Setelah membaca berbagai komentar atas tulisan saya yang berjudul “Ideologi dan Perkembangannya“, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian terkait dengan kontestasi ideologi. Pertama, tentang Earth Summit 1992 memang perlu ruang diskursus tersendiri untuk bisa melihat korelasi langsung dengan adanya kenyataan munculnya kapitalisme dan liberalisme sebagai mono ideologi dunia. Namun ada cukup keyakinan apabila dilakukan elaborasi yang komprehensif terhadap Agenda 21 yang menjadi kesepakatan pada Earth Summit 1992, akan terlihat betapa kontestasi ideologi sudah usai.
Sebagai tambahan, perlu juga dicatat adanya langkah-langkah yang juga dilakukan oleh World Economic Forum yang bermarkas di Davos, memperlihatkan adanya sinergisitas dengan Agenda 21 dalam upaya konsolidasi kapitalisme-liberalisme di seluruh dunia. Ini makin memperkuat analisis bahwa kontestasi ideologi sudah tamat.
Kedua, memang tak bisa dipungkiri atas munculnya fenomena yang terjadi di Venezuela, Bolivia dan Iran yang memperlihatkan adanya anomali atas kecenderungan global yang terjadi. Apa yang dilakukan oleh Hugo Rafael Chávez Frías, Juan Evo Morales Ayma dan Mahmoud Ahmadinejad, adalah sesuatu yang jelas-jelas berhadap-hadapan secara diametral dengan kapitalisme-liberalisme. Namun perlawanan yang dilakukan oleh ketiganya adalah perlawanan yang berangkat dari suatu perlawanan yang lebih bersifat kultural dengan berpijak pada kearifan lokal sebagai modal sosial. Chaves dan Morales adalah symbol dari perlawanan pribumi amerika kaum Indian yang sudah sejak lama tertindas sejak terjadinya eksodus orang-orang Eropa ke Amerika. Ahmadinejad sendiri mewarisi sejarah panjang revolusi Iran yang dicetuskan oleh Imam Khomeini yang memang anti barat.
Ketiga, ini makin memberikan keyakinan bahwa solusi terhadap persoalan Indonesia tidak bisa lagi berorientasi pada outward looking, namun sepatutnya lebih berorientasi pada inward looking. Bahwa di dalam proses inward looking kemudian ditemukan kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai universal, justru akan membuat kearifan lokal tidak terperosok menjadi sebuah gagasan puritan yang penuh kejumudan. Proses thesis, antithesis dan synthesis tetap akan terjadi sebagai sebuah keniscayaan dialektis.
Kearifan lokal akan ter-revitalisasi untuk menemukan ruang ekpresi baru yang lebih up to date sesuai dengan kondisi obyektif jamannya. Dia mampu meng-absorp universalitas tanpa harus terjajah olehnya. Dia menjadi sesuatu yang sublim dalam sebuah proses interaksi yang dialektis. Kearifan lokal juga mampu membebaskan diri dari premis ‘kiri’ maupun ‘kanan’, ‘kapitalisme’ maupun ‘komunisme’ yang dibangun oleh paradigma pemikiran barat.
Keempat, tentang adanya semangat dan keinginan untuk menggali dan merevitalisasi Pancasila perlu mendapatkan dukungan yang serius dari semua kalangan tanpa terkecuali sebagai upaya penemuan kembali kearifan lokal untuk menemukan jawaban atas persoalan-persoalan kerakyatan dan kebangsaan. Gagasan nilai-nilai yang ada pada Pancasila adalah sebuah bukti betapa kearifan lokal mampu diformulasikan dalam notasi-notasi yang universal.
Maka tak heran, apabila barat –kapitalisme dan komunisme—merasa terancam tatkala Soekarno berpidato di hadapan Sidang Umum PBB dengan melakukan kritik terbuka terhadap kapitalisme dan komunisme, dan menawarkan Pancasila sebagai ideologi dunia. Kritik Soekarno atas kapitalisme dan komunisme itu pulalah yang membuat Soekarno akhirnya memutuskan agar Indonesia keluar dari PBB yang pada waktu itu saja sudah menjadi alat kepentingan kapitalisme dan komunisme.
Di sisi lain, tawaran Soekarno ternyata mendapat sambutan baik dari Negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin sehingga melahirkan KTT Asia Afrika dan gerakan Nonblok. Pemisahan yang dilakukan dengan memperjelas garis demarkasi antara Oldefos (Old Emerging Forces) dan Nefos (New Emerging Forces) melalui CONEFO dan GANEFO adalah bentuk pembebasan diri atas hegemoni Kapitalisme dan Komunisme.
Penggulingan Soekarno pada tahun 1965 adalah produk dari operasi intelijen CIA melalui para komprador dan antek-anteknya di Indonesia agar Pancasila tidak muncul sebagai ‘The Third Way‘ atas premis kapitalisme dan komunisme yang mereka skenariokan. Demikian pula penyelewengan Pancasila yang dilakukan oleh rezim Orde Baru adalah pesanan para majikan untuk membangkitkan sentimen rakyat agar anti terhadap Pancasila dan menggiringnya pada pilihan kapitalisme atau komunisme.
Paparan diatas hanyalah sedikit kilas balik masa lalu untuk menyegarkan kembali memori kolektif kita atas jejak intelektual yang pernah ditinggalkan para pendahulu bangsa ini. Tentu saja diskursus ini tak mungkin dituntaskan melalui polemik di ruang publik yang penuh keterbatasan.
Perlu ada kesungguhan niat disertai ketersediaan ruang, waktu dan energy untuk menyelesaikan diskursus ini agar tidak hanya menjadi sekedar senggama semu yang berujung pada onani intelektual.
Bandung, 3 Desember 2008.
Popularity: 2% [?]
- kearifan lokal (12)
- revitalisasi kearifan pancasila (5)
- revitalisasi kearifan lokal (2)
- ideologi sila ke empat (2)
- pemikiran juan evo morales (1)
- pancasila dan kearifan lokal (1)
- pancasila budaya impor (1)
- nefos oldefos menurut soekarno (1)
- munculnya gagasan kearifan lokal (1)
- menghidupkan kearifan lokal (1)












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
Like





kata-kata kunci:
KEARIFAN LOKAL
MEMORI KOLEKTIF
PANCASILA
Hmmm…
Soal revitalisasi (menghidupkan kembali?) Pancasila…setuju !!! Fasilitasi aja om.
Bicara revitalisasi Pancasila berarti bicara:
1. sejarah bangsa
2. sejarah Pancasila
3. akar budaya bangsa
4. kearifan lokal pendiri bangsa
5. mortalitas Pancasila (pernah mati? atau mati suri?)
6. anti-kolonialisme
7. anti-grand narative (kapitalisme)
8. postmodernisme
…
Dari mana mulainya?
Saya rasa sangkan parannya Pancasila bisa kita lacak dari sejarah perumusan Pancasila itu sendiri. Tawaran-tawaran pendiri bangsa ini dalam menyusun dasar negara perlu kita cermati kembali. Pilihan-pilihan urutan Pancasila perlu kita telaah kembali (bukan berarti urutan itu perlu kita susun kembali, tapi semangat dari tiap urutan yang ditawarkan pendiri bangsa perlu kita resapi). Misalnya, tawaran Bung Karno yang menempatkan sila ketuhanan sebagai urutan terakhir, saya rasa bukan ‘merendahkan agama’, tapi justru merupakan puncak perjalanan spiritual bangsa, setelah aksi-aksi kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, hubungan sosial dijalani.
Salam.
—————-
Cara pengurutan Pancasila harus didekati secara deduktif maupun induktif.
Pemahamannya harus dimulai dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dstnya. Karena Ketuhanan YME adalah prinsip dasar pertama.
Namun dalam implementasinya, harus dibalik urutannya. Dimulai dengan Keadilan Sosial, lalu dilanjutkan dengan Kerakyatan, Persatuan, Kemanusiaan dan terakhir Ketuhanan YME sebagai fondasi yang terletak Paling bawah sebagai fondasi yang menopang seluruh bangunan sila diatasnya.
Untuk bahasan secara komprehensif tentu diperlukan ruang dan waktu yang lebih khusus dan khidmat untuk membahas secara komprehensif.
Saya tunggu undangannya… Tabik… :)