Imperialisme Budaya; Posmo Kolonialisme Imperialisme

BANGKIT BERJUANG DEMI MASA DEPAN!!! ATAU DIAM.., MATI TERGILAS RODA SEJARAH!!!
Thursday March 18th 2010
Bookmark and Share

    Translate to:

Edition

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Archives

Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

My BlogCatalog BlogRank
Add to favourite links

blogarama - the blog directory
Subscribe in NewsGator Online
My Zimbio
Politics Blogs
Politics blogs
Politics
The Ubuntu Counter Project - user number # 28134

Add to Google Reader or Homepage

Valid CSS!
[Valid RSS]

Imperialisme Budaya; Posmo Kolonialisme Imperialisme

imperialismeBangsa yang hidup di Bhumi Nuswantara ini adalah bangsa yang besar. Itu dulu, tatkala masih ada nama-nama besar Sriwijaya, Pajajaran, Ternate, Gowa, Kutai dan Majapahit. Tapi kini, ratusan tahun kemudian, setelah nama-nama tersebut tinggal hanya menjadi torehan tinta emas sejarah, bangsa yang sudah menyatu dan berganti nama menjadi Indonesia ini malah mencapai titik nadir terendahnya.

Proses degradasi dan regresi yang terjadi dimulai sejak masuknya budaya asing seiring datangnya bangsa-bangsa asing untuk tinggal menetap di Bhumi Nuswantara. Keramah tamahan dan kehangatan pribumi dalam menyambut tamu-tamu asing berbuah aneksasi dan kolonialisasi. Panji-panji Gold, Glory dan Gospel berkibar di seluruh penjuru Bhumi Nuswantara semata-mata untuk mengeruk kekayaan alam yang berlimpah hingga menimbulkan kerusakan dan kebinasaan di seantero negeri.

Kerusakan yang paling parah justru terjadi pada aspek budaya. Atas nama dakwah dan syi’ar agama, nilai-nilai budaya bangsa distigma sebagai sesuatu yang penuh berhala, musyrik dan biadab sehingga boleh dihancurkan atas nama Tuhan. Tata kehidupan sosial yang berlandaskan pada nilai-nilai budaya lokal menjadi porak poranda dan carut marut. Politik adu domba dan pecah belah yang penuh dengan intrik dan tipu muslihat direkayasa untuk menghasilkan silang sengketa antar anak bangsa sebagai upaya penumpasan terhadap berbagai kemungkinan adanya potensi perlawanan.

Seiring berjalannya waktu, dengan semakin tingginya tingkat kemajuan ilmu pengetahuan, proses dan teknik penghancuran terhadap bangsa ini jauh semakin canggih dan elegan pula. Pilihan-pilihan cara yang opresif dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan utama untuk bisa membuat bangsa ini tunduk dan takluk dibawah imperialisme budaya bangsa-bangsa asing.

Rekayasa sosial melalui proses cuci otak dan indoktrinasi yang dilakukan dengan melalui sistem kelembagaan formal yang sudah diformat sedemikian rupa untuk menjalankan program-program yang sudah memang dipersiapkan sebelumnya. Lembaga pendidikan dan media massa adalah dua alat yang sangat potensial untuk bisa mencetak manusia-manusia baru Indonesia yang bersikap dan berperilaku sesuai dengan standar spesifikasi yang mereka tentukan.

Lembaga pendidikan bertugas untuk menginstalasi pola dan struktur berpikir dengan dalil dan aksioma rasional yang tertabulasi dalam satuan-satuan logika kuantitatif sebagai pisau analisa yang digunakan dalam melakukan setiap upaya penuntasan masalah.

Sementara media massa bertugas untuk memproduksi tontonan dan hiburan yang mampu menghipnosis alam bawah sadar agar bergaya hidup sebagai penyembah dan penghamba kesenangan duniawi yang berorientasi pada harta, ketenaran dan segala sesuatu yang bersifat kebendaan.

Dari dua lembaga sosial-budaya tersebut lahirlah anak-anak bangsa yang tak lagi mengenal nilai-nilai budaya bangsanya. Maka tak heran jika saat ini bangsa yang pernah mengalami kejayaan dan kegemilangan di masa lalu telah mengalami keterpurukan yang luar biasa di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Suka atau tidak, bangsa ini adalah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang begitu bangga menjadi subordinasi dari imperialisme budaya bangsa lain.

2 people like this post.

Popularity: 18% [?]

Reader Feedback

80 Responses to “Imperialisme Budaya; Posmo Kolonialisme Imperialisme”

  1. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    terima kasih :)

    [Reply]

  2. Fietria says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    @Kangboed

    hehehe ketemu lagi………ahhhhhhhhhh sepertinya semua blog sudah habis dijajah oleh dirimu!

    [Reply]

  3. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    tak ada yang tersisa… semua dijelajah habis sama kangBoed… jiyakakakak… :D

    [Reply]

  4. KangBoed says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Hehehehe.. pokoknya siapapun YANG MENDUKUNG KEBANGKITAN JATI DIRI MANUSIA seutuhnya pasti saya DUKUNG… membentuk kebersamaan dalam CINTA DAN KASIH SAYANG.. dukunge puoooolllll..
    Salam Sayang

    [Reply]

  5. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    jadi saya didukung gak sama kangBoed? hihihihihihi… :D

    [Reply]

  6. lelaki aneh says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    kemaren daku baru saja datanga ke acara perkumpulan orang2 tiong hoa, di istora senayan. yang kebetulan acara itu akan dihadiri oleh SBY, dan ketika gue lewat di lorong2 bawah, tampaklah anak2 muda dengan berbagai atribut kedaerahan dan berbagai tetek bengek tari2an traditional. ada satu sudut hati yang bangga, karena mereka mau berbalut kesenian traditional, tapi juga miris, sebatas itu saja kah mereka mempertontonkan kebudayaan indonesia yang beragam. jadi inget temen2 gue yang ada di liga tari indonesia, yang kerap ikutan pertukaran budaya ke eropa, dan betapa sulit mereka mendapatkan sponsor untuk perjalan mereka kesana, padahal mereka membawa nama indonesia. tapi membiarkan KORUPSI merajalela dinegara ini.

    [Reply]

  7. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    hati memang jadi miris ketika kita masuk ke wilayah kesenian tradisional kita. seniman2 tradisional kita harus mengais-ngais untuk bisa menjaga warisan kesenian budaya negeri ini. sementara untuk acara prompt nite pesta kelulusan SMA di hotel2 bintang 5, ada yg bisa menghabiskan uang ratusan juta rupiah.

    [Reply]

  8. chikal says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    hasibuu qobla antuhasabuu
    semoga kita bisa terhindar dari yang buruk ya om? Amiin

    [Reply]

  9. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    semoga… amien…

    [Reply]

  10. SQ says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    ya..ya. Bangsa yang lupa pada sejarah, budaya, pahlawannya ialah bangsa yang memprihatinkan. Sama seperti bangsa atau individu yang bahkan tidak mampu menghargai dirinya sendiri dan kehilangan jati (inti) dari diri.

    Saatnya sadar dan bangun, tapi mampukah? sementara
    imperialisme asing makin menggila. Menurut saya, bisa! selama kita punya tekad turnaround sekarang juga. Benahi dan mari bangun negeri ini perlahan-lahan.

    “Tak peduli sejauh mana kau salah melangkah – putar arah sekarang juga” (Rhenald Kasali _Change/ReCode Change Your DNA)

    (

    [Reply]

  11. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    senang mendengar optimisme yang demikian tinggi. semoga optimisme yang seperti ini juga dimiliki oleh semua anak negeri ini… :)

    [Reply]

  12. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Ketika suatu bangsa berbudaya gathering bukan pructin tidak mekar invention … begitulah jadinya … kebudayaan mengalami involusi

    [Reply]

  13. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    pructin…, atau tidak mekar invention yg menjadi penyebab involusi??? :)

    [Reply]

  14. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Iya benar tegnologi pengetahuan memang berkembang sangat cepat dan canggih, tapi tegnologi penghancuran juga mengikuti!

    [Reply]

  15. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    setuju!!! seperti sekeping uang dengan dua sisi yang berbeda… :)

    [Reply]

  16. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Dulu Nusantara dikuasai asing yang punya semangat 3G (Gold, Glory, Gospel), sekarang dalam era modern, mereka tetap saja ingin menguasai dengan semangat GOD (Gas, Oil Diamond).

    [Reply]

  17. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    kereeeennn tuch istilahnya… cocok dengan fakta yang ada… two thumbs up!!!

    [Reply]

  18. dbo911 says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Satu-satunya cara untuk bangkit dari cengkeraman imperialisme ini, mempertautkan keping2 TRIWIKRAMA-BUDAYA menjadi Untaian Mata-Rantai Mosaik 333TRIWIKRAMA-BUDAYA NKRI(Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia)…..

    [Reply]

  19. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    TRiWIKRAMA…
    Sekalipun bangkit melawan kezaliman dan penindasan, TRIWIKRAMA adalah perubahan wujud atas dasar kemurkaan.
    Bukankah perlawanan diam adalah yang sebaik-baiknya…
    Diamnya gerak…
    Geraknya diam…
    Tak terlihat…
    Namun terasa sampai kedalam lubuknya budi nurani…

    [Reply]

  20. dbo911 says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    TRIWIKRAMA…..TIGA-BERAKUMULASI…TIGA-BERPADU… bola api membentur bumi… bumi bergetarrr… tsunami mengakhiri… diaaammmmm…

    [Reply]

  21. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    yang awal adalah akhir…
    yang akhir adalah awal…
    yang mengawali itu pula yang mengakhiri…
    yang mengakhiri itu pula yang mengawali…

    [Reply]

  22. sikapsamin says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Yth. ItemPoeti,
    Salam Kenal…Salam Seduluran ing Sejatining Sedulur…

    Imperialisme..Kolonialisme..
    Kabeh sedulur Samin wis wareg bab iki…

    Banget panarimaku marang blog iki…
    Artine tambah Sedulur Tunggal-Sikep ing Bhumi NKRI….

    Bakuh-Kukuh-Utuh Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia…..
    Samin adalah Sikap

    [Reply]

  23. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Salam kenal juga…
    Salam seduluran…

    Senang saget ngangsu kaweruh marang panjenengan…
    Mugi cita-cita poro pepunden lan leluhur saget diwujudaken…

    [Reply]

  24. sumego says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Salam Kenal Seduluran Mas itempoeti

    Tulisan yang begitu kritis, trigger bagi yang mau mengerti…, sampah bagi yang dininabobokan… begitu kali ya MAs…

    [Reply]

  25. itempoeti says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    sugeng rawuh mas Sumego…
    hanya mencoba untuk sedikit melepas keprihatinan atas situasi dan kondisi yang ada…
    tapi jika itu bisa punya arti bagi yang membaca, untuk saya itu bonus yang luar biasa…

    matur sembah nuwun atas rawuhipun dan komentarnya… :)

    [Reply]

  26. Unknown Unknown

    [...] Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang Cephot [...]

  27. Unknown Unknown

    [...] yang baru bagi yang sudah pernah berkunjung dan membaca salah satu artikel utama serta beberapa postingan lain di blog [...]

  28. Unknown Unknown

    [...] Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang Cephot [...]

  29. Browser Firefox 3.0.17 Firefox 3.0.17 OS Windows XP Windows XP

    Imprealisme bukan cuma dari yang kita anggap budaya asing, tapi dari satu budaya pada budaya lain di nusantara ini. Pernah kah kita sadar bahwa NKRI memakai logika Majapahit yang ekspansif itu????

    salam,

    [Reply]

Leave a Reply

CommentLuv Enabled



UA-11099112-1