Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang sudah dilangsungkan dari tahun ke tahun sebanyak 61 kali selalu saja memantik memory kolektif kita untuk mencoba kembali bersetubuh dengan kilasan sejarah yang menyertainya demi menangkap suasana kebatinan yang terkandung di dalamnya.
Tulisan Roch Basuki Mangoenprojo (RBM) yang berjudul “Bung Karno Mencari Murid“, Kompas, 18 Agustus 2006, adalah sebuah bentuk pencarian atas kedahagaan bangsa ini untuk menemukan pemimpin-pemimpin sejati yang tidak hanya mampu mengentaskan negara bangsa ini dari berbagai persoalan yang dihadapinya saat ini, namun juga mampu membawa negara bangsa ini menjadi negara bangsa yang besar. Negara bangsa yang “jero tancepe, gedhe obore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adoh kuncarane, ampuh kawibawane”, “panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja”.
Dengan menggunakan landas pikir yang dikutip dari pidato Soekarno, “Beri aku sepuluh pemuda, dengan sepuluh pemuda akan kurubah dunia”, RBM mencoba memberikan justifikasi terhadap pentingnya kebangkitan generasi muda untuk tampil maju mengambil peran kepemimpinan demi melanjutkan apa yang sudah diperjuangkan Soekarno. Sayangnya, apa yang dimaksud dengan ‘murid’ pada tulisannya justru sama sekali jauh -kalaupun tidak bisa dikatakan paradoks-dari realita yang sesungguhnya. Ibarat panggang jauh dari apinya.
Memahami Soekarno
Memberikan sebuah kriteria tentang bagaimana seharusnya murid Soekarno tanpa memberikan penjelasan bagaimana caranya menjadi murid Soekarno, adalah sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Penggambaran tentang pentingnya secara rasional, “memahami api dari seluruh karakter BK dibalik ucapannya. Mampu menjabarkan dan mengaplikasikan jabaran itu sesuai dengan ruang dan waktu di situasi dan kondisi apapun demi kemaslahatan rakyat”, justru memperlihatkan ketidakmengertian RBM tentang pemikiran-pemikiran Soekarno.
Pemikiran-pemikiran Soekarno tidak cukup bisa hanya dipahami dengan membaca dan mendiskusikan tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya. Sebutlah buku Di bawah Bendera Revolusi I dan II sebagai basis rujukan pemikiran-pemikiran Soekarno, itupun tidak cukup mampu membawa siapapun yang membacanya untuk memahami kedalamannya. Belum lagi semakin sedikit sumber-sumber hidup yang tersisa untuk bisa ditanyai tentang apa dan bagaimana pemikiran-pemikiran Soekarno. Kalaupun ada, selain kebanyakan dari mereka sudah kehilangan memorinya akibat proses penuaan, merekapun memahaminya secara puritan dan dogmatis.
Selain sisi ‘rasional’, ada juga penggambaran tentang pentingnya sisi ‘emosional’ yang dilukiskan, “harus berani menghadapi tantangan apapun yang menghambat terwujudnya pemikiran BK, dengan konsekuen dan berkelanjutan”. “Dia adalah pemoeda konseptual, mampu menyinkronkan berpikir rasio dan emosi”. Pernyataan ini semakin menunjukkan ketidakpahaman bahwa sesungguhnya mental kejuangan tidak bisa dibentuk melalui proses kaderisasi formal. Mental kejuangan terbentuk melalui proses kawah candradimukanya perjuangan itu sendiri. Meminjam istilahnya Tan Malaka, “Terbentur-bentur terbentuk”, atau dalam terminologi Jawa menyebutnya, “Ngelmu isone kanthi laku..“.
Kesalahan pemahaman seperti yang terjadi pada RBM banyak sekali terjadi sekarang ini. Memahami pemikiran-pemikiran Soekarno juga harus disertai dengan pengetahuan tentang bagaimana seorang Soekarno melakoni hidupnya. Bisa dilihat bagaimana sikap kontroversial yang diambil oleh Soekarno untuk bekerjasama dengan Jepang bahkan menuai kecaman yang membuat Soekarno dituduh sebagai kolaborator Jepang, belum lagi skenario dibalik perseteruan Soekarno dengan tokoh DI/TII Kartosuwiryo –yang sama-sama berguru kepada HOS Cokroaminoto- masih diliputi kabut misteri yang tidak pernah terungkap secara jujur sebagai bagian dari dialektika sejarah.
Tanpa memahami romantika, dinamika dan dialektika perjalanan hidup Soekarno, pemikiran-pemikiran Soekarno tidak lebih dari sebuah wacana yang sering kali dikutip sekadar untuk komoditas politik demi membenarkan tindakan-tindakan politik yang justru bertentangan dengan pemikiran-pemikiran Soekarno itu sendiri. Pemikiran-pemikiran Soekarno adalah resultante dari sebuah proses pembentukan diri seorang Soekarno yang berdialektika dengan jamannya. Kalaupun teknologi kloning sudah mampu mengkloning seorang Soekarno, sudah pasti dijamin kloning Soekarno tidak serta-merta akan menjadi seperti Soekarno.
Anak-anak jaman
Soekarno, demikian pula Hatta, Tan Malaka dan Sutan Syahrir adalah anak-anak jamannya. Mereka dibentuk oleh jamannya dan mereka pula yang membentuk jamannya. Mereka tidak bisa diduplikasi dengan cara apapun. Mereka adalah guru bagi murid-muridnya yaitu kaum muda saat ini. Biarkan para murid ini belajar dari kesalahan para gurunya sebagaimana seharusnya, bukan malah justru menutupi dan mewarisi kesalahan-kesalahannya berikut dengan berbagai konflik didalamnya demi kepentingan kelompok dan golongannya.
Biarkan juga para murid ini belajar dari jamannya, jaman dimana kapitalisme sudah bermetamorfosa dalam wujud yang berbeda. Wujud humanis yang sekarang ini membalut keserakahan dan ketamakan yang masih tetap sama sejak dahulu kala seperti yang dilukiskan oleh H.P. Martin and H. Schuhmann dalam The Globalization Trap: The 20-80 Society, “The world model of the future follows the formula 20 to 80. The one-fifth society is brewing in which the excluded will be immobilized with “tittytainment“ –“Tittytainment”, Zbigniew Brzezinski, National Security advisor of US president Jimmy Carter explains, is a combination of “entertainment” and “tits”, the American slang for bosoms. Brzezinski thinks more of the milk streaming from the breast of a nursing mother than of sex. The frustrated population of the world could be kept happy with as mixture of numbing entertainment and adequate food–, 20 percent of the working age population will be enough in the coming century to keep the world economy going……“, “…… 80 percent will have enormous problems. The question in the future will be “to have lunch or be lunch”, to eat or be devoured“.
Jaman dimana bukan lagi hanya penjajahan politik dan ekonomi seperti yang dulu dilakukan oleh kaum Neo-Kolonialisme-Imperialisme (Nekolim), melainkan juga penjajahan budaya, imperialisme budaya, yang saat ini sudah menjadi bagian dari Posmo-Kolonialisme-Imperialisme. Jaman dimana yang ada adalah humanize-capitalism dan cyber-capitalism yang sudah lama menggantikan primitive-capitalism bahkan juga menggantikan turbo-capitalism.
Dalam menghadapi jaman yang senantiasa berubah, murid yang baik bukanlah murid yang hanya bisa mempelajari pengetahuan yang dimiliki gurunya, melainkan murid yang mampu mempelajari dan meneladani bagaimana cara gurunya berdialektika dengan jamannya untuk mendapatkan pengetahuannya. Karena perjuangan adalah resultante dari sebuah proses pembentukkan diri dalam berdialektika dengan jamannya. Siapapun pemuda yang akan muncul sebagai pemimpin, ia adalah seseorang yang original dan genuine dari jamannya, bukan photocopy atau hasil duplikasi dari pemimpin terdahulu. Pemimpin sejati tak pernah bisa diciptakan, karena ia muncul dari kawah candradimuka-nya perjuangan di tengah pergolakan jaman.
Jakarta, 18 Agustus 2006.
Popularity: 1% [?]













![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
Like




