berada…
—————
adakah harus demikian adanya??? ataukah itu bagian dari proses pencarian jati diri kemanusiaan untuk mencapai kesempurnaannya sebagai manusia???
[Reply]
kek semacam siklus gitu ya mas?
(doh) aku parah banget klo masalah pulitik..
—————
memang ber-rotasi secara siklikal… tapi apakah ini sebuah siklus? rasanya tidak… Sang Khalik tak pernah sekalipun menciptakan siklus kejahatan… hanya manusia yang selalu mengulang kesalahan yang sama…
[Reply]
Kembali kepada HATI NURANI… MORAL para ZOMBIE.. eee.. koook ZOMBIE yaaaa.. sadis banget
Salam Sayang
Salam Rindu untukmu..
————–
Ronin dan zombie memang beda2 tipis… sama2 telah kehilangan BUDI NURANI kemanusiaan…
Saya masih ada utang sama kangBoed… Jadi malu…
Salam sayang dan rindu juga untuk kangBoed sakaluwargi…
[Reply]
Sebuah ketakutan besar bila terjadi reinkarnasi kekuasaan
senyawa dari unsur-unsur kekuasaan masa lalu memang masih hidup
bahkan mungkin ada yang menyatu dalam kejiwaan negeri dan menyatu dengan budaya.
—————
Oleh sebab itu perlu dilakukan perbaikan tata nilai, budaya, sikap perilaku, sistem dan struktur dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara…
[Reply]
kalo yang musashi dah baca 7 kali
kalo yang ronin orba belom tau bos… penerbitnya mana? (gaptek mode on)
————–
bukunya belum ditulis…, soalnya peristiwanya hingga kini masih berlangsung…
[Reply]
Wah saya gak ngerti cerita
————–
yang tidak ngerti itulah yang sesungguhnya paling ngerti…
[Reply]
Oooo… ronin itu kayak gitu to?? baru tahu nih!
Aku kalau mbaca di sini kok mesti pusing ya?
————–
hlaaa mbacanya sambil muter2… mesti aja pusing… wakakakakak…
[Reply]
Eh, banyak juga lho ronin lawas yang direkrut jadi samurai penguasa baru… haks
—————
oooohhh iyaaaa…, ronin jadi penguasa baru terus rekrut temennya untuk jadi Samurainya… jiyaaahhhh…
[Reply]
@cahsoleh : Waahh kalo perekrutan orang lama itu sudah jadi budaya pakdhe…
————–
yang ngerekrut ronin…, yang direkrut juga ronin… (doh)
[Reply]
Ronin atau samurai adalah bagian dari sejarah..
Lembaga2 gadangan Daimyo Orde baru itu hanya sekedar lembaga, apakah punya peran berarti dan memberi arti bagi rakyat … atau malah jadi kantong semar birokrat … atau sekedar monumen yang kalo ketawa giginya ompong..semua terpulang ke figure utama yang mengkomandaninya (kualitas fungsionarisnya).
Halah ngomong opo aku iki..?? BTW jadi kangen sama Otsu (blush)
—————
salah satu ciri khas seorang Ronin adalah kemampuannya untuk bermimikri merubah identitas untuk mengelabui lawan2nya… wakakakakakak…
[Reply]
kalau di negara saya yang menjadi samurai adalah para pejabat sedangkan yang menjadi para daimyo adalah rakyat..
dalam acara mimpi kali yeee
————–
wakakakakakakak….
[Reply]
untuk mempertahankan kekuasaan, segala cara dilakukan
—————
yup…, itulah prinsip Machiavelli tentang kekuasaan
[Reply]
Saya mempunyai samurai terbaru, tajam baget! ada yang mau bergabung?
Popop
-ronin dengan samurai panjang
—————
apa masih lengkap dengan asahan dari berlian di sarungnya???
[Reply]
salah satu ciri khas seorang Ronin adalah kemampuannya untuk bermimikri merubah identitas untuk mengelabui lawan2nya…
—
jadi, ronin itu mirip2 bunlon ya? itu yang bahaya!… bisa jadi tampilannya sederhana, nyatanya neolib… saya jadi ingat, banyak konglo itu tampilannya sederhana, ternyata bukan karena mereka tidak mampu beli yang mahal, melainkan:
1. menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka pro wong cilik.
2. kepuasan batinnya bukan pada penggunaan melainkan pada pengerukan.
3. mereka jadi begitu karena sejak awal memang pelit, saking-sakingnya mereka juga pelit terhadap diri sendiri.
4. ah, sudahlah!…
—————
kenikmatan dan kepuasan yang mereka peroleh adalah dengan melakukan penguasaan dan eksploitasi. bukan dengan membelanjakan atau menggunakan apa yang mereka peroleh.
justru tampilan kesederhanaan dilakukan untuk penyesatan agar mereka lebih leluasa untuk bermanuver dalam melakukan aksi-aksinya.
[Reply]
tapi ronin di tanah air bukannya direndahkan masyarakat malah punya status yang diakui… gimana tuh Bro
—————
dalam tradisi masyarakat Jepang kuno yang menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya, adalah aib ketika mereka tidak menjalankan tradisi yang dipegang teguh.
[Reply]
dan para ronin orba tersebut tidak ada tradisi harakiri ya?
doh, saya belom baca novelnya, ngeri karo kuandele…
—————
iyooo pancen… awang2en ndelok kandhele…
nek ono tradisi harakiri… wis ra ono kuwi ronin-ronin orba…
[Reply]
Bertahannya ronin, ternyata melahirkan ronin baru. Pecahnya KNPI dipicu karena ronin tidak ingin menjadi budak, tapi mereka juga ingin menjadi majikan. Ini bisa dilihat dari salah satu dedengkot KNPI yang mendirikan partai pemuda. Sementara MUI gemar mencari sensasi.
—————
sayangnya sejak dari awal mereka sudah di desain sebagai alat kekuasaan. jadi sampai kapanpun mereka tak bisa jadi majikan pengguna alat.
[Reply]
gak pernah baca musashi…
ronin?keknya bny disini mah
—————
baca dong teh… seru dech…
btw, emang banyak…. hihihihihihihi…
[Reply]
bedanya
pada ronin asli jepang mereka masih mempunyai wibawa dalam bermasyarakat
namun pada “ronin” di negeri ini, tak punya wibawa pun ngakunya berwibawa
—————
dimana2 yang tiruan pasti lebih jelek dari aslinya… wakakakakak…
[Reply]
meski malam gelap gulita sang surya masih tetap ada.Meski hidup didera derita Allah tetap setia menyertai umatNya dengan kuasa kasihNya.MANUSIA BOLEH KEHILANGAN SEGALANYA ASAL JANGAN KEHILANGAN HARAPAN,semuanya akan menjadi baik bila rasa cinta tanah air tetap terjaga.
[pro exclesia at patria]
—————
woooowww….
can’t agree more… setuju banget sama yang kung…
sungkem katur yang putri…
[Reply]
ronin yang suka mengharamkan hal yang gak seharusnya diharamkan…. sama sekali gak punya harga diri. harakiri aja sono!
—————
dasar mental pecundang… harakiri aja gak berani…
[Reply]
wah, analisis legenda klasik jepang yang lengkap, cerdas, dan mencerahkan, mas itempoeti. novel musashi seperti membangkitkan kembali romantisme sekaligus juga tragisme hidup para rorin yang pada akhirnya harus menjalani sisa2 hidup yang getir dan merana setelah kehilangan sang majikan. dalam konteks keindonesiaan, ronin agaknya telah menjelma menjadi petualang2 politik yang terus berupaya mencari simpati melalui berbagai lini masyarakat agar bisa kembali membangkitkan romantisme kejayaan masa silamnya. atau, jangan2 kita memang sudah masuk dalam perangkap dan jebakan para rorin di tengah korporatisme negara yang makin abu2, bahkan tak jelas lagi warnanya. doh!
————–
tepat sekali kang sawali… tepat sekali…..
[Reply]
jadi inget waktu numpang belajar di kelas satra jepang niihh..
————–
waduuuuuhhh… jadi maluuuu… ada pakarnya ternyata…
[Reply]
ooo.. hutang apa yaaaa.. hehehe… maklum pelupa neeeeh.. biasa OON teeeaaaaa..
Salam Sayang
—————
nanti juga tahu…. salam sayang jugaaa…
[Reply]
Baca2 sambil belajar…
Sukses terus buat itempoeti…
—————
Menjura kepada Bapak Guru…
[Reply]
ronin-ronin itu masih punya taji nggak ya…
kalau nggak punya tuan ya mendingan memihak kebenaran aja, membantu rakyat kecil, kaya zato ichi….
—————
taji punya…
hati nurani yang gak punya… karena mereka cuma mesin yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan si pengguna…
[Reply]
korporatisme.
istilah baru bagi diriku. barusan kemarin baca ulasan kwik kian gie tentang pidato boediono yang menyangkut korporatokrasi, sekarang sudah muncul lagi di blog ini.
apakah ini satu bentuk kesalahan atau keunggulan negara, aku belum bisa menagkap maknanya.
om, model apakah yang bisa menjadi penyeimbang korporatokrasi ini? lsm/ngo kah?
kalo mikirin negara emang lebih banyak puyengnya
————–
korporatisme negara sudah saya definisikan dalam tulisan saya. Sedang istilah korporatokrasi lebih pada pemahaman korporasi sebagai pelaku ekonomi.
namun korporatokrasi lebih ingin menekankan tentang bagaimana kekuasaan politik sesungguhnya dipegang oleh para korporasi, baik TNC maupun MNC.
korporatokrasi, terdiri dari korporasi + kratos.
kratos adalah kekuasaan. seperti halnya demokrasi, dimana demos = rakyat. juga theokrasi, dimana theo/theis = tuhan.
[Reply]
Jangan-jangan kita adalah salah satu dari ronin-ronin itu… (doh)
[Reply]
Mushashi baca 1 x
Taiko aq punya dan baca 4 x
tapi masih kalah sama kang Suwung yg baca (mushashi) sampe 7x
tp baca tulisan ini, baru tau kalo banyak ronin di jalanan…keren gak sih
—————
keren yaaa… ternyata di indonesia roninnya lebih banyak daripada di jepang… wakakakak…
[Reply]
kapan mbahas hari poter?
[Reply]
sik kosimik… tak nyilih bukune karo anakku… rung moco jeee… (doh)
[Reply]
Pastinya tidak semua ronin–dan dalam perkembangannya– bermasalah, itu jika kita mengacu pada legenda Musashi..
Btw, this is a great post
[Reply]
setuju… memang tidak sedikit ronin yang bisa menjalani sisa hidupnya dengan penuh pertobatan… namun di Indonesia nampaknya yg seperti itu bisa dihitung dengan jari… btw, what a great comment…
[Reply]
hmm ronin in itu kayak samurai dijaman jepang gt kan bro hmm iya maka dari itu jepang bisa maju soalnya ronin nya dulu pada kenal malu and mau berjuang ya ada harakiri gt heheh salam kenal ya brother
[Reply]
salam kenal juga Bro…
mereka memang punya disiplin dan code of honour yang sangat kuat dalam menjaga tradisi… tak heran mereka bisa maju…
[Reply]
Tulisan yang cerdas
Karena budaya kita tidak mengenal bunuh diri jangan kita mengidap sindrom gedibal mencari-cari majikan baru untuk dijilat pantatnya
[Reply]
test komen
[Reply]
walking walking here mas….
barajakom´s last blog ..nowgoogle.com adalah multiple search engine popular
[Reply]
[...] tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah hancur dan rusak ditimbulkan oleh korupsi kemanusiaan. Manusia Indonesia telah kehilangan jati diri kemanusiaannya. Nilai-nilai [...]