Di tengah carut marutnya ekonomi dunia serta bertepatan dengan akan segera diselenggarakannya perhelatan demokrasi Pemilu 2009, perlu rasanya kita membawa memory kolektif untuk sejenak menengok kembali jauh ke masa silam. Masa dimana kemanusiaan masih diwarnai oleh kesejatian yang menjunjung tinggi dan memegang teguh nilai dan adab yang telah diwariskan oleh para karuhun dan pepunden.
Petuah dan pitutur yang diajarkan oleh para karuhun dan pepunden layak untuk dihadirkan kembali sebagai sebuah proses refleksi dan retrospeksi guna menemukan kembali nilai dan adab kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang saat ini telah tergerus oleh nafsu penghambaan keduniawian.
—000—
Kisah ini berawal dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang keberadaannya ditengarai sejak awal abad 8M seperti yang tercatat dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Adalah Rahyang Sempakwaja Penguasa Galunggung, sang ayahanda, yang mendudukkan Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M) menjadi raja di Saunggalah I.
Penyebutan gelar Resiguru dalam sejarah Sunda hanya diberikan kepada tiga orang tokoh, yaitu Resiguru Manikmaya (Raja di Kendan, 536-568M), Resiguru Demunawan (di Saunggalah I/Kuningan, awal abad 8M) dan Resiguru Niskala Wastu Kancana (Raja di Kawali, 1371-1475M). Resiguru adalah gelar yang sangat terhormat bagi seorang raja yang telah membuat/menurunkan suatu “AJARAN” (philosophy grondslag, the way of live) yang menjadi pedoman hidup bagi keturunannya.
Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan”AJARAN”-nya. Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, 122 tahun!) yang nantinya kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya.
Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (persisnya sekarang di desa Ciherang, Kec. Kadugede, Kab. Kuningan selama beberapa tahun) yang selanjutnya diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana?).
—000–
Setelah Prabuguru Darmasiksa hijrah ke Saunggalah II (sekarang daerah Mangunreja di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya), kerajaan lalu diserahkan kepada putranya yang bernama Prabu Ragasuci. Adapun Prabuguru Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Karajaan Sunda (Pakuan) sampai akhir hayatnya.
Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan Hidup/ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. Naskah yang dikenal sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG atau disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) diidentifikasi sebagai KROPAK No.632, yang ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar dimana terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna. Naskah ini kemudian lebih dikenal sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA”.
—000—
Amanat Prabuguru Darmasiksa dirangkum dari setiap halaman yang diberi nomor sesuai dengan terjemahan Saleh Danasasmita dkk, 1987.
Sistematika rangkuman tersebut terbagi dalam 4 point:
• Amanat yang bersifat pegangan hidup /cecekelan hirup.
• Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafikan “ulah” (jangan).
• Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif “kudu” (harus).
• Kandungan nilai, sebagai interpretasi penulis.
AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA
HALAMAN 1
Pegangan Hidup:
Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya.
Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.
Kandungan Nilai:
Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus menghormati/mengetahui siapa para leluhur kita. Ini kesadaran akan sejarah diri.
Mengisyaratkan pula kesadaran untuk menjaga kualitas keturunannya dan seluruh insan-insan masyarakatnya.
HALAMAN 2
Pegangan Hidup:
Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.
Perilaku Yang Negatif:
Jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus.
Jangan menikah dengan saudara.
Jangan membunuh yang tidak berdosa.
Jangan merampas hak orang lain.
Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah.
Jangan saling mencurigai.
Kandungan Nilai:
Sebagai suatu bangsa harus tetap waspada, tidak boleh lengah jangan sampai kekuasaan dan kemuliaan kita/Nusantara direbut/didominasi oleh orang asing.
Kebenaran bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diaktualisasikan.
Pernikahan dengan saudara dekat tidak sehat.
Segala sesuatu harus mengandung nilai moral.
Popularity: 7% [?]












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)








weleh weleehh
ngungkuli pelajaran sejarah waktu SMA tho..
—————-
Nang SMA malah ra entuk pelajaran koyo ngene iki…
oke sangkan paraning dumadi kelas satu SD …
ditunggu lanjutannya…
—————-
Soalnya justru sudah banyak yang lupa pelajaran kelas satu SD… Jadi harus di refresh lagi… Gituuu Kang…
budaya adalah peluru berbalut madu
kini kita tinggal gembung mlaku pating bilulung
—————
yaaaa… pancen wis tumekan titi wancine… sopo sing nandur yo kuwi sing ngunduh… ngunduh wohing pakartine dewe-dewe…
hmm.. jadi pengen pulaaaang… waaaaah Tasikmalayaaa… kangen neeeh… salam buat mBaaah Galunggung yaaaa… hehehe… *manggut manggut*… *muka nunduk*… panggil becaaaaak pulang ke Tasik…
Salam Sayang
—————
mampir heula Kang di bumina abdi… di Bandung tea… diantos Kang… nuhun… :)
Petuah-petuah tadi di dunia persilatan Cimande Bogor sampai sekarang masih dijalankan sebelum generasi muda belajar ilmu silat. Total ada 14 Amanat Pusaka karuhun, diantaranya: Harus Taat patuh ka Allah, ka Rosul, patuh ka Ibu Bapak dan Guru. Jangan Ujub Ria Takabur, Jangan Bohong Nyolong mipit kudu amit ngala kudu menta. Jangan mabok dan Judi. jangan Jinah jeung ngaganggu istri batur. Kudu ngalobakeun siraturahmi dll……
Hayu urang Sunda, mun Ngaraku urang sunda. Kundu boga jati diri atuh. Urang diajar deui elmu karuhun. Hayu urang diajar silat deui. Sabab jaman mah bakal muter, ayeuna jaman aman ngke jaga bakal panggih deui jeung jaman perang, kaalamanana mah ku anak incu urang, siapkeun anak incu urang supaya jadi jalma karuat lahir batinna, saroleh, nyaah ka karuhun. Hayu……..anak incu nu geus lahir atawa acan borojol ti urang sunda, urang nyiar elmu pangaweruh…… keur bekel aranjeun jaga tepakeun deui ka anak incu anjeun engke jaga…………………
————–
hatur nuhun… tos diingatkeun… :)
salam kenal
salam bwat mbah galunggung
—————
salam kenal jugaaa…. :)
Ngelirik WULANG~WURUK
” Jangan MEMBUNUH yang tak BERDOSA ”
Hiiiiii…ini termasuk MEMBUNUH Hewan juga yah..???.
Dan konon kabarnya,
Pemanasan GLOBAL salah satunya adalah karena pengaruh banyaknya Manusia MENGKONSUMSI ” Hewan “…nah..loh…
GATHUK juga dengan Pesan di atas….
Salam kenal
hewannya makin berkurang karena habis dimakan… manusianya jadi tambah banyak…
kesimpulannya.., hewannya jadi manusia semua… wakakakakakak…