
Di sebuah kedai kopi pojok jalan di sudut perkampungan kumuh kota Jelata, seperti biasanya, beberapa orang asyik berbincang sambil menikmati setiap sruputan kopinya masing-masing. Dua orang berjalan memasuki kedai kopi lalu duduk mengambil tempat di sudut. Setelah selesai memesan kopi, seorang dari mereka mulai membuka percakapan.
Paulo Freire : Ki, sudah dengar kabar tentang pemangkasan anggaran pendidikan nasional 2010 sebesar 4 triliun?
Ki Hajar Dewantoro : Sudah, kemarin aku mendengarnya seusai upacara Hari Pendidikan Nasional. Kenapa memangnya?
Paulo Freire : Pendidikan kembali menjadi korban.
Ki Hajar Dewantoro : Bukankah sudah sejak dulu begitu. Sudahlah, toch kita memang tidak bisa berharap dari pemerintah untuk bisa mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kau lihat sendiri bagaimana konsep pendidikan bikinan pemerintah yang kau namakan ‘gaya bank’. Bisanya cuma menginstall sejumlah dalil dan rumus ke dalam kepala anak didik untuk kemudian digunakan saat diperlukan. Konsep pendidikan yang menempatkan manusia tak ubahnya seperti seperangkat mesin komputer.
Paulo Freire : Konsep pendidikan yang hanya bisa menciptakan manusia-manusia robot yang diprogram untuk mengejar sukses dan keberhasilan dengan simbol-simbol kemegahan harta dan kebendaan. Manusia-manusia ini tidak mengenal lagi konsep pemahaman Trihayu seperti yang kau kembangkan. Tolong jelaskan, aku tak pernah bosan mendengar penjelasanmu tentang Trihayu.
Ki Hajar Dewantoro : Aku heran denganmu, setiap kali kita ketemu setiap kali itu juga kau tak pernah bosan minta penjelasan tentang Trihayu. Herannya…, akupun tak pernah bosan menjelaskannya padamu. Wakakakak…
Tapi baiklah, Konsep Trihayu terdiri dari tiga tataran, yaitu pertama hamemayu hayuning sarira, kedua hamemayu hayuning bangsa, dan ketiga hamemayu hayuning bawana. Arti hamemayu hayuning adalah menghiasi keindahan. Sarira adalah diri, sebagai manusia. Hamemayu hayuning sarira adalah menghiasi keindahan diri sebagai manusia. Bukan keindahan rupa diri, tapi keindahan rasa, cipta dan karsa.
Menghiasi keindahan diri dengan ilmu dan elmu, dengan sinau -learning- dan laku -doing- yang membawa pada kesadaran tertinggi akan hidup dan kehidupan, tentang apa itu hidup, untuk apa hidup dan apa tujuan hidup.
Hamemayu ayuning bangsa, adalah menghiasi keindahan bangsa. Bangsa sebagai sebuah keluarga besar yang menyatu bersinergi seperti tubuh dengan seluruh kelengkapan anggota tubuh sebagai satu kesatuan gerak hidup yang terkoordinasi. Saling tolong menolong, saling melengkapi, saling berkarya dengan tugas, peran dan fungsi kemanusiaannya dalam satu ikatan kepribadian budaya.
Hamemayu hayuning bawana. Adalah menghiasi keindahan dunia. Dunia dengan alam beserta segala isinya dimana setiap manusia yang berbangsa-bangsa tinggal dan hidup bersama. Kesadaran untuk membangun hubungan saling menghargai antara manusia dengan alam semesta, baik makhluk hidup maupun benda mati. Memanfaatkan alam dengan tetap melestarikan alam dengan segala ekosistemnya.
Oleh karena itu setiap manusia harus menjadi manusia yang merdeka. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibingkai oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin dalam berkemanusiaan.
Paulo Freire : Sebentar Ki.., dengan konsep Trihayu tersebut sesungguhnya setiap manusia bisa menjadi manusia utuh yang memiliki kesadaran kritis –critical consciousness- untuk bangkit melakukan pembebasan diri dan merdeka dari ketertindasan.
Ki Hajar Dewantoro : Benar kawan.., seperti apa yang pernah kau katakan, selama setiap manusia masih memiliki kesadaran magis -magical consciousness- dan kesadaran naif -naival consciousness-, mereka tidak akan pernah bisa menjadi manusia merdeka, manusia yang utuh terbebas dari ketertindasan.
Kesadaran magis….
Paulo Freire : Maaf Ki.., aku potong dulu pembicaraan sebelum kita lanjutkan. Sebaiknya kita pesan kopi lagi. Selain kopiku habis, nampaknya kopimu pun tak bisa diminum karena ada seekor lalat yang sedang berenang di dalamnya. Hehehe…
Ki Hajar Dewantoro : Lalat itu sempat untuk berenang di dalam gelas kopiku karena dari tadi aku tak sempat meminumnya sibuk memenuhi permintaanmu untuk menjelaskan tentang Trihayu…
Paulo Freire : Baik Ki.., supaya kau sempat meminum kopimu, aku ingin menyambung sedikit tentang apa yang kau sampaikan tadi soal kesadaran magis dan kesadaran naif. Dua hal yang menghambat manusia untuk bisa membebaskan diri dari ketertindasan sebuah sistem.
Kesadaran Magis yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lain. Misalnya, masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran Magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supra-natural) sebagai penyebab ketidakberdayaan.
Dengan kata lain, apa yang mereka alami adalah sesuatu yang sudah given sebagai garis nasib suratan takdir.
Sementara keadaan yang dikategorikan dalam kesadaran naïf, adalah lebih melihat pada aspek manusianya sebagai akar penyebab masalah masyarakat. Manusia bersoal dengan etika, kreativitas, kompetensi, kepedulian dan motivasi diri. Penyebab dari adanya ketertindasan terletak pada masyarakat sendiri.
Dan seperti yang kau singgung sedikit di awal, bahwa untuk bisa merdeka dan terbebas dari ketertindasan, setiap manusia harus memiliki kesadaran kritis -critical consciousness-. Kesadaran untuk lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.
Dengan begitu siapapun bisa terhindar dari kecenderungan untuk mempersalahkan korban -blaming the victims- dengan lebih melihat persoalan secara sistemik dan structural, baik sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya berikut dengan berbagai akibat yang ditimbulkan terhadap keadaan masyarakat.
Ki Hajar Dewantoro : Ya.., memang begitulah seharusnya. Manusia tidak lagi hanya menjadi korban dari sebuah sistem dan struktur yang barbarian dan despotis, melainkan menjadi penuntas masalah -problem solver- atas hidup mereka; baik sebagai diri pribadi, warga bangsa maupun sebagai warga dunia.
Lalu untuk apalagi perlu dipermasalahkan soal pemangkasan anggaran pendidikan yang 4 triliun oleh pemerintah jika konsep pendidikan yang ada memang sudah salah sejak awal? Masalahnya bukan lagi hanya masalah anggaran ataupun janji politik tentang pendidikan gratis, lebih parah dari itu adalah negara sudah mengkhianati amanat Pembukaan UUD’45 alinea ke-empat yang jelas-jelas menyatakan, “….. Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, …….”
Paulo Freire : Entahlah Ki.., ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan.
Belum kering bibir Paulo selesai berucap, tiba-tiba saja dari arah barat ramai orang berlarian tunggang langgang dengan panik sambil mendorong gerobak dan pikulan.
“Satpol PP !!!…… Satpol PP !!!…….. Pembersihan !!!…….. Pembersihan !!!…….”
Popularity: 6% [?]
- konsep pendidikan ki hajar dewantara (59)
- konsep pendidikan menurut ki hajar dewantara (16)
- arti hamemayu hayuning bawana (14)
- konsep pendidikan paulo freire (12)
- paulo freire (12)
- englis dialog ki hajar dewantoro (12)
- arti hamemayu (4)
- dialog ki hajar dewantara (3)
- dialog kihajar dewantoro (3)
- dialog tentang ki hajar dewantara (3)













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)







[...] oleh korupsi kemanusiaan. Manusia Indonesia telah kehilangan jati diri kemanusiaannya. Nilai-nilai imanen-spiritual-transendental Ketauhidan Yang Maha Esa berganti menjadi nilai-nilai material-hedonik-rasional yang bernisbat pada penghambaan kemegahan [...]
Seneng aku dengan ulasannya Mas, boleh aku quoto di blog-ku tentang trirahayu ya?
monggo silakan…
dengan senang hati…
nanti saya main kesana yaaa…
he…he… ini nyindir siapa neh mas
Mantap deh
barajakom´s last blog ..nowgoogle.com adalah multiple search engine popular
Iso nggawe dialog imaginer ngene ki sinaune nangdi yo…? jan manteb poll..
xitalho´s last blog ..Megatruh
wah tapi sayang ya..!! anak didik’nya paulo freire udah bisa membuat brazil jadi maju… tapi belum ada anak didik’nya ki hajar dewantoro yang bisa membuat bangsa ini maju.. nasib.. nasib… digalak’ki satpol PP’ne wae… huuhh..
btw keren banget kang.. wawancara imaginer gini emang nyelekit banget.. hehehe..
brasil memang “maju”, tapi “maju” dalam pengertian yang bertentangan dengan pemahaman Freire. kemajuan brasil saat ini justru dicapai karena brasil masuk dalam mainstream rezim neoliberal yang kapitalistik. berbeda dengan esensi perlawanan kultural yang dilakukan Freire terhadap kapitalisme sebagai sebuah sistem yang eksploitatif dan menindas. anak didik Freire dan Ki Hajar Dewantara pada akhirnya layu sebelum berkembang karena tak bisa tumbuh subur di lahan kapitalisme global.
bahkan satpol PP pun akhirnya tak lebih dari tukang pukul para birokrat yang dikendalikan oleh para pemilik modal.
nek wis nyelekit koyo ngene isih ora rumongso, berarti pancen kudune revolusi…
mbales meneh kang… :)
sorry kang.. aku rodo ra sepakat yen “brasil memang “maju”, tapi “maju” dalam pengertian yang bertentangan dengan pemahaman Freire. kemajuan brasil saat ini justru dicapai karena brasil masuk dalam mainstream rezim neoliberal yang kapitalistik”
Brasil sekarang maju karena dia bisa memanfaatkan efek2 positif dari rezim neoliberal yang kapitalistik tanpa menanggalkan jati dirinya sebagai negara amerika latin muara dari paham sosialis… sehingga kemajuan disana dapat dirasakan langsung oleh masyarakat..
nah kalo di Indonesia..??? Hahaha… paling cuma tabung gas 3 kilo yang rata, itu pun klo nggak mbledak.. hehe.. salam kenal kang.. oya ini masih blog apa dah migrasi ke website to kang? apik enan ik…
“…oya ini masih blog apa dah migrasi ke website to kang? apik tenan ik…”
sekarang ini makin rancu antara weblog dan website. yang jelas walaupun menggunakan domain dan hosting berbayar. tapi menggunakan Content Managemant System (CMS) wordpress. banyak sekali pilihan2 theme/template yang apik-apik baik yg gratisan maupun berbayar tentunya bisa pilih sesuai selera masing2. kebetulan mungkin selera kita sama, matur nuwun atas complimentnya.
kalau untuk saya ini masih dikategorikan weblog, bukan website. karena kalau website murni tidak menggunakan CMS, tapi benar-benar men-develope segala sesuatunya dari nol dari mulai struktur sampai desain tampilan dan berbagai fungsi-fungsinya.