bangkit berjuang demi masa depan!!! atau diam.., mati tergilas roda sejarah!!!
Friday 10 February 2012
bebas untuk di-copas asal mencantumkan sumber aslinya
Bookmark and Share

    Translate to:

Edition

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Toko Buku Online
SocioDistro
kutubukuGunakan kode ini K1-F9Y299-4
untuk berbelanja di KutuBuku.com

AMANAT GALUNGGUNG PRABU GURU DHARMASIKSA (Bagian 3 dari 4)

cangkuang-2Sinopsis Pengantar

Kisah ini berawal dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang keberadaannya ditengarai sejak awal abad 8M seperti yang tercatat dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Adalah Rahyang Sempakwaja Penguasa Galunggung, sang ayahanda, yang mendudukkan Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M) menjadi raja di Saunggalah I.

Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan”AJARAN”-nya. Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, 122 tahun!) yang nantinya kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya.

Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan Hidup/ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. Naskah yang dikenal sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG atau disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) diidentifikasi sebagai KROPAK No.632, yang ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar dimana terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna. Naskah ini kemudian lebih dikenal sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA”.

HALAMAN 7
Pegangan Hidup:

Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran.
Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia.
Itulah manusia yang mulia.
Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan.
Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya.
Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya.
Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.

Perilaku Yang Positif:

Tekad, ucapan dan tindakan haruslah bijaksana.
Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada.

Kandungan Nilai:

Manusia yang mulia itu adalah yang taat melaksanakan agama/ajaran dan mempererat silaturahmi dengan sesama orang.
Dalam pemahaman budaya Sunda, yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja/berkarya.
Etika dan tatakrama dalam bermasyarakat perlu digunakan.

HALAMAN 8
Pegangan Hidup:

Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri.
Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.
Tidak benar pula bila kita bekerja hanya karena ingin dipuji orang.
Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.
Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.
Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri.
Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.

Perilaku Yang Positif:
Yang disebut berkemampuan itu adalah:

Harus cekatan, terampil, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, s perwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu inward looking untuk melakukan refleksi, introspeksi dan retrospeksi.
Jangan menyalahkan orang lain.
Berkerja harus ikhlas jangan karena ingin dipuji orang.
Orang yang mulia itu adalah orang yang bekerja/beramal/berkarya.
Kejujuran dan kebenaran ada di dalam diri pribadi, itu adalah hati nurani.
Manusia yang mulia itu adalah mereka yang mempunyai kualitas kemanusiaan prima.

HALAMAN 9
Pegangan Hidup:

Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.

Perilaku Yang Negatif:
Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung/barbarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalau berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hat, rumit mengesalkan, aib dan ista.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu menyadari keadaan dirinya.
Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif.
Karater yang negatif membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

HALAMAN 10
Pegangan Hidup:

Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.
Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.
Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.
Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.
Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.

Kandungan Nilai:

Minta dikasihani orang itu adalah tercela.
Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang bernas.
Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.

(Bersambung….)

2 people like this post.

Popularity: 3% [?]

Reader Feedback

10 Responses to “AMANAT GALUNGGUNG PRABU GURU DHARMASIKSA (Bagian 3 dari 4)”

  1. suryaden says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    salut deh, ilmu dan panduan yang tak lekang dimakan jaman… berlaku sampae sekarang dan masih up to date… Joss…
    —————-

    Iya Kang…, ajarannya masih up to date. Tapi manusianya dah banyak yang melupakan. Saya yakin kalau ajaran leluhur masih dijalankan, kondisinya tidak akan carut marut seperti sekarang ini… ;)

  2. bagusweda says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    luaaar biasa, sesungguhnya orang berilmu adalah seperti ilmu padi dan janur semakin berat makin semakin merunduk .semoga pegangan hidup ini dapat dibaca oleh para pemimpin kita dan caleg -caleg yang akan duduk di senayan. marilah bekerja keras,kreatip dansemua dilakukan hanya semata-mata sebagai manusia ciptaanNYa dengan penuh iklas dan semua hasil diserahkan ke padaNYa.
    —————-

    Amien 3X… Semoga !!! :)

  3. dMid says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    komen sek, mocoe kari, durung moco seng sak durunge.. (lmao) —————-

    Sudah agak benar…., komeng dulu baru baca… Wkwkwkwk… :D

  4. Mikekono says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    postingan bro ini
    sungguh memikat dan inspiring
    benar sekali, manusia
    yang baik ialah mereka
    yang selalu memberi manfaat
    bagi orang lain….
    dengan bekal ilmu dan
    sikap welas asih yang dimilikinya
    thanks bro :)
    —————.

    Lama gak berkunjung Bro saya yang satu ini… Sibuk kali nampaknya menjelang hari-hari akhir pencontrengan… Wkwkwkwk… :D
    Sukses dan tetap semangat ya Bro… Tabik… :)

  5. Xitalho says:
    Browser Unknown Unknown OS Unknown Unknown

    Semakin gayeng wae ki nongkrong di sini…. ojo mbok usir sik yo mas…. tak moco kanthi seksama….

    weks… jenenge sangar men ..? Rahyang Sempakwaja ..hemm.. sempaknya aja dari baja,… ekekekek

    BTW nice post mas…. trims..
    —————-

    Monggo dipun sekecoaken (Silakan, enjoy yoursef)… ambil posisi masing2… arep turon2 (mau tidur2an)…, lesehan (duduk2 santai)…, njengking (nungging)… Sak kepenake (seenaknya aja)…

    Kopi.., teh.., jajan pasar.., udud (rokok).. sudah tersedia… (di warung sebelah… wkwkwkwkwk… :D)

    Orang2 jaman biyen (dulu) kalau ngasih nama itu gak sembarangan dan mengandung arti yang sangat filosofis tanpa perlu import nama-nama dari manca negara…

    Matur nuwun (terima kasih) sudah mampir… :)

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

Spam protection by WP Captcha-Free

itempoeti


Search Engine Submission - AddMe
UA-11099112-1