Bangsa yang hidup di Bhumi Nuswantara ini adalah bangsa yang besar. Itu dulu, tatkala masih ada nama-nama besar Sriwijaya, Pajajaran, Ternate, Gowa, Kutai dan Majapahit. Tapi kini, ratusan tahun kemudian, setelah nama-nama tersebut tinggal hanya menjadi torehan tinta emas sejarah, bangsa yang sudah menyatu dan berganti nama menjadi Indonesia ini malah mencapai titik nadir terendahnya.
Proses degradasi dan regresi yang terjadi dimulai sejak masuknya budaya asing seiring datangnya bangsa-bangsa asing untuk tinggal menetap di Bhumi Nuswantara. Keramah tamahan dan kehangatan pribumi dalam menyambut tamu-tamu asing berbuah aneksasi dan kolonialisasi. Panji-panji Gold, Glory dan Gospel berkibar di seluruh penjuru Bhumi Nuswantara semata-mata untuk mengeruk kekayaan alam yang berlimpah hingga menimbulkan kerusakan dan kebinasaan di seantero negeri.
Kerusakan yang paling parah justru terjadi pada aspek budaya. Atas nama dakwah dan syi’ar agama, nilai-nilai budaya bangsa distigma sebagai sesuatu yang penuh berhala, musyrik dan biadab sehingga boleh dihancurkan atas nama Tuhan. Tata kehidupan sosial yang berlandaskan pada nilai-nilai budaya lokal menjadi porak poranda dan carut marut. Politik adu domba dan pecah belah yang penuh dengan intrik dan tipu muslihat direkayasa untuk menghasilkan silang sengketa antar anak bangsa sebagai upaya penumpasan terhadap berbagai kemungkinan adanya potensi perlawanan.
Seiring berjalannya waktu, dengan semakin tingginya tingkat kemajuan ilmu pengetahuan, proses dan teknik penghancuran terhadap bangsa ini jauh semakin canggih dan elegan pula. Pilihan-pilihan cara yang opresif dan represif tak lagi digunakan berganti dengan cara-cara yang lebih mengedepankan pendekatan humanitarian. Proses cuci otak dan indoktrinasi melalui rekayasa sosial menjadi pilihan utama untuk bisa membuat bangsa ini tunduk dan takluk dibawah imperialisme budaya bangsa-bangsa asing.
Rekayasa sosial melalui proses cuci otak dan indoktrinasi yang dilakukan dengan melalui sistem kelembagaan formal yang sudah diformat sedemikian rupa untuk menjalankan program-program yang sudah memang dipersiapkan sebelumnya. Lembaga pendidikan dan media massa adalah dua alat yang sangat potensial untuk bisa mencetak manusia-manusia baru Indonesia yang bersikap dan berperilaku sesuai dengan standar spesifikasi yang mereka tentukan.
Lembaga pendidikan bertugas untuk menginstalasi pola dan struktur berpikir dengan dalil dan aksioma rasional yang tertabulasi dalam satuan-satuan logika kuantitatif sebagai pisau analisa yang digunakan dalam melakukan setiap upaya penuntasan masalah.
Sementara media massa bertugas untuk memproduksi tontonan dan hiburan yang mampu menghipnosis alam bawah sadar agar bergaya hidup sebagai penyembah dan penghamba kesenangan duniawi yang berorientasi pada harta, ketenaran dan segala sesuatu yang bersifat kebendaan.
Dari dua lembaga sosial-budaya tersebut lahirlah anak-anak bangsa yang tak lagi mengenal nilai-nilai budaya bangsanya. Maka tak heran jika saat ini bangsa yang pernah mengalami kejayaan dan kegemilangan di masa lalu telah mengalami keterpurukan yang luar biasa di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Suka atau tidak, bangsa ini adalah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang begitu bangga menjadi subordinasi dari imperialisme budaya bangsa lain.
Popularity: 16% [?]
- imperialisme budaya (11)
- pengertian kolonialisme (7)
- pengertian kolonialisme dan imperialisme (7)
- kolonialisme dan imperialisme (5)
- kolonialisme dan imperialisme bangsa indonesia (5)
- penjajahan budaya (3)
- imperialisme dan kolonialisme (3)
- kolonialisme (3)
- media dan Imperialisme Budaya (2)
- kolonialisme dan imperialisme di indonesia (2)












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)







Dulu Nusantara dikuasai asing yang punya semangat 3G (Gold, Glory, Gospel), sekarang dalam era modern, mereka tetap saja ingin menguasai dengan semangat GOD (Gas, Oil Diamond).
Satu-satunya cara untuk bangkit dari cengkeraman imperialisme ini, mempertautkan keping2 TRIWIKRAMA-BUDAYA menjadi Untaian Mata-Rantai Mosaik 333TRIWIKRAMA-BUDAYA NKRI(Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia)…..
TRIWIKRAMA…..TIGA-BERAKUMULASI…TIGA-BERPADU… bola api membentur bumi… bumi bergetarrr… tsunami mengakhiri… diaaammmmm…
Yth. ItemPoeti,
Salam Kenal…Salam Seduluran ing Sejatining Sedulur…
Imperialisme..Kolonialisme..
Kabeh sedulur Samin wis wareg bab iki…
Banget panarimaku marang blog iki…
Artine tambah Sedulur Tunggal-Sikep ing Bhumi NKRI….
Bakuh-Kukuh-Utuh Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia…..
Samin adalah Sikap
Salam Kenal Seduluran Mas itempoeti
Tulisan yang begitu kritis, trigger bagi yang mau mengerti…, sampah bagi yang dininabobokan… begitu kali ya MAs…
[...] Berkepribadian di bidang budaya. [...]
[...] Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang Cephot [...]
[...] yang baru bagi yang sudah pernah berkunjung dan membaca salah satu artikel utama serta beberapa postingan lain di blog [...]
[...] Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang Cephot [...]
Imprealisme bukan cuma dari yang kita anggap budaya asing, tapi dari satu budaya pada budaya lain di nusantara ini. Pernah kah kita sadar bahwa NKRI memakai logika Majapahit yang ekspansif itu????
salam,
waktu tak surut ke belakang.
kejayaan masa lalu harusnya menjadi kaca benggala untuk melihat bagaimana seharusnya masa depan.
senang hati ini ‘mendengar’.., “Kita harus bersama membangun Puing puing kerajaan itu menjadi kejayaan yang baru… Kita bisa.”
setuju… kita tahu bahwa kita pernah menjadi bangsa yang jaya dan besar, tapi tidak tahu mengapa kita bisa menjadi besar.
banyak pihak diluar kita yang tidak ingin kita bangkit dan menjadi besar seperti dulu. oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan agar kita lupa akan kesejatian kita yang justru menjadi kunci kebesaran bangsa ini.
ada rekayasa sosial yang by design dilakukan untuk memarginalkan bangsa ini.
kita miskin bukan karena kita bodoh, namun kita miskin karena di miskinkan oleh sebuah sistem yang dibuat untuk memperkaya segelintir orang.
gak tahu tuch Kang… satpamnya kok rajin banget… padahal dah sering kesini tapi kok masih gak kenal aja… hehehehehe…
ironis yaaa…
sama ceritanya dengan seorang yang sedang mabok menenggak whiskey, tiba-tiba ngamuk berangkat berjihad karena mendengar ada al Quran dibakar….
tak cukup hanya dengan dikenang, karena memang bukan kenangan semata…
tapi harus direvitalisasi agar kita bisa bangkit dari keterpurukan dan kembali pada track kejayaan dan kebesaran bangsa.
Yak opo cak kabare peno?
Suwun wis mampir nok kene…
ada kecelakaan kecil dengan komennya kangBoed gara2 dianggap spam. hehehehehe… kalau sering main kesini atau ke yang satu lagi, pasti gak kesaru lagi… wakakakak…
terima kasih :)
tak ada yang tersisa… semua dijelajah habis sama kangBoed… jiyakakakak…
jadi saya didukung gak sama kangBoed? hihihihihihi…
hati memang jadi miris ketika kita masuk ke wilayah kesenian tradisional kita. seniman2 tradisional kita harus mengais-ngais untuk bisa menjaga warisan kesenian budaya negeri ini. sementara untuk acara prompt nite pesta kelulusan SMA di hotel2 bintang 5, ada yg bisa menghabiskan uang ratusan juta rupiah.
semoga… amien…
senang mendengar optimisme yang demikian tinggi. semoga optimisme yang seperti ini juga dimiliki oleh semua anak negeri ini… :)
pructin…, atau tidak mekar invention yg menjadi penyebab involusi??? :)
setuju!!! seperti sekeping uang dengan dua sisi yang berbeda… :)
kereeeennn tuch istilahnya… cocok dengan fakta yang ada… two thumbs up!!!
TRiWIKRAMA…
Sekalipun bangkit melawan kezaliman dan penindasan, TRIWIKRAMA adalah perubahan wujud atas dasar kemurkaan.
Bukankah perlawanan diam adalah yang sebaik-baiknya…
Diamnya gerak…
Geraknya diam…
Tak terlihat…
Namun terasa sampai kedalam lubuknya budi nurani…
yang awal adalah akhir…
yang akhir adalah awal…
yang mengawali itu pula yang mengakhiri…
yang mengakhiri itu pula yang mengawali…
Salam kenal juga…
Salam seduluran…
Senang saget ngangsu kaweruh marang panjenengan…
Mugi cita-cita poro pepunden lan leluhur saget diwujudaken…
sugeng rawuh mas Sumego…
hanya mencoba untuk sedikit melepas keprihatinan atas situasi dan kondisi yang ada…
tapi jika itu bisa punya arti bagi yang membaca, untuk saya itu bonus yang luar biasa…
matur sembah nuwun atas rawuhipun dan komentarnya… :)