Dialog Imajiner Ki Hajar Dewantoro dan Paulo Freire; Sebuah Renungan di Hari Pendidikan Nasional

BANGKIT BERJUANG DEMI MASA DEPAN!!! ATAU DIAM.., MATI TERGILAS RODA SEJARAH!!!
Monday March 15th 2010
Bookmark and Share

    Translate to:

Edition

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives

Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

My BlogCatalog BlogRank
Add to favourite links

blogarama - the blog directory
Subscribe in NewsGator Online
My Zimbio
Politics Blogs
Politics blogs
Politics
The Ubuntu Counter Project - user number # 28134

Add to Google Reader or Homepage

Valid CSS!
[Valid RSS]

Dialog Imajiner Ki Hajar Dewantoro dan Paulo Freire; Sebuah Renungan di Hari Pendidikan Nasional

paulo_freire_chhhh_flickr_cckhdDi sebuah kedai kopi pojok jalan di sudut perkampungan kumuh kota Jelata, seperti biasanya, beberapa orang asyik berbincang sambil menikmati setiap sruputan kopinya masing-masing. Dua orang berjalan memasuki kedai kopi lalu duduk mengambil tempat di sudut. Setelah selesai memesan kopi, seorang dari mereka mulai membuka percakapan.

Paulo Freire : Ki, sudah dengar kabar tentang pemangkasan anggaran pendidikan nasional 2010 sebesar 4 triliun?

Ki Hajar Dewantoro : Sudah, kemarin aku mendengarnya seusai upacara Hari Pendidikan Nasional. Kenapa memangnya?

Paulo Freire : Pendidikan kembali menjadi korban.

Ki Hajar Dewantoro : Bukankah sudah sejak dulu begitu. Sudahlah, toch kita memang tidak bisa berharap dari pemerintah untuk bisa mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kau lihat sendiri bagaimana konsep pendidikan bikinan pemerintah yang kau namakan ‘gaya bank’. Bisanya cuma menginstall sejumlah dalil dan rumus ke dalam kepala anak didik untuk kemudian digunakan saat diperlukan. Konsep pendidikan yang menempatkan manusia tak ubahnya seperti seperangkat mesin komputer.

Paulo Freire : Konsep pendidikan yang hanya bisa menciptakan manusia-manusia robot yang diprogram untuk mengejar sukses dan keberhasilan dengan simbol-simbol kemegahan harta dan kebendaan. Manusia-manusia ini tidak mengenal lagi konsep pemahaman Trihayu seperti yang kau kembangkan. Tolong jelaskan, aku tak pernah bosan mendengar penjelasanmu tentang Trihayu.

Ki Hajar Dewantoro : Aku heran denganmu, setiap kali kita ketemu setiap kali itu juga kau tak pernah bosan minta penjelasan tentang Trihayu. Herannya…, akupun tak pernah bosan menjelaskannya padamu. Wakakakak…

Tapi baiklah, Konsep Trihayu terdiri dari tiga tataran, yaitu pertama hamemayu hayuning sarira, kedua hamemayu hayuning bangsa, dan ketiga hamemayu hayuning bawana. Arti hamemayu hayuning adalah menghiasi keindahan. Sarira adalah diri, sebagai manusia. Hamemayu hayuning sarira adalah menghiasi keindahan diri sebagai manusia. Bukan keindahan rupa diri, tapi keindahan rasa, cipta dan karsa.

Menghiasi keindahan diri dengan ilmu dan elmu, dengan sinau -learning- dan laku -doing- yang membawa pada kesadaran tertinggi akan hidup dan kehidupan, tentang apa itu hidup, untuk apa hidup dan apa tujuan hidup.

Hamemayu ayuning bangsa, adalah menghiasi keindahan bangsa. Bangsa sebagai sebuah keluarga besar yang menyatu bersinergi seperti tubuh dengan seluruh kelengkapan anggota tubuh sebagai satu kesatuan gerak hidup yang terkoordinasi. Saling tolong menolong, saling melengkapi, saling berkarya dengan tugas, peran dan fungsi kemanusiaannya dalam satu ikatan kepribadian budaya.

Hamemayu hayuning bawana. Adalah menghiasi keindahan dunia. Dunia dengan alam beserta segala isinya dimana setiap manusia yang berbangsa-bangsa tinggal dan hidup bersama. Kesadaran untuk membangun hubungan saling menghargai antara manusia dengan alam semesta, baik makhluk hidup maupun benda mati. Memanfaatkan alam dengan tetap melestarikan alam dengan segala ekosistemnya.

Oleh karena itu setiap manusia harus menjadi manusia yang merdeka. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibingkai oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin dalam berkemanusiaan.

Paulo Freire : Sebentar Ki.., dengan konsep Trihayu tersebut sesungguhnya setiap manusia bisa menjadi manusia utuh yang memiliki kesadaran kritis –critical consciousness- untuk bangkit melakukan pembebasan diri dan merdeka dari ketertindasan.

Ki Hajar Dewantoro : Benar kawan.., seperti apa yang pernah kau katakan, selama setiap manusia masih memiliki kesadaran magis -magical consciousness- dan kesadaran naif -naival consciousness-, mereka tidak akan pernah bisa menjadi manusia merdeka, manusia yang utuh terbebas dari ketertindasan.

Kesadaran magis….

Paulo Freire : Maaf Ki.., aku potong dulu pembicaraan sebelum kita lanjutkan. Sebaiknya kita pesan kopi lagi. Selain kopiku habis, nampaknya kopimu pun tak bisa diminum karena ada seekor lalat yang sedang berenang di dalamnya. Hehehe…

Ki Hajar Dewantoro : Lalat itu sempat untuk berenang di dalam gelas kopiku karena dari tadi aku tak sempat meminumnya sibuk memenuhi permintaanmu untuk menjelaskan tentang Trihayu…

Paulo Freire : Baik Ki.., supaya kau sempat meminum kopimu, aku ingin menyambung sedikit tentang apa yang kau sampaikan tadi soal kesadaran magis dan kesadaran naif. Dua hal yang menghambat manusia untuk bisa membebaskan diri dari ketertindasan sebuah sistem.

Kesadaran Magis yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lain. Misalnya, masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran Magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supra-natural) sebagai penyebab ketidakberdayaan.

Dengan kata lain, apa yang mereka alami adalah sesuatu yang sudah given sebagai garis nasib suratan takdir.

Sementara keadaan yang dikategorikan dalam kesadaran naïf, adalah lebih melihat pada aspek manusianya sebagai akar penyebab masalah masyarakat. Manusia bersoal dengan etika, kreativitas, kompetensi, kepedulian dan motivasi diri. Penyebab dari adanya ketertindasan terletak pada masyarakat sendiri.

Dan seperti yang kau singgung sedikit di awal, bahwa untuk bisa merdeka dan terbebas dari ketertindasan, setiap manusia harus memiliki kesadaran kritis -critical consciousness-. Kesadaran untuk lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.

Dengan begitu siapapun bisa terhindar dari kecenderungan untuk mempersalahkan korban -blaming the victims- dengan lebih melihat persoalan secara sistemik dan structural, baik sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya berikut dengan berbagai akibat yang ditimbulkan terhadap keadaan masyarakat.

Ki Hajar Dewantoro : Ya.., memang begitulah seharusnya. Manusia tidak lagi hanya menjadi korban dari sebuah sistem dan struktur yang barbarian dan despotis, melainkan menjadi penuntas masalah -problem solver- atas hidup mereka; baik sebagai diri pribadi, warga bangsa maupun sebagai warga dunia.

Lalu untuk apalagi perlu dipermasalahkan soal pemangkasan anggaran pendidikan yang 4 triliun dilakukan pemerintah jika konsep pendidikan yang ada memang sudah salah sejak awal? Masalahnya bukan lagi hanya masalah anggaran ataupun janji politik tentang pendidikan gratis, lebih parah dari itu adalah negara sudah mengkhianati amanat Pembukaan UUD’45 alinea ke-empat yang jelas-jelas menyatakan, “….. Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, …….”

Paulo Freire : Entahlah Ki.., ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan.

Belum kering bibir Paulo selesai berucap, tiba-tiba saja dari arah barat ramai orang berlarian tunggang langgang dengan panik sambil mendorong gerobak dan pikulan.

“Satpol PP !!!……   Satpol PP !!!……..   Pembersihan !!!……..   Pembersihan !!!…….”

Popularity: 7% [?]

Reader Feedback

50 Responses to “Dialog Imajiner Ki Hajar Dewantoro dan Paulo Freire; Sebuah Renungan di Hari Pendidikan Nasional”

  1. ami says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    huahahaha jadi inget bakulanku yang posisinya sedang digoyang sama tibum. sik sik tak moco maneh, baca kata2 satpol membuatku menjadi hilang ingatan *hlah*
    ————–

    ok dech… monggo dibaca lagi… take your time… ;)

    [Reply]

  2. xitalho says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    (Doh) Perbincangan tingkat tinggi ini… gak nyanthel aku…

    Wakakaka…. Satpol PP koq blakrakan mrene togh ekekeke..

    Jeruuuu….sem jeru tanin…
    ————–

    Itu contoh specimen dari bentuk penindasan… :D

    [Reply]

  3. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Satpol PP minggat kelaut sono gih..!!

    Merusak suasana masyuk.. perbincangan Kihajar dan mbah Pulo
    —————

    Sehabis memporakporandakan stren kali Surabaya…, terus meneror lapak daganganku di Cimahi… Sekarang malah bikin kedai kopi bubar… (doh)

    [Reply]

  4. senoaji says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    pendidikan dan politisasi kelas ebi..
    —————

    Ho-oh…

    [Reply]

  5. suryaden says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    hamengku hamengkoni…
    para penguasa hanya mau hamengku kekuasaan saja, tapi nggak pernah menyadari kalo dari tetesan ludahnya menyakiti jutaan jelatanya, keliatan sekali dari orang yang katanya bercita-cita membersihkan tikuspun dengan niatan bersih, ternyata liat lobang jelita juga bisa menghilangkan nyawa orang, hanya karena pengin hamemangku wanito wudo… wakakaka
    —————

    problem klasik kekuasaan… harta, tahta dan wanita… (doh)

    [Reply]

  6. ajengkol says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Manusia tidak lagi hanya menjadi korban dari sebuah sistem dan struktur yang barbarian dan despotis <<== Tapi pada Kenyataannya sekarang DEPDIKNAS sering kali mengubah kurikulum yang belum tentu tepat dan tanpa evaluasi jadi sering kali mahasiswa menjadi korban sebuah sistem
    ————–

    Apa yang dilakukan oleh DEPDIKNAS dengan kurikulum pendidikan adalah bentuk nyata dari sistem dan struktur yang barbarian dan despotis… :D

    [Reply]

  7. ami says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    sekarang ini jangan pernah menggantungkan pendidikan ke sekolah formal. masuk sekolah fromal yaaaa untuk formalitas itu tadi aja. ortu yang mesti pandai2 mengarahkan putra putrinya untuk bisa mandiri dan peka lingkungan. *duuuuh berat tuh*
    ————–

    yaaaa…, memang tidak mudah… ;)

    [Reply]

  8. gajah_pesing says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Paulo Freire : Entahlah Ki.., ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru. Maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan.
    saia setuju dengan kutipan itu, Indonesia tidak akan pernah bangkit jika hanya memandang status itu, padahal masih banyak keahlian yang lebih mumpuni daripada gelar tersebut
    —————

    Gelar kesarjanaan saat ini sama halnya seperti gelar kebangsawanan di masa kerajaan jaman dulu… Hanya menciptakan sebuah masyarakat yang feodal…

    [Reply]

  9. endar says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    bener banget kang yen golek sekolah mesti orientasine sing lulus cepet kerjo gajine gede duite akeh.
    sing apik pancen trihayu.. sik tak wacane maneh
    —————

    Ki Hajar Dewantoro memang pantas disebut Bapak Pendidikan Bangsa karena konsep2 pemikirannya yang luar biasa…

    [Reply]

  10. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    kok ki hajar dewantara ketawanya ngakak? wakakakaka gitu? ketawa satire, ya?
    seharusnya yang dibersihkan itu hati pemimpin kita, ya?
    —————

    Beliau ngakak begitu kalau pas lagi nongkrong di warung kopi… Lagian aslinya beliau memang gaul…

    Tepat !!! Asal kotoran yang ada di dalam hati mereka belum terlanjur berkerak…

    [Reply]

  11. ~noe~ says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    “…ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru…”
    aku suka yang ini.
    —————

    Itulah kenyataan yang ada sekarang… Manusia dinilai dari panjangnya titel kesarjanaan yang disandangnya… Bukan dari karya kemanusiaan yang sudah dilakukan untuk kemaslahatan umat…

    [Reply]

  12. mbah sangkil says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    mburi ne kok yo koyok obrakan banci sih kang wahahahahhahahaha
    —————

    Perlakuan Satpol PP terhadap warga pinggir stren kali…, pedagang kaki lima sama dengan perlakuan yang diberikan Satpol PP terhadap banci…. :(

    [Reply]

  13. ekaria27 says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Heeem…
    cara mengkritikisi yang unik
    —————

    Semoga yang dikritik sadar kalau ini kritik…
    Wakakakakak… :D

    [Reply]

  14. kopral cepot says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    eehm.. enaknya minum kopi nyambi ngeroko.. emang pria punya selera… saluuuut Ki Mahendra :D
    ————–

    Wakakakakak… Kang Cepot ulah kituk… Abdi teh jadi malu… Sok mangga diminum atuh kopina… :D

    [Reply]

  15. agus says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Manusia sudah tidak menyadari fitrahnya
    Mereka juga sudah tidak menyadari peran mereka di panggung sandiwara dunia ini
    Seandainya kita semua menjalankan peran kita dengan bagaimana mestinya……..
    ————–

    Kata kuncinya ‘menyadari fitrah’, itu artinya mengenali diri sejati, sejatinya diri… :)

    [Reply]

  16. cebong ipiet says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    pertanyaannya? Gimana praktek nyatanya? Bukan lagi menjadi sekedar konsep
    ————–

    Prakteknya jelas panggang jauh dari api… Kondisi obyektifnya malah berbanding terbalik dari konsep yang seharusnya… :(

    [Reply]

  17. mel says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    mencerdaskan kehidupan bangsa???
    kaya’nya jauh dech… hanya dalam mimpi…
    ————–

    mimpi yang jauh dari kenyataan seperti panggang jauh dari apinya…

    [Reply]

  18. omiyan says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    aturan yang membuat aturannya mas salah orang menurut saya mah sih…hehehehe
    —————

    ya salah orang…, salah sistem.., salah struktur… yang paling parah salah dalam orientasi bebrbangsa dan bernegara…

    [Reply]

  19. geRrilyawan says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    kayanya memang pendidikan kita masih jarang yang ngasih ilmu…kebanyakan masih ngasih gelar/titel aja. kalo saya pikir sebenernya anggaran nggak jadi masalah, sistemnya malahan yang harus di…kaji ulang.
    kalo lihat “laskar pelangi” dengan kesederhanaan saja bisa menghasilkan anak2 yang “cerdas” nggak cuma sekedar “pintar”…

    jadi inget juga samaa sekolahannya romo mangun…
    —————

    Sayangnya ‘laskar pelangi’ masih berupa bayangan ideal…, bukan kenyataan…

    anggaran memang gak pernah ada masalah…, masalahnya pada political will, nawaitu politik untuk sungguh2 mencerdaskan kehidupan bangsa…

    Romo Mangun salah satunya yang bisa menggabungkan pemkiran Freire dan Ki Hajar Dewantoro…

    [Reply]

  20. cahsholeh says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    wah, ra nyandhak utekku maca tulisan duwur kaya ngono kuwi…
    aku lahir, paulo freire, ki hajar dewantara wes nasdut kabeh…
    kuwi freire karo ki hajar ketemu nang ndi ya?
    ————–

    Sing jelas ketemune sak urunge kowe lahir..
    Jarene budayawan…, kok ra nyandak moco tulisanku???
    Wakakakakakak… :D

    [Reply]

  21. suwung says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    gelar kok dikejar
    harusnya kan ditulis
    ————–

    ho-oh… wis bener kuwi… (doh)

    [Reply]

  22. annosmile says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    wah..
    ki hajar bangkir dari kubur :) )
    —————

    Suaranya menggema lebih lantang dari dalam kuburnya… :)

    [Reply]

  23. ciwir says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    aku lagi mikir, piye carane hamemayu ayuning wanita
    ————-

    telaaaaatttt… wis dilakoni kok lagi mikir piye carane… (doh)

    [Reply]

  24. galuharya says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    untuk menjadikan negara dan dunia lebih baik gak usah tengok depan belakang kiri kanan….
    kita mulai saja dengan diri kita sendiri
    karena dengan kita sadar diri dan mawas diri negara dan dunia akan otomatis bisa lebih baik

    apik tulisane kang

    saluttt
    ————–

    Matur nuwun… Setuju banget Kang… :)

    [Reply]

  25. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    wow… postingan yang bagus, kritis, dan mencerahkan yang digarap secara kreatif dg menggunakan gaya waancara imajiner. konsep trihayu belakangan ini sudah banyak tereduksi oleh berbagai kepentingan. para pengambil kebijakan sudah tak lagi memiliki wisdom dan kearifan. anggaran pendidikan yang seharusnya ditambah justru malah dikepras. agaknya kesadaran logis masih belum juga sanggup mengalahkan kesdaran magis. quovadis dunia pendidikan kita?
    —————

    Nampaknya bendera setengah tiang patut dikibarkan untuk dunia pendidikan kita… :(

    [Reply]

  26. meylya says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    sampek bingung aku om mau koment apa
    yang jelas bagus banget nih tulisanya saluut
    ————–

    Makasih atas kunjungan dan komentarnya…

    [Reply]

  27. neng aia says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    weleh… sampe² Ki Hajar aja di sadap teleponnya sama itempoetih
    ;P
    ————–

    bukan cuma KPK yg bisa nyadap telpon… wakakakak… :D

    [Reply]

  28. mikekono says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    sebuah postingan imajiner
    yang berkualitas, memikat
    dan futuristik…..
    saluuut bro :)
    ————–

    juragan nongol nich… kemana aja Bro? :)

    [Reply]

  29. Pakde says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Menyoal tentang pendidikan di Indonesia akhirnya kita selaku orang tua seperti memilih buah simalakama (Aha…pribahasa jadul yang kembali mengemuka) Saya bilang simalakama artinya tidak sekolah salah, dan ketika sekolahpun jadi pilihan yang dipaksakan akhirnya. Entah di mana para menteri2 di papan catur pendidikan ini. koq semakin hari media pendidikan ini makin nggak karuan ajaaaaa….ada yang gratis tapi untuk pihak tertentu, ada yang punya keinginan sekolah lagi terbentur dengan biaya.

    Mudah2an besok lusa ada segelintir orang yang dapat bersedia untuk trihayu…bukan lagi tut wuri handayani…didorong-dorong tapi yang didorong larinya malah ke jurang kesengsaraan. Peace
    —————

    Aha… menteri2 justru keasyikan main catur sampai lupa ngurus pendidikan…

    Trihayu muatannya…, tut wuri handayani paradigmanya…, asah asih asuh metodenya…

    Damai selalu…

    [Reply]

  30. tikno says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Essay yang bagus untuk direnungkan.

    Kelihatannya pemerintah ingin agar dunia pendidikan kita lebih mandiri. Tapi konsekuensinya dunia pendidikan akan berorientasi profit.
    ————–

    Nampaknya banyak yang mengartikan liberalisasi sebagai kemandirian… Yang terjadi akhirnya komersialisasi pendidikan…

    [Reply]

  31. yungchi says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Pendidikan yg layak dan bermutu di Indonesia hanya diperuntukkan untuk orang2 yang berduit saja…. Padahal saudara2 kita yg tergolong di tingkat menengah kebawah harus banting tulang untuk bisa menyekolahkan anak2nya, itu juga meraka tidak bisa mendapatkan pendidikan/sekolah yg benar2 bermutu…

    Besok2 bikin tulisan tentang kesehatan mas…. (usul..) walau mungkin ceritanya gak akan jauh berbeda…. tapi setidaknya makin taulah kita kebobrokan pemerintahan sampai saat ini… Sarana Pendidikan dan kesehatan blm bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia.. Sampai kapan Indonesia akan maju???? :’(

    btw ,aku pamerkan lagi koleksi antikku… dilihat ya….
    thx…
    —————

    Soal kesehatan? Waaaahhhh…, usul yang ok tuch… aku coba cari inpirasi dulu yaaa…

    Ok…, aku segera berangkat… :)

    [Reply]

  32. budisan68 says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    bagus pol
    inovatif, kreatif, menyenangkan
    salam hormat
    EDUCATION HAVE AS BODY LAW, HEAD…
    —————

    Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya…
    Akan segera melakukan kunjungan balasan…
    Salam kenal dan salam hormat juga… :)

    [Reply]

  33. Hejis says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Benul, bro… eh Freire n Ki Hajar… Mnrtku, bangsa ini menjadi surut ke belakang. Sangat tidak logis [mengacu pada logika bahwa pendidikan merupakan prioritas tertinggi bagi masyarakat/bangsa yang beradab] untuk pengurangan anggaran.

    Bangsa ini memang tidak pernah belajar dari siapa pun, termasuk belajar pada diri sendiri. Jelas2 bahwa tidak ada negara yang dapat maju tanpa menggarap bidang pendidikan dengan komitmen yg sangat tinggi, masih saja seperti ini. Ini bencana peradaban ya bro…?

    Karakter dan kultur kita memang sejak awal lemah kualitasnya. Cuma kita sering terlalu bangga pada kulit2 kita yang akhirnya menina-bobokkan kita sendiri sampai pada tataran bebal [maaf bro, ini istilah saya sendiri. Jadi jangan marah ya].

    Btw, jurusmu ini jurus maut, bro. Menyengat dan mencerahkan. Jadi, aku masih duduk manis di sini untuk berguru lebih mendalam… Maafkanlah diriku yg hina dina ini… wkwkwkwk…

    Salam hangat, bro.. :)
    ————–

    Bukankah setiap orang adalah guru bagi yang lain? Wakakakak… :D

    Yaaa…, kebanggaan pada kulit, bungkus dan kemasan yang artifisial membuat lupa akan kesejatian diri.

    Dan ini memang sebuah bencana peradaban…

    Salam hangat juga… :)

    [Reply]

  34. yunus says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    siang mas….. tenang aja mas.. koleksi barang2 antik ku akan terus terawat dan menetap di rumah lho…. gak bakalan hijrah ke luar negeri…. jika mau lihat bisa main ke rumahku ya…. :)
    —————

    Waaahhh.., dengan senang hati. pengin banget tuuuch… kapan yaaa…
    ok…, nanti aku kabari…

    makasih atas tawarannya… :)

    [Reply]

  35. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Ngga bisa ngomeng banyak… pokoke manthab
    ————–

    Yang penting dah mampir… suwun hlo yooo… :)

    [Reply]

  36. Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Sebuah tulisan yang benar-benar merefleksikan dunia pendidikan di Indonesia… salut dah… mangstap kang…
    —————

    Matur nuwun dulur… :)

    [Reply]

  37. boyin says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    menambah pengetahuan saya kalo anggaran pendidikan sampai dipangkas..weleh2..artinya pendidikan gratis yang secara konsisten bisa masih jauh dari angan…mengharapkan sampoerna atau djarum foundation juga gak seberapa signifikan kayaknya
    ————–

    pa kabar mas?
    iyaa…, jauh panggang dari api… mengharapkan dari non government sama saja mengakui bahwa pemerintah telah gagal… :(

    [Reply]

  38. buwel says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    wow ki hajar dewantoro ya……
    itu pahlawan dong…heheheheh
    —————

    masak siiich??? wakakakak… :D

    [Reply]

  39. neng aia says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    lho? perasaan kemarin udah komen deh dsini… atau aku yg amnesia yah??

    wah pelajaran sejarah ini!!
    —————

    bukan amnesia.., tapi kena jetlag…

    [Reply]

  40. kopral cepot says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    “Entahlah Ki.., ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan”….
    Sikap dan perilaku yang feodal “katanya” menjadi salah satu ciri “manusia indonesia”.. masihkah bisa diubah?
    Kesadaran magis……. tanpa “trik n magic”, sepertinya mesti meniru “Limbad” berbuat tanpa bicara… tapi klo ngak bicara mana ada yang mo ngerti… ach ngomong apa aku ini… :D
    http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/11/mengingat-yang-lupa-tentang-manusia-indonesia-untuk-bangkit-beradab/
    Salam buat Ki Hajar Dewantara
    —————

    Limbad? berbuat tanpa bicara? Saya lebih percaya ‘hijina tekad, ucap dan lampah’ walaupun tidak mudah dilakukan.

    Tapi yakinlah masih bisa ada asa untuk perubahan yang lebih baik walaupun cukup besar ‘biaya’ yang harus ditanggung.

    Segera berangkat menuju TKP. wakakakakak… :D

    [Reply]

  41. Ferdian Adi says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    huff..and I feel speechless to read your great writing …salute for you Sir…
    ————–

    Thank you for your compliment (blush)… Not what is written, but whom is read… ;)

    [Reply]

  42. cahsholeh says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    sing nulis pinter ki!
    ————-

    sing moco luwih pinter! (worship)

    [Reply]

  43. ircham says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    ketika title dan gelar kesarjanaan menciptakan feodalisme baru maka selama itu pula manusia tidak bisa bangkit dari ketertindasan.

    SEPAKAT…!!!
    ————–

    Yup… :)

    [Reply]

  44. Lambang says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Wuih, edyan tenan, jurnalistik sundul langit iki…
    Masih terima murid Kang? ;)

    Salam Kenal (apa udah kenal ya?)
    ————–

    Kenalan dua kali juga ra popo kok… hehehehe… :D
    Tidak terima murid…, disini hanya menerima teman diskusi aja… jiyahahaha… :D

    nyundul langit ki piye carane? ;)

    [Reply]

  45. Unknown Unknown

    [...] Ir. Soekarno, dalam upayanya mengembalikan jati diri bangsa melakukan apa yang disebutnya sebagai Nation and Character Building. Dalam berbagai pidatonya, Bung Karno acapkali mengumandangkan tiga hal utama yang kemudian dikenal [...]

  46. WordPress 2.8.5 WordPress 2.8.5

    [...] oleh korupsi kemanusiaan. Manusia Indonesia telah kehilangan jati diri kemanusiaannya. Nilai-nilai imanen-spiritual-transendental Ketauhidan Yang Maha Esa berganti menjadi nilai-nilai material-hedonik-rasional yang bernisbat pada penghambaan kemegahan [...]

  47. Browser Internet Explorer 8.0; Internet Explorer 8.0; OS Windows XP Windows XP

    Seneng aku dengan ulasannya Mas, boleh aku quoto di blog-ku tentang trirahayu ya?

    [Reply]

    itempoeti Reply:

    monggo silakan…
    dengan senang hati… :D
    nanti saya main kesana yaaa…

    [Reply]

  48. barajakom says:
    Browser Firefox 3.0.17 Firefox 3.0.17 OS Windows XP Windows XP

    he…he… ini nyindir siapa neh mas
    Mantap deh
    barajakom´s last blog ..nowgoogle.com adalah multiple search engine popular My ComLuv Profile

    [Reply]

  49. xitalho says:
    Browser Opera 10.10 Opera 10.10 OS Windows XP Windows XP

    Iso nggawe dialog imaginer ngene ki sinaune nangdi yo…? jan manteb poll..
    xitalho´s last blog ..Megatruh My ComLuv Profile

    [Reply]

Leave a Reply

CommentLuv Enabled



UA-11099112-1