Paus Benediktus XVI pada kuliah umum di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman yang diselenggarakan selasa, 12 September lalu mengutip dialog yang terjadi antara Kaisar Byzantine Manuel II Paleologus dengan seorang Persia terpelajar yang terjadi di Ankara, Turki pada 1391.
Paus dalam kesempatan itu mengatakan, “Tunjukkan kepadaku apa kabar baru yang dibawa Muhammad, dan kalian bakal menjumpai hal-hal yang tidak manusiawi, sebagaimana perintahnya menyebarkan dengan pedang agama yang dipeluknya,” mengutip apa yang dikatakan Manuel II.
Pernyataan tersebut kontan saja menimbulkan reaksi keras dari berbagai Negara islam dan kelompok-kelompok islam. Dari Lebanon, ulama senior Syiah Muhammad Hussein Fadlalah mendesak Paus untuk meminta maaf secara terbuka. “Kami tidak menerima permintaan maaf melalui saluran Vatikan dan ingin dia (Paus) meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada umat islam,” kata Fadlalah. Pernyataan senada dengan pernyataan Fadlalah datang dari Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah. Begitu pula dari ulama islam Sunni di Irak, yang bahkan mendesak pemerintahnya untuk mengusir duta besar Vatikan dari Irak.
Di Inggris, Ramadan Foundation yang berbasis di Rochdale, juga Ketua Komisi Nasionalitas untuk Minoritas di India Hamid Ansari juga menyampaikan ungkapan yang senada. Di Jakarta, Majelis Ulama Indonesia juga menyayangkan pernyataan itu. “Tidak layak ucapan itu keluar dari dari seorang Paus,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin (Koran Tempo, Sabtu, 16 September 2006). Berbagai komentar seperti di atas nampaknya masih akan terus bermunculan menyusul pernyataan kontroversial tersebut.
Kejadian paling mutakhir di atas menunjukkan betapa konflik keagamaan tidak pernah selesai dari waktu ke waktu. Pernyataan Ketua Komisi Nasional untuk Minoritas di India, ” Bahasa yang digunakan Paus mirip dengan sejawatnya pada abad ke-12 yang memerintahkan Perang Salib,” adalah sebuah indikasi bahwa konflik keagamaan seperti sebuah fenomena puncak gunung es.
Agama apapun itu, selalu mengarahkan manusia untuk hidup penuh dengan cinta kasih demi terciptanya kedamaian di muka bumi ini. Tidak ada satupun agama yang memerintahkan pengikutnya untuk membuat kekacauan dan kejahatan di muka bumi. Semua ajaran agama selalu menjadi antithesa dari kecenderungan manusia untuk menuruti nafsu serakah angkara murkanya. Seorang filsuf Yunani Plato sering menyebut manusia Animale Rasionale -hewan cerdas-.
Pada kenyataannya, dalam proses perjalanan waktu, agama pada akhirnya justru menjadi alat pembungkus untuk menjustifikasi dan melegitimasi nafsu serakah keangkaramurkaan yang dilakukan oleh manusia di berbagai belahan dunia. Perang Salib yang selama ini diyakini oleh banyak pihak sebagai perang agama, nyata-nyata adalah perang perebutan wilayah antara kerajaan Inggris Raya dengan kerajaan Ottoman untuk memperluas imperiumnya.
Dalam peperangan tersebut, kerajaan Inggris yang terdesak posisinya merasa perlu menggalang bantuan dari kerajaan-kerajaan lain di Eropa. Kerajaan Inggris berhasil meyakinkan kerajaan-kerajaan Eropa untuk menempatkan kerajaan Ottoman sebagai common enemy dengan memunculkan solidaritas kristiani di satu sisi dan memunculkan sentimen islam di sisi lain. Jadilah perang tersebut berubah menjadi perang antar agama.
Sejarah dunia juga mencatat dimulainya zaman Kolonialisme-Imperialisme Eropa seiring sejak terjadinya Revolusi Industri yang mendorong Negara-negara Eropa untuk mencari wilayah-wilayah baru yang kaya dengan potensi alam. Inilah awal dari pengiriman ekspedisi besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa dengan mengibarkan panji-panji Gold, Glory, dan Gospel sebagai basis legitimasi atas pengkaplingan yang mereka lakukan terhadap wilayah-wilayah jajahan baru yang tersebar di seluruh dunia.
Mereka selalu menyertakan Gospel dalam bentuk Missi atau Zending sebagai upaya ’syi’ar’ Kristiani (Protestan atau Katolik) untuk menjadi basis legitimasi dan justifikasi dari nafsu serakah angkara murkanya untuk menjajah dan mengeksploitasi manusia dengan segenap kekayaan alam wilayah jajahannya.
Di sisi lain, konflik ditubuh islam seusai kepemimpinan Khalifah Al-Rasyidun yang diakhiri dengan terjadinya perang Karbala antara kelompok pendukung Sayyidina Ali dan kelompok penentang Sayyidina Ali juga lebih disebabkan persoalan politik antara kelompok yang tetap ingin mempertahankan proses suksesi kepemimpinan ala Rasulullah yang tidak didasarkan atas garis keturunan (demokratis ?) dengan kelompok yang ingin mengembalikan kekuasaan kepemimpinan ke tangan para Sheikh-Sheikh/Emir-Emir yang menjadi Khalifah secara turun menurun (Feodal ?) seperti semasa sebelum Rasulullah. Konflik politik inilah yang kemudian melahirkan Syiah dan Sunni.
Di Nusantara, catatan menarik juga bisa dilihat dari konflik yang terjadi semasa Mataram kuno antara Wangsa Sanjaya yang Hindu dan Syailendra yang Budha hingga berakibat konflik di antara keduanya yang berujung hengkangnya Syailendra ke Sumatera yang kemudian melakukan unifikasi dengan kerajaan Sriwijaya.
Kasus yang paling mutakhir juga bisa dilihat dari konflik yang terjadi antara kerajaan Demak yang Islam dan kerajaan Majapahit yang Hindu-Budha. Ketidaksukaan Jim Bun (R. Patah) Raja Demak Binthoro dengan dukungan para Wali, terhadap Syekh Siti Jennar dan Ki Ageng Pengging semata-mata bukan karena ajaran Syekh Siti Jennar dianggap bid’ah (versi Demak). Namun lebih karena ketidaktundukkan Syekh Siti Jennar dan Ki Ageng Pengging kepada Demak. Sikap ini dianggap insubordinasi terhadap kekuasaan politik Demak dan dianggap sebagai benih perlawanan terhadap kekuasaan politik Demak. Walhasil Syekh Siti Jennar dan Ki Ageng Pengging harus dieliminasi.
Ajaran Jennar yang dianggap sebagai basis legitimasi dan simbol kelompok anti Demak harus distigma sebagai ajaran yang dianggap bid’ah. Sosok Syekh Siti Jennarpun sampai-sampai harus di-character assasinasi dengan menciptakan cerita mayatnya berubah menjadi bangkai anjing.
Semua kejadian itu seharusnya membuat kita selalu ingat dan waspada betapa agama sudah sering kali dijadikan alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi tindakan-tindakan politik yang dilakukan terhadap lawan-lawan politik.
Pernyataan kontroversial Paus Benediktus XVI yang disampaikan di tengah konflik Timur Tengah antara Israel versus Hamas, Amerika versus Irak dan juga versus Iran harus dilihat sebagai pernyataan politik dan bukan sebagai pernyataan keagamaan. Sehingga kita tidak lagi mengulang kebodohan yang sama, terjebak dengan konflik-konflik politik yang dikemas dengan sentimen kegamaan yang justru ditentang oleh ajaran agama itu sendiri.
Agama sebagai firman Tuhan adalah alat untuk menjadikan manusia mampu Hamemayu Ayuning Bawana Langgeng -menghiasi keindahan dunia agar lestari-, bukan dengan pertumpahan darah namun dengan semangat cinta kasih seperti yang diamanatkan dalam kalimat Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.
Popularity: 1% [?]













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)







wah diskusinya menarik…cuma sepertinya terlalu berat nih buat saya hahaha…
saya mungkin bukan orang yang kompeten untuk bicara agama atau politik karena bukan ahli di dua bidang tersebut.
mungkin cuma pendapat awam yang saya pikir bahwa memang ada gejala agama dijadikan “kedok” untuk segala macam konflik, penguasaan dan lain-lain. sebuah konflik bakal sangat memanas kalau membawa sentimen agama.
dalam kasus dakwah saya berpikir dakwah memang seharusnya dilakukan dengan damai. karena agama dasarnya adalah keimanan kepada Tuhan yang muncul dari hati nurani. dengan perang atau penguasaan agama memang bisa disebarkan namun hanya akan mendapatkan pemeluk-pemeluk yang keimanannya mungkin tidak ada terhadap konsep agama yang dibawa, karena bukan hati nurani mereka yang disentuh.
salam.
—————-
Tak perlu menjadi ahli untuk mengetahui soal politik maupun agama. Ini cuma sekedar bicara tentang kehidupan. Politik dan agama adalah juga bagian dari kehidupan… Sederhana kok…
Apalagi kehidupan seorang geRrilyawan… Tabik…
Saya ingat:
1. Ada dzikir SBY Nurus salam atau dzikir SBY apa gitu…,
2. Ada kmonuitas kyai kampung Gus Dur,
3. Ada simbol ka’bah,
4. Ada usulan fatwa haram golput,
5. Ada baitul muslimin PDIP,
6. Ada satgas ini dan itu…
mungkin masih banyak lagi yaaa
—————–
Memang begituyang ada saat ini Pak… Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan pesan.. Tabik… :)
walah urung tak eksplore tekan kene je mas,
wuahaha.. kalo iki asin tur puedes tenan, gebes-gebes ngantian lambene…,
rausah ditambahi asline wis dong, lah Islam ki lengkap tenan je, sampe bingung sendiri yang mencoba mentafsir-tafsirkan, cuman sayangnya nostalgia jaman nabi itu kadang tidak diresapi dengan lebih dalam dan dengan kebersihan hati, comot aja langsung praktek, ya jadinya yo salah kedaden…, setuju banget dengan Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng….
pancen saiki jaman edan,… isih bejo sing eling lan waspada…
——————
Hlaaaa piye…., dipun aturi mlebet kok malah ngajak ngobrol nang pager ngarep omah… Mbok yo monggo pinarak wonten lebet, dipun sekeco’aken..
Cirine jaman edan kuwi.., tunggak jarak merajak.., tunggak jati mati.. Isone mung nggawe tulisan nang blog… Wakakakakak…
Nuwun…. ;)
assalamualaikum..
ketika berkunjung pertama kali kesini, saya menjadi malu karena telah menulis post yang ’sok menggurui’ mengenai PKS. ternyata apa yang saya baca disini jauh lebih hebat! wawasan saya semakin terbuka karenanya..
melihat komentar2 diatas, ada yang ingin saya bagi dengan anda..
Suatu hari, saya bertanya kepada seorang teman.. Pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang juga sederhana:
Saya : Kalau memang ingin dakwah, kenapa harus lewat politik? koalisi sana sini demi suara?
Dia : Karna kalo cuma dengan dakwah biasa, susah.. Harus masuk ke sistem untuk bisa mengubah..
Apa benar seperti itu adanya? :) Entahlah.. itulah jawaban dari seorang kader PKS.
Mungkin niat PKS memang baik, untuk menciptakan masyarakat yang madani.. Tapi melihat semakin tercampurbaurnya niat bersih mereka dengan pelaksanaan yang tidak sesuai lagi, saya ragu bahwa mereka benar2 bersih dari tuduhan ‘mencampuradukkan agama dengan politik’ dan akhirnya menistakan agama yang jadi landasan mereka sendiri..
Maaf kalau komentarnya tidak berkenan dan terlalu sederhana.. hanya sedikit curahan hati dari Putri..
salam kenal,
Putri
—————-
Wallaikumsalam…
Salam kenal juga mbak…
Itulah selalu jawaban mereka untuk membenarkan tindakan mereka. Terlalu banyak kepalsuan dan kebohongan yang dilakukan atas nama agama dan dalil-dalil.
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Tabik…. :)
Salam kenal,
Aku pemula yg masih ragu-ragu,
Dan rada-rada golok “Ngeblog!”
Sorry!
Kutip:
Akar konflik yang sesungguhnya hanya satu,
Soal bagaimana bertahan hidup.
Dan untuk bertahan hidup,
Orang hanya perlu satu hal,
PANGAN.
Panganan tubuh!
Betul juge tuh!
Lahan jadi begitu penting diperluas,
Pasukan jadi penting diperberingas.
Tapi …,
Setelah semua tampak keren,
Pangan bertahan hidup sudah,
Perlu kelangsunganya tujuh turunan (minimal).
Maka,
Perlu ada ibu yg cantik jelita,
Baik budinya, santun dan jenius.
Utk itu, apa pun dipertaruhkan.
Termasuk bunu-bunuan!
Panganan jiwa!!
Bila kita runut kebelakang lagi-lagi,
Ke Kain dan Habil, ke Ishak dan Ismail,
Yah, sama saja!
Bunu-bunuan rebutan hebat di mata Allah.
Bunu-bunuan rebutan batu terdekat dgn Allah.
Panganan rohani!
Jadi,
Pangan yg dimaksud perlu tiga jenis,
Pangan tubuh, pangan jiwa, pangan roh!
Pengalaman bunu-bunuan terus berulang,
Janji-janji sorga terus berkumandang,
Pantun-pantun lama pun berkembang.
Seperti:
Kalah jadi abu,
Menang jadi arang,
Kayu bakar jadi abis,
Surga bisa jadi menganga,
Neraka jadi di ambang penuh!
Aku diem aja dulu, kali-kali …!
Salam Pikirtiga!
http://tertiga.wordpress.com/2009/02/19/makanan-pertumbuhan-tertiga/
Ralat:
Pada golok “Ngeblog”,
Kudu goblok “Ngeblog”.
“Go blog” is better lah!
—————-
Panganan tubuh…, panganan jiwa…, panganan roh…
Panganan raga…, panganan atma…, panganan sukma…
Pikir tiga + Rasa tiga
Salam kenal juga… :)