Iklan politik makin marak bermunculan belakangan ini seiring makin dekatnya perhelatan Pemilu. Di beberapa stasiun televisi nasional, frekuensi pemunculan iklan politik juga memperlihatkan intensitas tayang yang semakin sering.
Salah satu yang menarik perhatian adalah iklan Partai Demokrat yang mengekspos penurunan harga BBM yang baru-baru ini diumumkan oleh pemerintah. Iklan tersebut begitu verbal menyampaikan pesan bahwa penurunan harga BBM yang terjadi menunjukkan betapa tingginya keberpihakan dan kepedulian SBY kepada rakyat.
Logika yang dibangun dalam pesan yang disampaikan tersebut jelas menyesatkan, kalaupun tidak bisa dikatakan sebagai pembodohan publik. Penurunan harga BBM yang terjadi bukan berangkat dari faktor internal keberhasilan pemerintah untuk meningkatkan cadangan devisa dengan meningkatkan pendapatan negara dari sektor non migas. Sehingga dengan begitu bisa dilakukan penambahan subsidi BBM yang membuat harga BBM menjadi turun.
Harga BBM diturunkan karena memang harga minyak dunia turun mencapai US$40/barrel. Penurunan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintahan SBY pun sesungguhnya terlambat bila dibandingkan negara-negara lain yang lebih dulu menurunkan harga BBM di dalam negerinya akibat penurunan harga minyak dunia.
Yang mengherankan lagi, penurunan yang dilakukan tidak sebanding dengan penurunan harga minyak dunia. Sebagai gambaran, ketika harga minyak dunia US$. 70.00/barel, terjadi kenaikan harga BBM dari Rp. 2.500,-/liter menjadi Rp. 4.500,-/liter. Lalu setelah terjadi kenaikan menjadi US$ 125.00/barel, terjadi kenaikan harga BBM dari Rp. 4.500,-/liter menjadi Rp. 6.000,-/liter. Anehnya, ketika harga minyak dunia mencapai US$. 45.00/barel, SBY hanya menurunkan harga BBM dari Rp. 6.000,-/liter menjadi Rp. 4.500,-/liter.
Seharusnya, penurunan harga BBM bisa mencapai setidaknya kisaran harga Rp. 2.500,-/liter.
Dilain sisi, kenyataan di lapangan yang terjadi memperlihatkan bahwa penurunan harga BBM ternyata tidak diikuti oleh penurunan tarif transportasi angkutan. Akibatnya ini juga berdampak pada harga-harga bahan pokok lain yang juga tidak mengalami penurunan harga.
Hal ini memperlihatkan betapa lagi-lagi terjadi pembodohan publik yang dilakukan oleh elit politik dengan menghalalkan segala cara termasuk melalui iklan-iklan politik yang ilusif dan manipulatif hanya untuk sekedar mendapatkan suara sebanyak-banyaknya pada Pemilu yang akan datang.
Akankah hal ini akan terus berulang?
Sampai kapan hal seperti ini akan terus berlangsung?
Hanya kita……, rakyat yang bisa menjawabnya……
Popularity: 1% [?]













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)








whoah.. ternyata begitu yah? aku baru tau :( emang ga sesuai banget tuh.. pake rumus aja.. jauh banget .. hix hix.. yah begitu lah..
—————–
Ya itulah nasib rakyat yang selalu dijadikan korban pembodohan oleh elit politik… Tabik.. :)
whoah.. ternyata begitu yah? aku baru tau :( emang ga sesuai banget tuh.. pake rumus aja.. jauh banget .. hix hix.. yah begitu lah..
—————–
Ya itulah nasib rakyat yang selalu dijadikan korban pembodohan oleh elit politik… Tabik.. :)
makanya Megawati Soekarnoputri gerah dan meminta PD menarik iklan menyesatkan itu.. :)
mari kita duduk manis saja.. menonton dari depan televisi.. betapa pesta demokrasi kita membodohkan Indonesia dan menghabiskan duit rakyat..
mereka akan saling berebut simpati..
yang satu mengusung topeng seolah dia yang menjadi pahlawan perbaikan ekonomi Indonesia..
yang satu tenang2 aja dengan posisi wakil..
yang satu lagi bawa2 nama ibu2 Indonesia..
Kita tonton saja mereka.. menertawai lewat dunia maya..
:)
—————-
Ingin rasanya bisa duduk manis melihat panggung politik yang sedang mementaskan sebuah komedi satir tentang kekuasaan.
Namun malu rasanya ketika kita sadar bahwa apa yang mereka lakukan dan sedang terjadi saat ini ternyata mempertaruhkan masa depan kita -rakyat- para penonton.
Sedang kita yang masa depannya sedang dipertaruhkan cuma duduk manis saja menonton sambil tertawa-tawa.
Ironis bukan?
Tabik… :(
makanya Megawati Soekarnoputri gerah dan meminta PD menarik iklan menyesatkan itu.. :)
mari kita duduk manis saja.. menonton dari depan televisi.. betapa pesta demokrasi kita membodohkan Indonesia dan menghabiskan duit rakyat..
mereka akan saling berebut simpati..
yang satu mengusung topeng seolah dia yang menjadi pahlawan perbaikan ekonomi Indonesia..
yang satu tenang2 aja dengan posisi wakil..
yang satu lagi bawa2 nama ibu2 Indonesia..
Kita tonton saja mereka.. menertawai lewat dunia maya..
:)
—————-
Ingin rasanya bisa duduk manis melihat panggung politik yang sedang mementaskan sebuah komedi satir tentang kekuasaan.
Namun malu rasanya ketika kita sadar bahwa apa yang mereka lakukan dan sedang terjadi saat ini ternyata mempertaruhkan masa depan kita -rakyat- para penonton.
Sedang kita yang masa depannya sedang dipertaruhkan cuma duduk manis saja menonton sambil tertawa-tawa.
Ironis bukan?
Tabik… :(
iklan2 seperti itu malah membuat saya malas menonton TV lokal hehe
—————-
Wah sama… Saya dan keluarga sudah sejak lama tidak nonton TV lokal. Masih lebih menarik Animal Planet ketimbang iklan politiknya Partai Politik.
Tabik… :)