Ketika Popularitas Adalah Segalanya

bangkit berjuang demi masa depan!!! atau diam.., mati tergilas roda sejarah!!!
Friday 18 May 2012
bebas untuk di-copas asal mencantumkan sumber aslinya
Bookmark and Share

    Translate to:

Edition

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

Ketika Popularitas Adalah Segalanya

gedung-dpr-riPenghitungan suara memang belum final. Meski demikian hasil pantauan lapangan sudah bisa memberikan gambaran yang cukup signifikan tentang perolehan suara yang didapat oleh para caleg tingkat pusat DPRRI.

Yang menarik justru munculnya fenomena tingginya perolehan suara para artis dan selebriti yang ikut nyaleg. Di Jakarta, perolehan suara Mandra salah seorang tokoh dalam sinetron Si Dul Anak Sekolahan bersaing ketat dengan perolehan suara Ketua DPRRI Agung Laksono di Dapil I DKI Jakarta. Eko Patrio di dapil VIII Jatim memperoleh 47.754 suara. Demikian juga dengan artis Marini Zumarnis, Rieke ‘Oneng’ Dyah Pitaloka dan mantan peragawati Okky Asokawati serta masih banyak lagi rekan sejawat mereka yang mendapat perolehan suara cukup tinggi untuk bisa lolos ke Senayan. Partai Amanat Nasional (PAN) menyumbang caleg artis terbanyak sebesar 18 orang.

Ini membuktikan betapa popularitas yang mereka miliki ternyata menjadi kunci utama keberhasilan dalam mendapatkan raihan suara yang cukup signifikan. Nampaknya kita tak perlu heran jika nantinya Senayan akan banyak diisi oleh muka-muka baru yang notabene adalah artis dan selebriti terkenal.

Meski demikian, muncul sebuah pertanyan, “apakah popularitas yang mereka miliki parallel seimbang dengan kapabilitas yang dimiliki untuk menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat yang duduk di lembaga tinggi Negara yang bernama DPRRI?”

Ada tiga fungsi utama yang harus dijalankan oleh DPRRI sebagai badan legistatif. Yang pertama adalah fungsi legislasi, yaitu membuat Undang-Undang yang merupakan produk hukum di bawah Undang-Undang Dasar ‘45, termasuk juga melakukan ratifikasi dan amandemen terhadap Undang-Undang.

Fungsi kedua adalah penyusunan anggaran yang kemudian ditetapkan sebagai APBN (Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara). APBN berisi tentang daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember). Sektor penerimaan Negara dibagi menjadi dua yaitu : penerimaan dalam negeri dari pajak ditambah bukan dari pajak, dan hibah. Sementara itu di sektor pengeluaran Negara juga dibagi menjadi dua yaitu : Belanja dan pembiayaan yan meliputi seluruh instansi pemerintah baik departemen dan non departemen serta pemerintah daerah.

Fungsi yang terakhir yang juga adalah fungsi ketiga adalah fungsi pengawasan yang dilakukan terhadap seluruh instansi pemerintah baik departemen maupun non departemen terkait kinerja eksekutif dalam pelaksanaan Undang-Undang.

Melihat gambaran tersebut, sudah barang tentu dibutuhkan kapabilitas baik kualitas pemahaman, pengetahuan dan kemampuan yang paripurna untuk bisa menjalankan ketiga fungsi tersebut di atas. Namun jika kembali pada latar belakang yang dimiliki para artis dan selebriti yang nantinya duduk di DPRRI, tak bisa dipungkiri munculnya kekuatiran terhadap proses politik yang nantinya akan berlangsung lima tahun ke depan dimana nasib 250 juta rakyat Indonesia berada di tangan mereka yang menjadi wakil-wakilnya. Sungguh ironis jika pada akhirnya popularitas yang dimiliki ternyata berbanding terbalik dengan kapabilitas yang dimiliki.

Terlalu mahal harga dan biaya yang dipertaruhkan ketika nasib masa depan bangsa ini justru ditentukan oleh popularitas, bukan kapabilitas.

Selamat menempuh hidup baru!!!

Be the first to like.

Popularity: 1% [?]

Reader Feedback

80 Responses to “Ketika Popularitas Adalah Segalanya”

  1. [...] itu kini bernama kekuasaan. Dan, rasa keingintahuan bukan lagi milik Pandora seorang. Tapi milik orang-orang yang diberkahi oleh dewa popularitas dan dewa uang untuk bisa mengecap rasa kekuasaan. Kekuasaan yang berbalut simbol-simbol institusi [...]

  2. [...] itu kini bernama kekuasaan. Dan, rasa keingintahuan bukan lagi milik Pandora seorang. Tapi milik orang-orang yang diberkahi oleh dewa popularitas dan dewa uang untuk bisa mengecap rasa kekuasaan. Kekuasaan yang berbalut simbol-simbol institusi [...]

  3. [...] itu kini bernama kekuasaan. Dan, rasa keingintahuan bukan lagi milik Pandora seorang. Tapi milik orang-orang yang diberkahi oleh dewa popularitas dan dewa uang untuk bisa mengecap rasa kekuasaan. Kekuasaan yang berbalut simbol-simbol institusi [...]

  4. [...] itu kini bernama kekuasaan. Dan, rasa keingintahuan bukan lagi milik Pandora seorang. Tapi milik orang-orang yang diberkahi oleh dewa popularitas dan dewa uang untuk bisa mengecap rasa kekuasaan. Kekuasaan yang berbalut simbol-simbol institusi [...]

  5. [...] itu kini bernama kekuasaan. Dan, rasa keingintahuan bukan lagi milik Pandora seorang. Tapi milik orang-orang yang diberkahi oleh dewa popularitas dan dewa uang untuk bisa mengecap rasa kekuasaan. Kekuasaan yang berbalut simbol-simbol institusi [...]

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

Spam protection by WP Captcha-Free



Search Engine Submission - AddMe
UA-11099112-1