Mengejar Layangan Putus

bangkit berjuang demi masa depan!!! atau diam.., mati tergilas roda sejarah!!!
Friday 10 February 2012
bebas untuk di-copas asal mencantumkan sumber aslinya
Bookmark and Share

    Translate to:

Edition

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

Mengejar Layangan Putus

layang-layangMengikuti perkembangan pseudo pesta demokrasi Pemilu 2009, memantik memory kolektif untuk terbang kembali ke masa lalu semasa kecil. Hidup di tengah wilayah padat dengan banyak lorong dan gang, bermain dengan teman-teman sebaya. Mulai dari permainan bola kaki, petak benteng, galasin (Jawa : gobak sodor), petak umpet, gundu, cari belut; hingga masih banyak lagi permainan outdoor anak-anak yang begitu beragam di bawah sinar matahari penuh gerakan aerobik yang menyehatkan serta tentu saja murah meriah dan bersifat padat anak –melibatkan banyak anak-.

Semua permainan tersebut saat ini sudah ditemukan mati tergeletak di tempat sampah sosial setelah diperkosa dan dimutilasi oleh kuasa teknologi atas nama modernisme dengan kemasan console-console permainan anak-anak jaman sekarang yang begitu antisosial, beku, statis, sendiri, di udara dingin ber-AC di depan layar televisi. Permainan seperti PS2, PSP, Nintendo, XBOX atau apapun namanya yang terbukti merusak mata karena terlalu lama memandang layar televisi walaupun menyehatkan jari tangan karena hanya bagian tubuh itu yang aktif bergerak.

Dari begitu beragam permainan semasa kecil, yang muncul kembali di ingatan adalah permainan layang-layang. Siapapun tentu tahu permainan layang-layang karena memang ini permainan yang ada hampir di seluruh belahan dunia. Kenikmatan yang diperoleh dengan menerbangkan selembar kertas yang di bentuk dengan dua batang bambu tanpa perlu belajar ilmu aeronotika ke Jerman. Cukup hanya dengan segulung benang gelasan yang sudah dilapis dengan serbuk gelas supaya tajam, benda yang bernama layang-layang tersebut sudah terbang mengudara tanpa kita harus terlebih dulu mengantongi lisensi pilot.

Manuver-manuver aerobatik senantiasa dilakukan untuk mempertontonkan keahlian dalam mengendalikan layang-layang. Permainan ulur, tarik, kedut dan betot yang dilakukan dengan sehelai benang layangan mampu membuat layangan berputar ke kiri dan ke kanan atau bergerak menukik untuk kemudian melesat kembali ke atas menjadi suatu keasyikan tersendiri yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Yang paling menarik ketika musim layang-layang tiba, semua teman-teman terserang demam layangan. Angkasa berubah dipenuhi warna-warni layangan dengan segala manuver aerobatik yang dilakukan. Serunya lagi, orgasme permainan layangan akan mencapai klimaksnya ketika terjadi adu layangan dimana dua atau lebih layangan saling bertarung untuk memotong benang layangan menghabisi lawan-lawannya –prinsipnya semua lawan semua- hingga tersisa satu pemenangnya.

Tidak selesai sampai disitu saja kenikmatan orgasmenya. Masih berlanjut untuk meraih multiple orgasme tatkala pertarungan adu layangan terjadi, ada sejumlah teman-teman dengan kewaspadaan yang tinggi mengamati dengan seksama dan bersikap siaga satu siap bergerak sewaktu-waktu lengkap dengan membawa sejumlah ‘persenjataan’ bilah bambu atau kayu yang kadang ujungnya dipasang ranting-ranting.

Ketika salah satu layangan putus benangnya akibat pertarungan, serta merta mereka serempak berlari mengejar layangan putus -tak terkecuali si pemilik layangan putus- bagaikan sekumpulan tawon yang terbang berombongan menyerang perusak sarang mereka. Mereka lari berkejaran sambil pandangan mata mereka tak pernah lepas dari layangan putus tersebut. Layangan bergerak oleng melayang turun terbawa angin sampai akhirnya mendekati tanah. Gerombolan anak-anak yang berlari tadi bergerak semakin mendekat pada layangan putus tersebut sampai akhirnya secara bersamaan mereka tiba di tempat layangan putus yang masih melayang sekitar beberapa meter dari atas tanah.

Teman-teman yang sudah sampai di bawah layang-layang langsung beraksi dengan ‘persenjataan’ mereka masing-masing untuk menjadi yang tercepat meraih layangan putus terebut. Ramai dan carut marut suasananya, berlarian, berloncatan menggunakan ’senjata’nya untuk meraih layangan putus tanpa peduli lagi siapa yang ada di belakang, depan dan samping mereka sampai terinjak, terjatuh, terdorong ataupun bahkan terpukul. Semua pikiran, tenaga, waktu, daya dan upaya terfokus untuk mendapatkan layangan putus yang semakin mendekat.

Teriakan-teriakan makin ramai terdengar. “Aku duluan..,” teriak yang satu. “Aku duluan..,” teriak yang satu lagi. “Aku yang duluan…,” teriak yang lain lagi. Semua berteriak mengaku sebagai yang pertama dan paling berhak mendapatkan layangan putus tersebut. Suasana makin memanas dan tidak terkendali. Layangan putus berada di tangan teman-teman yang saling tarik menarik memperebutkan layangan tersebut.

Tiba-tiba salah satu diantaranya berteriak sambil merenggut dengan paksa layangan putus tersebut.., “Sudah.., sudah.., biar adil dirobek aja layangannya supaya gak rebutan..,” sambil merobek layangan tersebut tanpa menunggu persetujuan yang lain. Layangan hancur tercabik-cabik. Semua nampak kecewa tapi di sisi lain mereka merasa puas walaupun secara pribadi mereka tidak mendapatkan layangan tersebut namun yang lainpun tidak mendapatkannya.

Kenangan masa kecil tentang layangan putus muncul kembali ketika mengikuti perkembangan politik nasional Indonesia akhir-akhir ini. Jangan heran jika usai Pemilu 2009, negeri ini akan bernasib seperti layangan putus. Sikap perilaku elit politik kita tanpa sadar sudah terbangun sejak kecil untuk memahami arti keadilan dengan kesadaran yang destruktif.

Like

Popularity: 2% [?]

Reader Feedback

46 Responses to “Mengejar Layangan Putus”

  1. Itmam says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    hmm.. jadi inget masa kecil dulu saat berkejaran meraih layangan putus, berebut dengan teman2 sepermainan :)

    politik negeri kita yang menghabiskan dana milyaran ruipah, nampaknya belum bisa mencapai hasil yang optimal, sungguh menyedihkan.. :(
    ————–

    Mental, kesadaran dan orientasi elit politiknya yang harus disembuhkan… :)

  2. neng aia says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    begitu juga urusan koalisi, tarik ulur seperti layangan..

    jadi kangen maen layangan nih…
    ————–

    Kejar layangan dulu…, kalau dah dapet baru ikutn main layangan… :D

  3. grubik says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    waduh, lha nek sing bar pedhot terus disobek-sobek, ya.. malah ra kalap, ngeriii…
    —————

    ho-oh jeeee…. jan ngeriiii tenaaannn… piye jal? :(

  4. masnoe® says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    demi layang – layang tak pandang bulu sampi tanaman orang, jagung, kacang, pada pada di injek2. kalau grobag sodor ramah lingkungan kali ya
    ————–

    gobak sodor lebih ok… sayangnya lahan tempat bermain sudah habis buat mall dan plasa… Kuburan aja digusur… :(

  5. gdenarayana says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    wah klo di komplek perumahan saya biarpun pada berkeluarga tetep ae maen layangan mas :mrgreen:

    terutama anak2 aseli sono yang dari kecil udah buandelnya minta ampyun, dari mandi di kali, nyari ikan, maen layangan ampe buat tali gelasan ndiri…balon neon digetok abis ntuh dialusin…jahhh…biar tali gelasane mantep :D pokoke amburadul…kekekek :lol:

    tp untung saya pernah ngerasain kaya gitu mas, soalnya seperti yg mas bilang klo anak2 sekarang lebih byk maen PS doang…xixixi

    pada nongkrong di rentalan..jarang saya liat ada yang uber2 layangan apalagi disawah…payah :(
    ————-

    jaman dulu memang permainannya lebih menyehatkan, kreatif dan lebih akrab dengan alam… :D

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

Spam protection by WP Captcha-Free

itempoeti


Search Engine Submission - AddMe
UA-11099112-1