Imperialisme Budaya; Posmo Kolonialisme Imperialisme

bangkit berjuang demi masa depan!!! atau diam.., mati tergilas roda sejarah!!!
Friday 18 May 2012
bebas untuk di-copas asal mencantumkan sumber aslinya
Bookmark and Share

    Translate to:

Edition

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

Imperialisme Budaya; Posmo Kolonialisme Imperialisme

imperialisme

source : http://www.cheatgenius.com

Bangsa yang hidup di Bhumi Nuswantara ini adalah bangsa yang besar. Itu dulu, tatkala masih ada nama-nama besar Sriwijaya, Pajajaran, Ternate, Gowa, Kutai dan Majapahit. Tapi kini, ratusan tahun kemudian, setelah nama-nama tersebut tinggal hanya menjadi torehan tinta emas sejarah, bangsa yang sudah menyatu dan berganti nama menjadi Indonesia ini malah mencapai titik nadir terendahnya.

Proses degradasi dan regresi yang terjadi dimulai sejak masuknya budaya asing seiring datangnya bangsa-bangsa asing untuk tinggal menetap di Bhumi Nuswantara. Keramah tamahan dan kehangatan pribumi dalam menyambut tamu-tamu asing berbuah aneksasi dan kolonialisasi. Panji-panji Gold, Glory dan Gospel berkibar di seluruh penjuru Bhumi Nuswantara semata-mata untuk mengeruk kekayaan alam yang berlimpah hingga menimbulkan kerusakan dan kebinasaan di seantero negeri.

Kerusakan yang paling parah justru terjadi pada aspek budaya. Atas nama dakwah dan syi’ar agama, nilai-nilai budaya bangsa distigma sebagai sesuatu yang penuh berhala, musyrik dan biadab sehingga boleh dihancurkan atas nama Tuhan. Tata kehidupan sosial yang berlandaskan pada nilai-nilai budaya lokal menjadi porak poranda dan carut marut. Politik adu domba dan pecah belah yang penuh dengan intrik dan tipu muslihat direkayasa untuk menghasilkan silang sengketa antar anak bangsa sebagai upaya penumpasan terhadap berbagai kemungkinan adanya potensi perlawanan.

Seiring berjalannya waktu, dengan semakin tingginya tingkat kemajuan ilmu pengetahuan, proses dan teknik penghancuran terhadap bangsa ini jauh semakin canggih dan elegan pula. Pilihan-pilihan cara yang opresif dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan utama untuk bisa membuat bangsa ini tunduk dan takluk dibawah imperialisme budaya bangsa-bangsa asing.

Rekayasa sosial melalui proses cuci otak dan indoktrinasi yang dilakukan dengan melalui sistem kelembagaan formal yang sudah diformat sedemikian rupa untuk menjalankan program-program yang sudah memang dipersiapkan sebelumnya. Lembaga pendidikan dan media massa adalah dua alat yang sangat potensial untuk bisa mencetak manusia-manusia baru Indonesia yang bersikap dan berperilaku sesuai dengan standar spesifikasi yang mereka tentukan.

Lembaga pendidikan bertugas untuk menginstalasi pola dan struktur berpikir dengan dalil dan aksioma rasional yang tertabulasi dalam satuan-satuan logika kuantitatif sebagai pisau analisa yang digunakan dalam melakukan setiap upaya penuntasan masalah.

Sementara media massa bertugas untuk memproduksi tontonan dan hiburan yang mampu menghipnosis alam bawah sadar agar bergaya hidup sebagai penyembah dan penghamba kesenangan duniawi yang berorientasi pada harta, ketenaran dan segala sesuatu yang bersifat kebendaan.

Dari dua lembaga sosial-budaya tersebut lahirlah anak-anak bangsa yang tak lagi mengenal nilai-nilai budaya bangsanya. Maka tak heran jika saat ini bangsa yang pernah mengalami kejayaan dan kegemilangan di masa lalu telah mengalami keterpurukan yang luar biasa di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Suka atau tidak, bangsa ini adalah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang begitu bangga menjadi subordinasi dari imperialisme budaya bangsa lain.

5 people like this post.

Popularity: 11% [?]

Reader Feedback

82 Responses to “Imperialisme Budaya; Posmo Kolonialisme Imperialisme”

  1. lelaki aneh says:

    kemaren daku baru saja datanga ke acara perkumpulan orang2 tiong hoa, di istora senayan. yang kebetulan acara itu akan dihadiri oleh SBY, dan ketika gue lewat di lorong2 bawah, tampaklah anak2 muda dengan berbagai atribut kedaerahan dan berbagai tetek bengek tari2an traditional. ada satu sudut hati yang bangga, karena mereka mau berbalut kesenian traditional, tapi juga miris, sebatas itu saja kah mereka mempertontonkan kebudayaan indonesia yang beragam. jadi inget temen2 gue yang ada di liga tari indonesia, yang kerap ikutan pertukaran budaya ke eropa, dan betapa sulit mereka mendapatkan sponsor untuk perjalan mereka kesana, padahal mereka membawa nama indonesia. tapi membiarkan KORUPSI merajalela dinegara ini.

  2. chikal says:

    hasibuu qobla antuhasabuu
    semoga kita bisa terhindar dari yang buruk ya om? Amiin

  3. SQ says:

    ya..ya. Bangsa yang lupa pada sejarah, budaya, pahlawannya ialah bangsa yang memprihatinkan. Sama seperti bangsa atau individu yang bahkan tidak mampu menghargai dirinya sendiri dan kehilangan jati (inti) dari diri.

    Saatnya sadar dan bangun, tapi mampukah? sementara
    imperialisme asing makin menggila. Menurut saya, bisa! selama kita punya tekad turnaround sekarang juga. Benahi dan mari bangun negeri ini perlahan-lahan.

    “Tak peduli sejauh mana kau salah melangkah – putar arah sekarang juga” (Rhenald Kasali _Change/ReCode Change Your DNA)

    (

  4. Ketika suatu bangsa berbudaya gathering bukan pructin tidak mekar invention … begitulah jadinya … kebudayaan mengalami involusi

  5. Iya benar tegnologi pengetahuan memang berkembang sangat cepat dan canggih, tapi tegnologi penghancuran juga mengikuti!

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

Spam protection by WP Captcha-Free



Search Engine Submission - AddMe
UA-11099112-1