Mengikuti perkembangan pseudo pesta demokrasi Pemilu 2009, memantik memory kolektif untuk terbang kembali ke masa lalu semasa kecil. Hidup di tengah wilayah padat dengan banyak lorong dan gang, bermain dengan teman-teman sebaya. Mulai dari permainan bola kaki, petak benteng, galasin (Jawa : gobak sodor), petak umpet, gundu, cari belut; hingga masih banyak lagi permainan outdoor anak-anak yang begitu beragam di bawah sinar matahari penuh gerakan aerobik yang menyehatkan serta tentu saja murah meriah dan bersifat padat anak –melibatkan banyak anak-.
Semua permainan tersebut saat ini sudah ditemukan mati tergeletak di tempat sampah sosial setelah diperkosa dan dimutilasi oleh kuasa teknologi atas nama modernisme dengan kemasan console-console permainan anak-anak jaman sekarang yang begitu antisosial, beku, statis, sendiri, di udara dingin ber-AC di depan layar televisi. Permainan seperti PS2, PSP, Nintendo, XBOX atau apapun namanya yang terbukti merusak mata karena terlalu lama memandang layar televisi walaupun menyehatkan jari tangan karena hanya bagian tubuh itu yang aktif bergerak.
Dari begitu beragam permainan semasa kecil, yang muncul kembali di ingatan adalah permainan layang-layang. Siapapun tentu tahu permainan layang-layang karena memang ini permainan yang ada hampir di seluruh belahan dunia. Kenikmatan yang diperoleh dengan menerbangkan selembar kertas yang di bentuk dengan dua batang bambu tanpa perlu belajar ilmu aeronotika ke Jerman. Cukup hanya dengan segulung benang gelasan yang sudah dilapis dengan serbuk gelas supaya tajam, benda yang bernama layang-layang tersebut sudah terbang mengudara tanpa kita harus terlebih dulu mengantongi lisensi pilot.
Manuver-manuver aerobatik senantiasa dilakukan untuk mempertontonkan keahlian dalam mengendalikan layang-layang. Permainan ulur, tarik, kedut dan betot yang dilakukan dengan sehelai benang layangan mampu membuat layangan berputar ke kiri dan ke kanan atau bergerak menukik untuk kemudian melesat kembali ke atas menjadi suatu keasyikan tersendiri yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Yang paling menarik ketika musim layang-layang tiba, semua teman-teman terserang demam layangan. Angkasa berubah dipenuhi warna-warni layangan dengan segala manuver aerobatik yang dilakukan. Serunya lagi, orgasme permainan layangan akan mencapai klimaksnya ketika terjadi adu layangan dimana dua atau lebih layangan saling bertarung untuk memotong benang layangan menghabisi lawan-lawannya –prinsipnya semua lawan semua- hingga tersisa satu pemenangnya.
Tidak selesai sampai disitu saja kenikmatan orgasmenya. Masih berlanjut untuk meraih multiple orgasme tatkala pertarungan adu layangan terjadi, ada sejumlah teman-teman dengan kewaspadaan yang tinggi mengamati dengan seksama dan bersikap siaga satu siap bergerak sewaktu-waktu lengkap dengan membawa sejumlah ‘persenjataan’ bilah bambu atau kayu yang kadang ujungnya dipasang ranting-ranting.
Ketika salah satu layangan putus benangnya akibat pertarungan, serta merta mereka serempak berlari mengejar layangan putus -tak terkecuali si pemilik layangan putus- bagaikan sekumpulan tawon yang terbang berombongan menyerang perusak sarang mereka. Mereka lari berkejaran sambil pandangan mata mereka tak pernah lepas dari layangan putus tersebut. Layangan bergerak oleng melayang turun terbawa angin sampai akhirnya mendekati tanah. Gerombolan anak-anak yang berlari tadi bergerak semakin mendekat pada layangan putus tersebut sampai akhirnya secara bersamaan mereka tiba di tempat layangan putus yang masih melayang sekitar beberapa meter dari atas tanah.
Teman-teman yang sudah sampai di bawah layang-layang langsung beraksi dengan ‘persenjataan’ mereka masing-masing untuk menjadi yang tercepat meraih layangan putus terebut. Ramai dan carut marut suasananya, berlarian, berloncatan menggunakan ’senjata’nya untuk meraih layangan putus tanpa peduli lagi siapa yang ada di belakang, depan dan samping mereka sampai terinjak, terjatuh, terdorong ataupun bahkan terpukul. Semua pikiran, tenaga, waktu, daya dan upaya terfokus untuk mendapatkan layangan putus yang semakin mendekat.
Teriakan-teriakan makin ramai terdengar. “Aku duluan..,” teriak yang satu. “Aku duluan..,” teriak yang satu lagi. “Aku yang duluan…,” teriak yang lain lagi. Semua berteriak mengaku sebagai yang pertama dan paling berhak mendapatkan layangan putus tersebut. Suasana makin memanas dan tidak terkendali. Layangan putus berada di tangan teman-teman yang saling tarik menarik memperebutkan layangan tersebut.
Tiba-tiba salah satu diantaranya berteriak sambil merenggut dengan paksa layangan putus tersebut.., “Sudah.., sudah.., biar adil dirobek aja layangannya supaya gak rebutan..,” sambil merobek layangan tersebut tanpa menunggu persetujuan yang lain. Layangan hancur tercabik-cabik. Semua nampak kecewa tapi di sisi lain mereka merasa puas walaupun secara pribadi mereka tidak mendapatkan layangan tersebut namun yang lainpun tidak mendapatkannya.
Kenangan masa kecil tentang layangan putus muncul kembali ketika mengikuti perkembangan politik nasional Indonesia akhir-akhir ini. Jangan heran jika usai Pemilu 2009, negeri ini akan bernasib seperti layangan putus. Sikap perilaku elit politik kita tanpa sadar sudah terbangun sejak kecil untuk memahami arti keadilan dengan kesadaran yang destruktif.
Popularity: 2% [?]













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
Like





Kenapa aku slalu bukan yang pertama baca postingan ini… hiks hiks.. Kang hatur tangkyu tlah mengingatkan aku untuk berkunjung kemari sebenarnya aku dah bolak-balik dari kemarin apa kelanjutan dari “kontemplasi” peristiwa politik 2009 ternyata layangan putus..
, aku sebenarnya penikmat “layangan gateng” bukan “layangan adu” maklum slalu kalah he he he.
Aku jadi inget layangan putus yang tertiup angin trus menjauh ke angkasa tak terkejar oleh siapapun… mungkinkah layangan putus itu menjadi milik langit? ato masih berharap layangan putus itu ditemukan kembali oleh “budak angon”…
ternyata “kontemplasi” politik 09 masih menyimpan berbagai kenangan masa lalu… diantos nu sanes na..
————-
Mangga sami-sami diantos Kang… Hatur nuhun tos mampir…
nyepam… bwahaha
ngakak komentare Mas Endar…
rasanya kayak maen layangan… kakaka
————–
Tak kiro wis turu… Sesama vampire dilarang nyepam… Jiyakakakakakak…
Aku yo ngguyu ngakak moco komentare…
Wah saya jadi inget masa kecil saya, ditempat saya untuk bermain layangan biasanya membuat sendiri dengan bahan bambu dan plastik. Karena saya nggak bisa memuat sendiri maka saya selalu minta tolong pada teman untuk membuatkan.
Saat ini sepertinya anak2 sudah dinina bobokkan dg permainan modern yg tidak ada nilai kebersatuan dan bahkan lebih mendorong dan mengajarkan anak untuk individualis. Beda dengan permainan tradisional, dalam setiap permainan pasti selalu terselip maksud sosial spt kebersamaan, gotong royong dan lain2…
Wah… saya jadi rindu main layang2… sudah berapa tahun ya saya nggak main layang2… :?:
————–
Yuuukkk…, bareng2 main layangan… Tapi gak boleh rebutan sampai dirusak yaaa…
Ngak jadi main layangan dong kalau dirobek demi keadilan he he
—————
Adil itu = semua gak dapat apa2…
berarti anak sekarang udah bener ya mas, nggak maen layangan lagi soalnya udah ganti maen PS biar prilakunya gak kayak orang2 poitik yang memang masa kecilnya suka maen layangan. Kalo maen PS nanti besarnya selalu tuduk dan patuh pada system yang dibuat karena kalo maen PS kan memang musti nurut ama system permainan yang di buat si pembuat PS itu..heeee
————–
Masalahnya masih sama… Biar adil PSnya yang dirusak soalnya rebutan siapa yang mau main duluan… Wakakakakak…