Salah seorang dari Wali Sanga yang terkenal yaitu Sunan Kalijaga pernah mengatakan, “Orang Tani itu soko gurunya Negara.” “Jika petani hancur maka Negara juga akan hancur.”
Kanjeng Sunan tentu memiliki alasan dan argumentasi dalam mengeluarkan pernyataan tersebut. Apapun alasan dan argumentasinya, tentunya beliau tidak mendasari pernyataan tersebut karena mengingat besarnya jumlah penduduk yang menjadi petani adalah pemilih potensial yang akan memilih Kanjeng Sunan sebagai Presiden.
Namun, dalam konteks kekinian dimana demokrasi politik mensyaratkan adanya pemilihan langsung Presiden oleh rakyat. Tentunya secara kontekstual pernyataan tersebut bisa dimaknai oleh para calon Presiden untuk semaksimal mungkin melakukan gerakan politik secara dini demi meraih perolehan suara dari para petani yang saat ini menurut BPS jumlahnya 25,6 juta KK.
Maka menjadi wajar jika saat ini para calon Presiden berupaya untuk berburu suara petani sebagai modal politik untuk pemenangan Pemilu 2009 dengan berbagai cara tentunya. Mulai dari menjadikan diri Ketua Umum HKTI, ataupun melalui iklan layanan masyarakat di televisi sebagai upaya pencitraan, sampai dengan bagi-bagi benih seperti halnya dengan proyek benih padi Super Toy HL-2 yang menghebohkan baru-baru ini.
Alih-alih mau dapat dukungan suara petani, malah dimaki petani akibat gagal panen karena padinya puso.
Peristiwa tersebut jika dilihat dengan kejernihan akal sehat dan budi nurani kemanusiaan, sesungguhnya sangat tidak menghebohkan mengingat apa yang terjadi tentu bukan tanpa sebab. Penyebab pertama adalah soal motivasi. Motivasi atau niat dari apa yang dilakukan tidak murni semata-mata diikhlaskan untuk kemaslahatan petani. Namun sebagai proyek politik yang diniatkan agar petani memberikan dukungan suaranya pada Pemilu 2009.
Penyebab kedua, karena targetnya jangka pendek untuk Pemilu 2009, maka konsep bagi-bagi benih itupun juga konsep jangka pendek. Yang terpenting sampai dengan waktunya nanti coblosan, petani merasa puas dan senang jika produknya meningkat. Sehingga logikanya dengan begitu akan memberikan dukungan suaranya pada saat Pemilu 2009.
Sederhana bukan ?!
Karena sesederhana itu, tentunya konsep itu tidak akan pernah memberikan solusi yang radikal atas masalah petani yang dari hari ke hari selalu terjerat hutang akibat makin tingginya biaya produksi di satu sisi, paradoks dengan hasil panen yang semakin menurun di sisi lain.
Belum lagi tata niaga beras yang dikuasai oleh para mafia pedagang beras yang dengan seenaknya memainkan harga beras untuk mengeruk margin keuntungan sebesar-besarnya sementara petani cuma hanya bisa menerima penghasilan sesuai dengan patokan harga dasar gabah kering.
Apalagi ketentuan dan aturan perundangan yang dibuat pemerintah selama ini memang tidak pernah berpihak pada kepentingan petani.
Yang lebih ironis, konsep bagi-bagi benih Super Toy HL-2, tidak pernah mendasarkan pada kondisi obyektif bahwa sesungguhnya telah terjadi kerusakan lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida dalam jangka panjang. Sehingga sehebat dan sebagus apapun benihnya, ketika media tanahnya sudah rusak akibat pupuk kimia dan pestisida, maka hasilnya tidak akan pernah meningkat bahkan akan terus menurun.
Sekedar gambaran, untuk memulihkan tanah yang sudah rusak akibat tercemar pupuk kimia dan pestisida, setidaknya membutuhkan waktu 7 (tujuh) tahun dengan menggunakan teknik composing (penggunaan kompos). Itupun lahan dalam posisi idle tidak boleh ditanami.
Deskripsi diatas disampaikan hanya sekedar sebagai petunjuk agar kita tidak heboh melihat kegagalan Super Toy HL-2 mengingat konsep yang ada memang cuma penggalan konsep yang tercecer untuk kepentingan jangka pendek.
Sekedar tips untuk para calon Presiden yang ingin mendapatkan perolehan suara dari petani, daripada bagi-bagi benih yang akhirnya puso, sebaiknya proyek politik penggalangan suara petani dilakukan dengan cara memulihkan lahan pertanian yang sudah rusak akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Setelah itu, bagikan benih sekaligus juga pupuk organik secara gratis kepada petani.
Jangan lupa juga dukungan dengan bantuan gratis berupa pengetahuan dan teknologi tepat guna serta berdaya guna baik cara bercocok tanam yang lebih efektif dan efisien sejak mulai dari pembenihan sampai penanganan dan pengolahan paska panen, tentunya tanpa meninggalkan kearifan lokal yang sangat menjunjung tinggi pemuliaan alam.
Semoga dengan begitu kita masih bisa mendengar dendang tembang “Ilir-ilir” gubahan Kanjeng Sunan Kalijaga yang dinyanyikan anak-anak desa dengan nada riang gembira, dan bukan dengan nada penuh ratapan isak tangis.
Bandung, Minggu, 28 September 2008
Popularity: 1% [?]












![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)

Like





pengen dadi petani aku kang. tapi aja nganti kapusan benih super toy
pengen dadi petani aku kang. tapi aja nganti kapusan benih super toy
opo meneh menjelang Pemilu, akeh sok ngapusi…
opo meneh menjelang Pemilu, akeh sok ngapusi…