Memasuki tahun 2009 terasa sekali aroma PEMILU semakin kental terasa, tensi politik semakin meninggi. Semua pihak yang ingin ikut balapan kekuasaan sudah melakukan berbagai pemanasan untuk menguji kehandalan mesin politiknya masing-masing.
Dari yang mulai menaikkan frekuensi pemunculan di media massa dengan bersembunyi dibalik iklan-iklan layanan masyarakat, hingga pengerahan aksi massa besar-besaran dengan menunggangi issue serangan Israel ke Palestina. Ada juga yang diuntungkan dengan turunnya harga minyak dunia dimanfaatkan dengan menurunkan harga BBM untuk mendapatkan simpati rakyat demi meraih perolehan suara. Setelah Pemilu harga dinaikkan disesuaikan lagi, itu mah kumaha ngke wae.., urusan nanti. Bahkan ada yang sibuk road show ke pesantren-pesantren untuk dapat dukungan Kyai-Kyai yang punya banyak jama’ah. Pokoknya seru dan ramai judulnya.
Tapi yang tak kalah seru juga adalah barisan supporter yang ramai menjagokan pembalapnya masing-masing untuk jadi juara Pemilu menerima trophy kepresidenan. Berbagai argumen dengan analisanya muncul saling silang di berbagai forum, mulai dari obrolan warung kopi, caffe-caffe di mal, hotel hingga postingan di berbagai blog. Apalagi seringkali supporter lebih galak dan emosian ketimbang pemainnya sehingga kondisi suhu di luar lapangan lebih panas ketimbang di dalam lapangan.
Ada juga sich yang apatis dan lebih ingin menggunakan hak pilihnya untuk tidak memilih. Yang satu ini walaupun tidak heboh tapi jumlahnya cukup menawan hati sampai-sampai ada yang kuatir tidak dapat suara, meminta MUI mengeluarkan fatwa bahwa GOLPUT itu haram. Aneh bin ajaib…
Intinya.., setuju atau tidak setuju.., memilih atau tidak memilih…, Pemilu tetap menjadi medan magnit yang mampu menjajah ruang kesadaran publik. Semuanya berangkat dengan asumsi yang sama, PEMILU adalah sesuatu yang wajib, harus, kudu dan mesti terlaksana. Karena semua berpikir dengan logika linear yang selalu menempatkan b setelah a, c setelah b, dan begitu seterusnya. Padahal alam sangat akrab dengan kondisi anomali dimana ada hal-hal yang muncul diluar kecenderungan yang ada. Hujan di musim kemarau adalah salah satu bentuk anomali alam yang biasa ditemui.
Lalu bagaimana seandainya terjadi anomali dimana Pemilu gagal?, terlepas apakah kegagalan itu terjadi di awal ataupun di akhir tetap saja gagal. Tentu saja karena namanya juga anomali maka alasan mengapa Pemilu gagal menjadi tidak penting.
Bukankah Pemilu adalah sebuah panggung politik yang bisa saja berisi tontonan komedi, melodrama, horror, pentas musik atau apapun namanya? Namun jangan lupa, kadangkala panggungnya bisa juga roboh dan tontonanpun terhenti, penonton panik dan chaos pun terjadi. Penonton berebutan keluar ada yang jatuh terinjak-injak atau malah tertimpa panggung yang roboh. Akhirnya korban jiwa pun berjatuhan…
Ketika tersadar, semuanya sudah terlambat..
Popularity: 1% [?]












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
Like





incumbent diuntungkan pastinya, trus rebutan status quo, wah asik juga…. harus mendatangkan wasit jiakaka…, tapi tentunya sudah ada yang siap juga untuk mengambil kesempatan…
—————-
Komentarnya kayak reportase Piala Dunia Sepak Bola… Wkwkwkwkwk… Seru!!! Ramai!!! Tegang!!!
Tinggal kita tunggu siap yang akan nyalip di tikungan terakhir menjelang finish… Halaaahhh…, ini sepak bola apa balapan F1??? buahahahaha…
incumbent diuntungkan pastinya, trus rebutan status quo, wah asik juga…. harus mendatangkan wasit jiakaka…, tapi tentunya sudah ada yang siap juga untuk mengambil kesempatan…
—————-
Komentarnya kayak reportase Piala Dunia Sepak Bola… Wkwkwkwkwk… Seru!!! Ramai!!! Tegang!!!
Tinggal kita tunggu siap yang akan nyalip di tikungan terakhir menjelang finish… Halaaahhh…, ini sepak bola apa balapan F1??? buahahahaha…